
Caca menceritakan semuanya kepada Ica. ia mengawali ceritanya dengan menceritakan bagaimana dua orang ini—Bayu dan Caca saling mengenal.
...----------------...
10 tahun lalu, masa SMA Bayu dan Caca.
Semua siswa baru dipersilahkan untuk bergabung ke lapangan sekolah. Orientasi sekolah hari ini adalah hari terakhir. Sebagian besar kegiatan dilakukan di lapangan sekolah, bukan aula sekolah lagi yang selama dua hari ini, masa orientasi kebanyakan dilakukan di sana.
Di sana terlihat seorang gadis sedang terburu-buru karena ia memang lamban. Di sisi satunya, ada seorang lelaki yang berbalik arah menuju aula atas perintah dari Kakak OSIS penanggungjawab-nya untuk memanggilkan satu orang siswa yang sama dengan yang dipimpin oleh lelaki itu.
"Lamban! Kepsek udah mau ngomong, itu!" ucap si lelaki itu pada sang gadis. Ia memang diperintahkan untuk menjemput si gadis ini. Tapi saat menjemputnya, ia malah melihat si gadis ini yang terlihat santai, sehingga langsung membuatnya jengkel, terbawa pula oleh hawa panas dari luar.
"Sabar! Kamu kira pakai rok begini enak? Kamu mikir, dong, rok aku span, bukan celana kayak kamu yang bisa dengan cepat dan lebar melangkah!" balas angkuh sang gadis.
"Salsabila Adrina Fazilla. Nama yang bagus, tapi tak sebagus tingkah lakunya." Lelaki itu menemukan name tag yang dikalungkan dengan tali dan kardus itu dan membaca kuat-kuat, menghina lebih tepatnya. Entah kenapa si lelaki ini tampak ingin memberi pelajaran.
"Bayu Pramana Surya. Namanya terdengar bagus, tapi mulutnya seperti perempuan!" balas si gadis tak mau kalah.
__ADS_1
Bayu murka. Hari sudah panas, si gadis malah membuat suasana makin panas.
"Caca. Aku udah jemput kamu. Aku nggak mau berargumen lagi, tapi bukan berarti aku kalah. Aku juga nggak mengalah. Cuma, aku tahu yang paling penting sekarang memenuhi tugas dari kakak OSIS tadi untuk menjemput kamu." Bayu tak ingin mendebat gadis yang ia panggil Caca itu.
"Enak aja panggil Caca sembarangan. Emang kamu siapa ganti-ganti nama anak orang? Bapaknya aja bukan!"
"Panggilan itu lebih cocok untuk kamu dan tingkah lakumu. Lagian kamu harusnya bangga, karena itu nama spesial untuk kamu dariku. Bukankah itu terdengar imut? Biasanya perempuan suka sesuatu yang imut, kan?" ucap Bayu membelakangi Caca. Ia kemudian kembali menuju ke lapangan dengan langkah panjang.
"Hey! Malah di tinggal. Mana langkahnya besar dan panjang, lagi. Rok ginian mana bisa ngejar dia. Dasar! Ngejalanin amanah separuh-separuh. Harusnya tuh, barengan ke sana, ini malah ditinggal gitu aja. Cowok nyebelin!" omel Caca kuat seraya mengejar Bayu.
"Kalau nggak mau ditinggal, sini lari! Jangan lamban. Aku dengar dari senior, aula sekolah ini banyak penunggunya. Kamu kalau nggak mau diapa-apain jangan sendirian, cepat nyusul ke lapangan sebelum digigit penghuninya," respons Bayu yang tentu mendengarkan omelan Caca itu.
"Kerja bagus, Bayu. Thanks, ya. Kalian langsung masuk ke barisan aja," titah si Kakak OSIS pendamping.
"Kencang juga lari kamu, Caca. Kalau aku nggak serius tadi, mungkin aku bakal kalah. Bahkan, kuda mungkin kalah sama lari kamu, Ca," ujar Bayu.
"Hah? Itu tadi pujian atau hinaan?" tanya Caca yang masih ngos-ngosan itu saat dirinya dan Bayu sudah sampai di barisan paling belakangan.
__ADS_1
Bayu hanya melemparkan senyum yang tak dapat diartikan. Kemudian ia masuk ke barisan paling depan, sebagai pemimpin kelompok yang selama masa orientasi sekolah ini disebut maskot.
"Akhirnya di notice juga. Pakai jemput juga, lagi. Asyiknya di kasih panggilan khusus gitu. Galak banget, tapi ganteng. Kirain bakal dingin, ternyata nggak sedingin itu juga. Duh, Bayu, Maskot ganteng kelompok ini... Harus usaha yang lebih dulu buat kamu mau ngobrol sama aku. Padahal, udah dari pertama ketemu dan kamu jadi maskot aku udah caper buat dapetin perhatian kamu dengan berbagai cara, tapi mungkin kurang ekstrim, kali, ya?" Batin seorang gadis yang merasa puas setelah membuat masalah. Ia ternyata sengaja berlama-lama di aula agar dapat diperhatikan oleh si maskot tampannya itu. Dan ia berhasil, bahkan ia mendapatkan hal yang lebih dari sekedar perhatian yang ditunjukkan oleh Bayu. Yaitu panggilan yang secara khusus diberikan Bayu untuknya. Pandai sekali ia bersandiwara seolah tak senang dengan "pangggilan sayang" itu meskipun dalam hati ia sudah meronta-ronta kegirangan.
Hingga masa orientasi pun berakhir. Semua siswa sudah diputuskan untuk masuk di kelas mana saja. Dan sebuah keberuntungan besar lagi bagi Caca yang ternyata satu kelas dengan Bayu. Seorang lelaki yang sudah menarik hati Caca di gerbang sekolah saat turun dari mobil mewah yang ia perkirakan diantar oleh seorang supir. Seorang lelaki yang tinggi, tampan, dan rupawan. Yang tatapan matanya dingin menghanyutkan, hingga Caca pun di buat terhanyut oleh pesonanya. Bayu yang sudah sejak pertama kali ia jumpai itu, sudah sejak saat itulah Caca menaruh hati padanya.
"Kenalin, aku Salsabila Adrina Fazilla. Panggil aja Caca, biar gampang," ujar Caca saat ia mendapatkan giliran untuk memperkenalkan dirinya di depan kelas.
Saat itu Bayu tampak tak peduli dengan sekitarnya, ia pun juga tak tahu kalau sekelas dengan Caca. Sesaat setelah Caca mengenalkan dirinya, ia terhentak dan menyadari Caca. Ternyata ia duduk tepat di depan Bayu. Dan Bayu terkejut, ia kira panggilan Caca hanya dirinya yang membuat, tapi itu ternyata memang sudah menjadi panggilan gadis itu sejak awal, pikir Bayu.
"Sebegitu sukanya kamu dengan panggilan khusus itu sampai kamu memakainya untuk menjadikannya sebagai panggilan kamu?" ucap Bayu tiba-tiba tepat sesaat Caca mendudukkan dirinya di bangku.
"Ya ampun..., aku sampai kaget, tahu," respons Caca cepat.
"Kamu sendiri yang bilang, kan, kalau cewek suka hal yang imut. Aku pikir, nggak ada salahnya buat pakai panggilan itu yang kebetulan kedengeran imut gitu. Bukan aku kepedean, ya, karena panggilan itu kamu yang pertama kali bikin. Ingat itu!" ucap Caca pura-pura kesal. Padahal, dalam hati ia senang sekali diajak ngobrol duluan oleh Bayu.
"Terserah," balas Bayu malas. Ia yang asik dengan bukunya tadi kembali membaca setelah sempat terhenti untuk mengurus hal yang kurang penting tadi baginya.
__ADS_1
Caca merasa akan ada hubungan baik antara dirinya dan Bayu. Karena sempat satu kelompok bersama selama masa orientasi sekolah waktu itu, lalu satu kelas, dan kemudian mereka hanya duduk berdepanan yang akan memungkinkan komunikasi akan lebih banyak terjadi antara mereka. Tujuannya sekarang adalah membuat Bayu juga balik menaruh hati pada Caca.
...----------------...