
Ica duduk di taman rumahnya setelah memeluk bundanya dan sekedar menanyakan kabar. Ia juga berkata jujur soal dirinya yang sakit dan kesalahpahaman tentang bulan madu itu. Kemudian, ia menatap kosong ke depan. Sampai akhirnya matanya memandang sebuah ayunan satu-satunya yang ada di taman depan rumahnya. Ica menerawang jauh di mana ada kejadian yang membekas di ingatannya, di ayunan itu. Kemudian, setitik air mata tumpah saat mengingat waktu itu.
Ica ada di sana, mendengar semua percakapan antara Bayu dan Dirga. Setelah Bayu keluar dari ruangannya di jam yang bukan biasanya, Ica juga mengikuti Bayu. Ia hanya khawatir kalau ada pertemuan yang dirinya harus diikutkan karena merupakan sekretaris Bayu, tapi ia tak tahu sama sekali soal itu, dan Bayu juga tak memberitahukan Ica. Ia hanya mencoba menjalani profesinya dengan benar dan profesional. Namun, ia akhirnya tahu kenapa pertemuan ini dirinya tak diberitahu Bayu, tak diajak juga untuk ikut bersama Bayu. Bayu tahu kalau obrolannya dengan Dirga tak akan lancar, Bayu hanya ingin menyembunyikannya dari Ica. Dan benar, seluruh percakapan dari pertemuan itu tentang Caca, Bayu merahasiakannya dari Ica.
Sungguh sebuah percakapan yang Ica menyesal telah mendengarnya, telah Ica ketahui sebuah kebenaran dari obrolan mereka. Ia menyesal telah menguping pembicaraan dua bersaudara itu.
Menerima perjodohan ini adalah pilihan yang terbaik dan menguntungkan. Bayu pernah berkata begitu untuk meyakinkan Ica. Namun, siapa sangka makna yang lain tersirat di dalamnya. Bayu bukan benar-benar menerima perjodohan karena faktor umur dan kesiapan segala aspek untuk menikah, bukan juga hanya karena ingin dua perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar dari pernikahan dua anak dari perusahaan ini. Ada motif lain, suatu hal yang paling mempengaruhi Bayu tentang mengapa ia menerima perjodohan ini, ia menganggap perjodohan ini hanya sebagai pelarian, sesuatu yang terbaik dan menguntungkan untuk Bayu karena ia memang butuh pelarian dari Caca.
Di taman ini, apa yang Ica diskusikan berdua dengan Bayu sungguh menyentuh hati, hingga akhirnya setelah beranjak dari ayunan itu, Ica malah merubah keyakinannya untuk menerima perjodohan itu. Ica salah sudah menganggap semua omongan Bayu waktu itu terdengar tulus. Nyatanya, Bayu dapat bicara seperti itu, karena terbiasa bicara manis dan merupakan skillnya yang alami.
"Empat bulan menikah, apa harus diakhiri sekarang?" gumam Ica seraya menghapus air matanya.
"Pernikahan ini hanya sebuah pelarian bagi dia!" batin Ica bersisi iblis memprovokasi.
"Pastikan dulu kebenarannya dari Dirga dan Mas Bayu. Jangan buat keputusan begitu cepat. Dari dulu kamu nggak pernah berubah, Ca, terlalu terburu-buru mengambil keputusan, labil, dan tak punya pendirian. Mungkin kamu akan menyesalinya jika pernikahan ini diakhiri. Karena kamu telah melakukan hal ini dan itu dengan Bayu. Kamu udah nyaman sama dia sebagai istrinya. Bahkan kamu telah mendaratkan sebuah ciuman yang sama-sama merupakan ciuman pertama bagi kalian berdua," batin Ica yang bersisi malaikat menasehati.
Ica takut perasaan cintanya pada Bayu merupakan sebuah kesalahpahaman. Ia takut merasa harus mencintai suami sendiri, dan berani melakukan hal ini dan itu, yang tak pernah ia lakukan dengan pria lain. Ia bahkan ragu saat ini kalau dirinya memiliki perasaan cinta pada Bayu. Lagian, perasaan cinta sendiri begitu abstrak bagi Ica yang tak pernah pacaran atau bahkan jatuh cinta. Berbeda dengan Bayu yang sudah tahu pasti apa itu cinta, karena sudah berpengalaman mencintai seseorang.
"Mas Bayu, apa Mas cinta sama Ica?" tanya Ica lirih sambil menatap langit yang mulai menggelap karena akan hujan.
__ADS_1
...----------------...
Ica tak banyak bicara saat di rumah orangtuanya. Aura yang dipancarkan Ica seperti orang yang tak ingin diajak bicara. Manda dan Raka pun tak ingin bertanya macam-macam, ia takut malah membuat Ica tak nyaman. Mereka berpikir, bisa saja Ica ke sini untuk menenangkan dirinya dari hal yang mengganggu, jadi, jangan buat tempat ini dibenci oleh Ica dan tak dipercayainya lagi sebagai tempat menenangkan diri.
Ica berkunjung sampai setelah Isya, setelah selesai makan malam bersama dua orangtuanya. Manda sama sekali tak menyinggung soal Bayu yang tak hadir menyusul. Setelah merawat Ica saat sakit dari rumah, pasti banyak pekerjaan yang masih menumpuk. Mengunjungi rumah mertuanya pasti akan menghambat Bayu, pikir Manda.
"Ma, Pa, Ica bawa mobil ini boleh, kan? Mobil ini, kan, mobilnya Ica. Di rumah cuma ada satu mobil, dan itu mobilnya Mas Bayu yang selalu di bawa sama Mas Bayu. Dan kalau mau ke mana-mana, Ica nggak usah repot panggil supir sini, Ica bisa nyetir sendiri. Boleh, kan?"
"Iya, boleh sayang," respons Manda, dan Raka mengikuti dengan anggukan kepala.
Ica pulang dengan mengendarai mobil miliknya. Ia menerobos hujan dengan mobilnya. Saat di rumah, ia memasukkan mobilnya di area carporch, bersebelahan dengan mobil Bayu yang ternyata sudah terparkir lebih dulu. Membuka tutup pagar rumahnya pun Ica menerobos hujan. Padahal, selalu tersedia payung di mobilnya. Ia hanya ingin mendinginkan kepalanya dengan bersatu dengan air hujan deras yang membasahinya.
"Kenapa basah-basahan? Kamu tahu kamu baru sakit, kan? Kenapa nggak pakai payung? Kalau kamu pakai mobil, selalu ada payung di sana, kan? Dan lagi, kenapa kamu bawa mobil nggak bilang dulu ke saya? Kamu nggak mau ke kantor bareng saya lagi?" ujar Bayu tegas. Bukannya menyambut dengan handuk agar mengeringkan Ica, ia malah menyambut Ica dengan emosi negatif.
Ica tak menghiraukan ucapan Bayu, kemudian ia naik ke kamarnya dan segera ganti baju. Kemudian, ia masuk ke ranjangnya, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut untuk menghangatkan diri.
"Saya membelikan sate untuk kamu. Ada di bawah. Saya udah makan, tinggal kamu," ujar Bayu yang kemudian menyusul Ica setelah diabaikan oleh Ica dan menunggu Ica selesai ganti baju di kamar mandi.
Tampaknya, Ica tak menjawab ucapan Bayu lagi. Tidak ada juga reaksi apapun yang ditunjukkan dari tempat Ica berselimut itu.
__ADS_1
"Ica, saya bicara. Kenapa kamu diam?" ucap Bayu tegas.
"Raisa! Apa merespons saya sangat sulit untuk kamu lakukan?" Bayu mulai naik tensinya.
"Ica udah makan di rumah Bunda. Makasih!" jawab Ica cuek. Ia sebenarnya tak ingin menjawab, tapi jika panggilannya sudah dirubah menjadi Raisa lagi, ia hanya tak terima dan ingin memberontak.
"Ya udah kalau gitu, besok bisa kamu panaskan untuk sarapan. Kamu juga ke kantor pakai mobil sendiri, kan? Saya rasa sekarang jadi lebih efisien buat kamu mengatur waktu karena tak harus menyamai waktu saya. Tak terlalu terkekang juga karena tak harus menyupiri saya," ucap Bayu sarkas.
"Kamu apaan, sih? Siapa yang bakal bawa mobil ke sini kalau tadi perginya nggak sendiri? Jam malam gini supir udah pulang, dan Ayah Bunda udah capek banget, nggak mungkin juga Ica pulang sendirian naik ojol karena hujan, nggak mungkin juga naik taksi online karena Ica penakut kalau malam-malam di ruangan tertutup gitu sama orang lain, gimana nanti kalau supirnya cowok? Makanya nggak ada pilihan lain selain bawa mobil. Toh, Ica juga nggak mau ganggu kamu dengan minta jemput. Karena kamu udah bilang kalau pertemuan kamu itu pertemuan penting. Bahkan lebih penting, sampai nggak bisa nyusul ke rumah mertua sendiri. Caca memang paling penting di hidup kamu, nggak ada yang bisa ngalahin!" balas Ica tak mau kalah sarkasnya. Ia sudah membuka wajahnya dari selimut yang menutupi, agar ia bisa leluasa bicara. Agar mereka bisa berdebat dengan lancar juga.
"Darimana kamu tahu kalau saya menemui Caca?"
"Aku sekretaris kamu. Aku tahu semua jadwal kamu. Kamu nggak ada jadwal ketemu siapapun hari ini. Dan aku langsung tahu kalau itu Caca, pertemuan penting itu adalah menemui Caca! Sepenting itu Caca bagi kamu, Mas."
"Raisa, ini nggak seperti yang kamu pikirkan!"
"Raisa? Oke, nggak usah sebut saya lagi dengan sebutan Ica, atau singkatan Ca. Karena itu spesial dan hanya untuk Caca, iya, kan? Saya nggak mau denger apapun. Karena sekarang saya udah mulai demam lagi, saya mau istirahat. Jangan ganggu saya!"
...----------------...
__ADS_1