
Rupanya, bekerja menjadi sekretaris Bayu sangat memuakkan bagi Ica. Setiap ada kesempatan, Bayu berusaha memberi perhatian lebih ke Ica. Bayu yang dulu tak pernah pilih kasih dengan karyawannya, kini ia mulai pilih kasih kepada Ica. Memang tak ada kesalahan fatal yang telah Ica buat, tapi sekecil apapun kesalahan yang telah dibuat, Bayu yang dulu pasti akan menyemprot Ica meskipun Ica itu istrinya. Kini, Bayu tak begitu, dan itu membuat Ica risih.
Ica mendatangi ruangan Raka dengan membawa dua bekal buatannya dari rumah tadi. Sebelumnya, Ica sudah membuat janji dulu dengan sekretaris Raka agar mengosongkan jadwal Raka di jam makan siang nanti. Jika tidak begitu, belum tentu ia bisa bertemu ayahnya.
"Yah, Ica mau ganti jadi sekretaris manajer lain, dong. Ada tuh kan, manajer yang perempuan di divisi lain." Saat makanan mereka sudah mulai habis, Ica memberanikan diri untuk bicara.
"Ada angin apa, nih, Ca? Kenapa tiba-tiba mau minta mutasi?"
"Ya..., biar punya banyak pengalaman aja, Yah. Ica, kan, udah banyak belajar dari divisi humas meskipun belum genap setahun. Nah, Ica mau belajar di divisi lain lagi, ntah dari divisi perencanaan produk, keuangan, atau apalah, gitu. Jadi sekretaris ayah juga mau, kalau Ayah ngasih. Sekalian belajar tentang jalanin perusahaan dari Ayah. Ica, kan, anak satu-satunya, berarti Ica yang bakal nerusin perusahaan ini, kan? Jadi, lebih baik Ica belajar di semua divisi sebelum tiba hari di mana Ica dijadikan penerus nanti."
"Siapa yang bilang perusahaan ini bakal diteruskan ke kamu, Ca?"
"Lho, bukan ke Ica, Yah? Berarti, Ayah punya anak kandung lain? Siapa saudara Ica itu, Yah? Ayah nggak ada bilang soal itu. Bunda juga. Apa jangan-jangan dari istri keduanya Ayah, ya? Kenapa nggak bilang, Yah? Bunda tahu soal ini?" Ica panik dan bicara sembarangan.
"Hus! Kamu, ya, Ca, sembarangan aja kalau ngomong. Apa ada Ayah bilang kalau Ayah punya anak lagi?" Ica menggeleng.
"Kalau gitu, jangan menyimpulkan sesuka hati kamu."
__ADS_1
"Hehe, maaf, Yah."
"Kamu belum tentu Ayah jadikan penerus. Bisa jadi anak kamu nanti yang jadi penerusnya, kan? Kalau menyerahkan ke kamu, Ayah agak ragu. Bukan karena nggak percaya sama kompetensi kamu. Ayah udah mengakui kalau kinerja kamu bagus banget dan sifat manja kamu jadi ilang setelah bekerja di bawah Bayu. Ayah cuma nggak bisa karena kamu sekarang udah jadi seorang istri. Kamu juga bekerja di sini, dan jadi ibu rumah tangga juga di rumah. Belum lagi, kalau kamu udah punya anak nanti, pasti bakalan repot. Gimana kamu bagi waktunya?"
"Ayah berarti nggak bisa percaya ke Ica soal bagi waktu?" Ica kambuh egoisnya. Padahal bukan itu inti dari ucapan Raka barusan.
"Ica..., kamu salah paham, Nak. Ayah nggak bermaksud kayak gitu. Ayah cuma khawatir kalau nanti Bayu merasa kurang diperhatikan. Sedangkan kamu, seorang istri harus lebih mengutamakan suami. Ayah nggak bisa nahan kamu di sini. Nggak usah bicara soal meneruskan perusahaan, kalau kamu mau pindah ke divisi lain, gimana dengan Bayu? Apa kamu udah diskusikan lebih dulu ke Bayu?"
"Ica nggak berani ngomong ke beliau. Ayah aja yang bilang, yah. Please...," ucap Ica memelas.
"Ya udah, yang penting sekarang kamu udah ngerti. Ayah kira kamu udah nggak manja lagi, ternyata kamu memanfaatkan manja kamu itu supaya Ayah tersentuh dan kasihan sama kamu. Nanti setelah Ayah ngomong ke Bayu, baru kita bicarain lagi."
Lama Raka tak mendapatkan kecupan dan manjanya Ica. Semenjak Ica diboyong Bayu, Raka memang merindukan momen-momen seperti ini. Melihat kemandirian Ica juga yang terbentuk karena Bayu, ia merasa kesepian karena putri kecilnya yang manja itu telah dewasa. Raka akan melakukan hal yang bisa ia lakukan untuk putrinya. Kali ini, Ica mendatangi Raka langsungnya di jam makan siang, untuk bicara langsung. Raka mengapresiasi keberanian Ica, meskipun Ica sendiri tak berani membicarakan ini lebih dulu ke Bayu.
Peristiwa ini seperti de javu bagi Raka. Ia mengenang waktu di mana Ica ke ruangannya dengan marah-marah dan meminta untuk tidak menjadikan Ica sekretaris Bayu. Setelah berdiskusi, Raka meminta Ica bertahan satu bulan bertahan sebagai sekretaris Bayu. Lalu, ia berjanji akan bicara lagi soal komplain Ica setelahnya, dan Ica juga berjanji akan datang ke ruangan Raka lagi untuk membicarakan hal yang sama. Namun, siapa sangka setelah satu bulan, mereka malah dijodohkan, kemudian dinikahkan.
Raka mengerti kenapa Ica ke ruangannya lagi hari ini. Sebenarnya, Ica hanya menagih janji waktu itu, meskipun telat. Pikir Raka, mungkin Ica tak bisa mencampuradukkan urusan pekerjaan dan urusan rumah tangganya jika masih bekerja sebagai sekretaris Bayu. Makanya Ica minta dimutasi. Raka tak yakin Ica ingin dimutasi dengan alasan yang sama seperti waktu itu. Oleh karena itu, Raka akan menepati janjinya. Kali ini Ica sendiri yang berinisiatif untuk meningkatkan kompetensi dirinya demi perusahaan juga. Tidak ada salahnya jika niat Ica disambut baik. Ini juga baik untuk pengalaman Ica. Terlebih, Raka juga sudah pernah berjanji. Masalahnya, ia harus bicara pada Bayu dan membuat Bayu menyetujui juga.
__ADS_1
...----------------...
Bayu pulang terlambat karena berbicara dulu dengan pimpinan perusahaan. Betapa terkejutnya Bayu saat Raka menyusul topik yang seserius itu. Sampai di rumah, Bayu mendatangi Ica, duduk dan bicara.
"Raisa, kenapa kamu minta pindah divisi? Apa sehina itu saya sampai kamu nggak mau bekerja sebagai sekretaris saya lagi?"
"Kamu udah denger semuanya dari Ayah, kan? Kenapa masih tanya sembari nuduh?"
"Alasan itu aja nggak mungkin. Kamu juga punya alasan untuk jauh dari saya dan nggak pernah biarkan perjuangan saya berjalan lancar,"
"Jangan salah paham, ya. Alasan lain saya mau berhenti jadi sekretaris kamu itu, supaya kamu bisa kembali profesional. Kamu memanfaatkan alasan sedang berjuang itu untuk lebih perhatian dan lembut ke saya. Setiap saya buat kesalahan, kamu hanya menasehati dengan lembut. Padahal, kalau dulu kamu pasti udah semprot saya habis-habisan. Dulu saya pernah minta kamu untuk selalu baik ke saya saat bekerja, dan kamu jelas-jelas menolak dengan alasan untuk kelangsungan perusahaan dan kamu yang perfeksionis memang diharuskan tegas bahkan galak dengan siapapun, tanpa pilih kasih. Kamu jadi kemakan ucapan kamu sendiri. Mereka udah mulai heran, kamunya aja yang nggak sadar. Padahal, kali ini saya minta berhenti jadi sekretaris kamu itu untuk kebaikan kamu. Nggak cuma itu, saya melindungi sifat perfeksionis kamu, melindungi keberlangsungan kinerja bawahan kamu untuk perusahaan, juga agar kamu lebih meningkatkan kinerja lagi karena nggak harus berpikir untuk berjuang kalau didekat saya. Kamu bisa berjuang di rumah, atau di saat kamu ketemu saya di kantor. Bukan memanfaatkan posisi sekretaris dan atasan seperti ini! Nggak profesional namanya! Saya bahkan nggak akan mengakui perjuangan kamu jika ini terus berlanjut. Jadi, udah keputusan terbaik jika saya berhenti jadi sekretaris kamu," jelas Ica.
"Tapi saya butuh kamu!"
"Sejak kapan kamu butuh sekretaris? Bukannya dulu kamu bekerja sendirian, tanpa sekretaris? Kamu juga sangat percaya dengan kemampuan kamu sendiri. Bahkan, ragu dengan kemampuan orang lain. Bukannya nggak ada sekretaris itu lebih baik?" sindir Ica.
"Bukan sekretaris yang saya butuhkan, tapi kamu, Raisa! Gimana kalau kamu dimutasi ke cabang lain? Kita nggak di kantor yang sama lagi. Sedangkan itu malah menyenangkan kamu karena jauh-jauh dari saya," ucap Bayu menggebu-gebu. Lalu, ia diam sejenak dan menormalisasi nada bicaranya.
__ADS_1
"Ya udah, saya akan berusaha mengerti. Saya juga menghargai niat baik kamu. Kamu belum makan malam, kan? Lebih baik kamu makan dulu, di meja makan. Setelah kamu selesai makan, baru saya menyusul. Kamu masih nggak mau makan malam bersama saya, kan?" ucap Bayu mengalah. Sementara, Ica tak menggubris ucapan Bayu dan langsung turun untuk makan malam lebih dulu. Beginilah rutinitas mereka jika ingin makan. Semenjak Ica tak datang menyusul ke meja makan saat tiba waktunya makan, Bayu mempersilahkan Ica untuk makan lebih dulu. Sekedar memastikan bahwa Ica makan dengan teratur.
...----------------...