
Sampai di rumah, Bayu izin untuk lanjut ke ruang kerjanya. Sementara Ica yang sudah di kamar, langsung terkulai lemas. Memilih untuk tidur dan melupakan apa yang terjadi di rumah mertuanya tadi. Ica berharap dia bermimpi indah hari ini untuk melupakan ucapan Dirga.
Sepertiga malam tiba, Ica tidak bangun karena tidak dibangunkan Bayu setelah bicara tentang datang bulannya. Jadi, ia tak dapat menemani Bayu tahajud karenanya. Mungkin itulah sebab dari labilnya emosi Ica hanya dengan perkataan Dirga malam itu. Ia mulai berpikiran positif tentang suasana hatinya yang tidak seperti biasanya yang terganggu hanya karena perkataan seseorang. Ya, bukankan kalau wanita yang datang tamu bulanannya kurang dapat mengontrol emosinya?
Karena besok adalah hari Minggu, Bayu memutuskan untuk tidak tidur lagi karena dia tidak harus was-was merasa mengantuk jika bekerja paginya di kantor. Ia menghabiskan waktu antara jarak salat malamnya dengan subuh dengan bertilawah dan berdzikir. Ia bukan manusia sempurna yang bisa melakukan hal ini setiap hari. Ada kewajiban lain yang berdampak nantinya. Menurutnya, tidur yang cukup itu penting untuk keberlangsungannya menjalani pekerjaan.
"Tidur lagi, deh, baru lanjut periksa kerjaan Caca abis dzuhur," gumam Bayu saat sudah sampai rumah. Ingin berbelok ke ruang kerja, tapi kantuknya menyerang. Kebiasaannya memang di hari Minggu tidak tidur lagi setelah tahajud, pulang pulang dari masjid malah mengantuk lagi. Ini jadi. kebiasaan Bayu, yang di mana ia akan seperti kebo saat tidur lagi setelah subuh. Sulit dibangunkan.
...----------------...
Ica sudah sarapan. Butuh usaha ekstra sebelumnya untuk membuat Bayu bangun dan sarapan bersama. Agak merepotkan, tapi ia suka mendengar suara khas bangun tidurnya Bayu.
"Semalam saya lihat, kamu ngobrol sama Dirga. Apa ajakan untuk pulang tiba-tiba itu mengganggu pembicaraan kalian, Raisa?" tanya Bayu di meja makan. Sementara itu Ica duduk di ruang keluarga.
"Aa..., kami memang mengobrol. Menurut Ica, memang udah terlalu malam juga kita di sana, jadi waktu Mas Bayu panggil untuk pulang, Ica rasa itu keputusan yang tepat," jawab Ica.
"Ooh, gitu. Kalian ngobrolin apa, sih? Sekilas kayak kelihatan serius banget mukanya," tanya Bayu lagi. Ica bingung harus menjawab apa. Ingin berbohong dosa, ingin diucapkan takut malah membuat amarah Bayu meluap.
"Kepo, deh," balas Ica ngeles.
__ADS_1
"Kamu main rahasia sama suami sendiri?" Bayu terlihat kesal.
"Mas Bayu sendiri, punya rahasia yang Ica nggak tahu, kan?" Ica menantang.
"Kamu suka sekali mencari masalah. Udahlah, saya juga nggak harus tahu apa yang kalian bicarakan," Bayu berusaha meredam emosi.
"Mas Bayu kayak mengelak gitu?"
"Kamu duluan yang mengelak dari ucapan saya, kan?"
Keduanya malah saling membalikkan ucapan. Bayu masuk ke ruang kerjanya untuk pekerjaannya. Ica tetap di tempat, dengan ponselnya ia bermain.
...----------------...
"Halo, Ca. Kamu lagi-lagi salah di laporan keuangan, deh, Ca. Capek banget harus diteliti satu-satu. Aku udah bilang, kan, kalau usaha ini jangan dibuat main-main. Ini pemborosan banget. Akhir-akhir ini, keuntungan bisnis ini terus merosot ke bawah." Bayu bicara kencang saat Ica sedang melewati pintu ruang kerjanya.
"Ca? Pasti Mas Bayu sedang menelpon Mbak Caca. Aku pura-pura buatin minuman, deh. Mas Bayu seakrab apa ngobrolnya? Aku penasaran." batin Ica berinisiatif karena penasaran setelah mendengarnya.
"Izin masuk, Mas. Ini es sirup untuk bikin kamu fresh waktu kerja. Di luar panas, makanya Ica buatin es," ucap Ica. Sebenarnya itu sirup miliknya yang ia buat tadi, tapi karena ingin punya alasan untuk masuk ruangan Bayu, biarlah ia merelakan es sirup itu. Namun, tampaknya Bayu sangat serius dengan obrolannya dengan Caca. Ica juga tak yakin Bayu melihat keberadaan Ica karena ia menelepon sambil berdiri dan membelakangi meja kerjanya dan juga Ica.
__ADS_1
Ica masih di sana sambil menunggu Bayu sadar dengan keberadaan Ica. Sambil menguping apa-apa saja yang Bayu ucapkan kepada Caca.
"Ca..., kamu tahu gimana kita membangun bisnis ini sama-sama, kan? Ini bukan pertama kalinya kamu bikin kesalahan yang sama. Dan bukan pertama kalinya aku ingetin kamu. Bukan pertama kalinya urusan menaikkan trafik keuntungan aku tangani dobel karena ini. Aku capek, Ca... Kamu juga capek, kan? Bisa kamu lebih teliti lagi ngerjainnya?" ucap Bayu kecewa, tapi tak ia tunjukkan amarahnya. Tidak seperti Bayu yang biasanya saat bertemu bawahan yang tak becus saat bekerja, Bayu malah terdengar sangat lembut menasehati Caca soal kinerjanya. Dan panggilan itu, panggilan singkat yang hanya Bayu ucapkan untuk Caca, menambah betapa lembutnya Bayu bicara meski nada bicaranya kecewa. Terlihat Bayu tak bisa marah dengan Caca.
"Mas Bayu lembut banget. Bukannya urusan trafik keuntungan itu krusial banget, ya?" batin Ica tertekan, ia mulai cemburu dengan Caca karena Bayu memperlakukan lembut Caca. Berbeda saat Ica yang melakukan kesalahan. Sudah menjadi istri pun, Ica tetap dimarahi dengan porsi yang sama oleh Bayu. Tidak ada pilih kasih. Ica iri dengan Caca.
"Ca..., jangan buat drama. Aku nggak marah, kan? Aku bilangin baik-baik. Kenapa kamu nangis, sih, Ca? Aku minta maaf udah buat kamu nangis."
"Hah? Mas Bayu minta maaf?" kejut Ica dalam hati. Ia berpikir, kemana waktu itu keramahan Bayu saat Ica menangis dibuat Bayu? Tak ada kata maaf juga yang keluar dari mulut Bayu. Bahkan Bayu membalas dengan sarkas dan tak merasa bersalah telah membuat Ica menangis. Apa Caca begitu spesial sehingga dapat perlakuan spesial juga dari Bayu?
Bayu terlihat memijit keningnya. Ia terlihat sangat pusing menghadapi Caca. Ia diam tak bersuara lagi selama beberapa detik. Membiarkan orang di seberang telepon itu bicara tanpa Bayu potong.
Setelahnya, Bayu buka suara. "Ca...," ucapnya. Namun, Bayu tampak tak melanjutkan ucapannya.
Karena namanya juga meras dipanggil, Ica mendekat ke posisi Bayu berdiri. Bayu masih tak menyadarinya. Sampai Ica melakukan sesuatu di luar nalar, mengecup tepat di bibir Bayu lembut dan lama. Kemudian tangannya mengambil ponsel Bayu dan mengakhiri panggilan telepon itu.
Ini menjadi ciuman pertama mereka, dengan Ica yang memulainya lebih dulu. Ia tak tahan dengan suara lembut Bayu yang memanggil nama singkat itu, tapi bukan untuk Ica, melainkan untuk Caca. Jika istri sah berpeluang menang lebih besar, harusnya ini pantas dilakukan untuk selangkah lebih maju untuk menang dari Caca yang hanya daru masa lalu Bayu.
Ica memperdalam kecupan itu, sampai akhirnya Bayu melepaskan lebih dulu karena kehabisan nafas, juga karena keterkejutannya karena Ica seberani ini. Padahal itu hanya kecupan, tapi terasa berat jika dilakukan tiba-tiba begitu. Sama halnya dengan Ica, ia juga kehabisan nafas karena tiba-tiba melakukan itu tanpa persiapan nafas lebih dulu.
__ADS_1
...----------------...