
Ica berlama-lama di sana, hingga ia baru sadar, pasti tangan Bayu akan keram. Bagaimana tidak, setengah jam mereka berdua sejenak dalam posisi begitu. Ica pun bangkit, membuka pelukan Bayu dengan buru-buru.
Lalu Bayu juga ikut bangkit dan duduk seperti Ica. Ia tak ada persiapan jika hal ini terjadi. Apa Ica baru saja menyesali aksinya tadi? pikir Bayu.
"Maaf, Mas. Ica bukan bermaksud apa-apa. Ica cuma takut tangan kamu keram kalau Ica pakai terus sebagai bantal. Terus, kalau ada orang lain yang lihat kita begitu tadi, mungkin ada desus kalau kita ngelakuin hal yang nggak senonoh. Jadi, mungkin kita bisa lanjutkan lagi di tempat tertutup, Mas." Seolah dapat membaca pikiran Bayu, Ica langsung menjelaskan dengan lugas.
"Lanjutkan? Lanjutkan bagaimana maksudnya?"
"Hahahaha, udah ah. Nanti sampai rumah aja bahasnya," Ica menolak melanjutkan.
Ia turun dari gubuk, kemudian memerhatikan lahan persawahan yang masih hijau, kemungkinan mereka dapat dipanen satu bulan lagi, pikir Ica.
Saat melihat-lihat sawah itu, Ica bertemu kodok di pinggir bedengan. Entah kenapa itu membuat Ica senang. Ia merindukan hewan yang satu ini, karena di perkuliahannya dulu, sudah pasti bertemu dengan hewan ini.
Ica pun menangkapnya dan menganggapnya sebagai peliharaan. Ia bawa ke gubuk lagi untuk menunjukkannya pada Bayu.
"Mas, lihat, deh. Imut banget, kan, kodoknya?" tunjuk Ica. Bayu malah menjauhkan diri dari hewan yang Ica pegang itu. Bayu tampak ketakutan sekali.
"Lho, Mas Bayu takut sama kodok?" Ica malah semakin mendekati Bayu dengan kodok itu.
"Ica, jauhkan hewan itu. Saya nggak bisa, Ca. Nanti gimana kalau lompat?" titah Bayu. Ia terlihat sangat panik.
"Ca! Jangan dekat-dekat, dibilang! Jauhkan. Cepat jauhkan! Saya nggak akan maafin kamu kalau kodok itu lompat ke saya nanti," ancam Bayu dengan wajah serius sekaligus panik.
Ica malah tertawa terbahak-bahak. Kelemahan Bayu yang lain ternyata kodok. Padahal kodok ini hewan paling imut dan bisa melompat, pikir Ica.
"Ca, tolong, ya. Nggak lucu. Cepat jauhkan kodok itu. Kembalikan ke habitatnya. Kasihan dia," titah Bayu lagi.
Ica terbahak-bahak, terpingkal-pingkal melihat ekspresi Bayu yang benar-benar ketakutan. Jarang sekali ia bisa menjahili Bayu sampai seperti ini.
Hingga ia berpikir untuk menjahili Bayu sekali lagi. Memaju mundurkan kodok itu ke dekat wajah Bayu. Dan Bayu kemudian seperti memasrahkan hidupnya jika sampai kodok itu melompat ke wajahnya. Ia hanya bisa menutup paksa matanya.
Tawa Ica berhenti. Ia sadar sudah sangat kelewatan kali ini. Memanfaatkan ketakutan seseorang untuk mengerjainya, itu sangat jahat. Apalagi sampai membuat orang tersebut seperti pasrah dengan hidupnya.
__ADS_1
Ica kemudian melepaskan kodok itu kembali ke habitatnya, keluar dari gubuk dan berjalan di sekitaran sawah. Merindukan dirinya yang masih berkuliah di jurusan pertanian dahulu. Perlu perjuangan yang panjang untuk anak manja seperti Ica di jurusan pertanian itu. Melihat sawah dengan duduk termangu, kemudian bernostalgia dengan masa kuliahnya.
Itu dilakukan Ica juga agar Bayu merasa tenang dan dengan sendirinya menyusul Ica untuk duduk. Dan setelah itu, ia akan meminta maaf dengan tulus.
"Ca? Kamu di mana? Lagi nggak jahil lagi, kan? Kodoknya udah kamu lepasin, kan?" Bayu yang pelan-pelan membuka matanya itu mencari keberadaan Ica.
"Di sini, Mas. Lagi lihatin padi. Ica minta maaf, ya, Mas. Ica berlebihan banget tadi. Apalagi sampai ketawa terbahak-bahak kayak gitu. Mas mau ke sini nggak? Ica mau cerita soal perkuliahan Ica dulu. Ica juga suka banget sama kodok, sejak kecil, bukan gara-gara kuliah di pertanian."
Bayu pun menghampiri Ica. Ia menghargai usaha Ica untuk menebus kejahatannya barusan soal kodok itu, yaitu dengan mencoba menenangkan Bayu lewat ceritanya.
Ica bercerita tentang bagaimana kodok itu menjadi hewan imut yang ia sukai. Meskipun manja, ia tak jijik dengan hewan-hewan sejenia kodok. Justru karena dimanjakan oleh kedua orangtuanya lah Ica dibebaskan memegangi semua binatang yang mau ia pegang, termasuk kodok.
Karena perusahaan keluarganya bergerak dibidang pertanian, ia ikut mengambil jurusan itu untuk kuliahnya. Juga untuk menemui hewan imut yang ia suka itu lebih sering. Ia beranggapan jika sering-sering ke sawah, pasti ia akan sering melihat kodok. Motivasinya kuliah pertanian didominasi oleh keinginannya untuk melihat kodok.
Kegiatan perkuliahan sangat merepotkan bagi Ica. Tidak banyak teman karena Ica manusia yang suka sekali mengeluh. Ia juga disegani karena terlalu kaya di kelasnya, sehingga tak ada yang berani mendekatinya. Kecuali satu orang, dan orang itu malah lulus sangat cepat, dan mereka tak berteman lama karena hilang kontak. Sekarang, Ica tiba-tiba sangat merindukan teman lamanya itu saat menatap persawahan ini.
Ica selesai bercerita, lalu mempersilahkan Bayu untuk gantian bercerita. Ica ingin dengar dari Bayu, bagaimana ia bisa membenci kodok dan persawahan, sedangkan Bayu sangat profesional bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pertanian.
Ica menahan tawanya saat Bayu bercerita. Tak ingin mengacaukan niatnya untuk menebus kesalahannya tadi. Ia simpan saja tawanya itu di dalam hati dan menertawakan Bayu sepuasnya.
"Eh, Mas. Kayaknya kodoknya itu sebenarnya baik, deh. Apalagi kodok yang Ica bawa tadi. Mungkin dia menampakkan diri itu biar Mas cium, " ujar Ica menanggapi.
"Dicium? Ada-ada aja!"
"Hahaha, manatahu kalau kodoknya dicium bakalan jadi princess, kan? Kamu pernah lihat kartunnya, kan?"
"Kenapa princess? Bukannya di kartun itu harusnya jadi pangeran, ya?"
"Ya.., karena Mas Bayu laki-laki, jadi pasti kodoknya bakal jadi manusia princess."
"Emang kodoknya betina?" Ica mengangguk.
"Tahu darimana kamu kalau kodoknya betina, Ca?"
__ADS_1
"Ya tahu, lah."
"Ca, Saya tahu kamu lulusan pertanian. Tapi kamu bukan dokter hewan yang tahu kodok itu betina atau jantan. Jangan ngada-ngada kamu, ya."
"Ye..., di pertanian udah sering, tahu, jumpa kodok. Makanya Ica bisa tahu kodoknya betina."
"Emangnya ada di ajarkan gimana ngebedainnya?"
"Nggak ada sih, kayaknya."
"Yaudah, cukup sampai sini, kita tahu siapa yang benar."
"Iya iya, bos yang maha benar."
"Kamu bilang apa barusan? Kayaknya kamu deh yang mau di cium, bukan kodoknya."
"He..., coba aja kalau berani. Nanti Ica kasih kodok aja bibir nya Mas Bayu. Biar trauma sekalian sewaktu mau ngeluarin kata cium. Hahahaha." Ica lari kencang menuju ke mobil untuk kabur dari Bayu.
"Eh..., curang kamu, ya. Kabur di jalan setapak gini cepat banget, main ngeluarin skill yang lawannya nggak punya. Awas kamu, ya, Ca!"
Di saat Bayu berteriak seperti itu, Ica malah sudah sampai di mobil dan tertawa terbahak-bahak di sana. Melihat cara Bayu berjalan di jalanan sawah yang setapak itu malah lebih lucu lagi. Terlihat betapa tak maunya Bayu jatuh lagi ke sawah dan bajunya dikotori lumpur jika tiba-tiba melihat kodok di kakinya.
"Lambat amat kayak siput!" oceh Ica.
"Kamunya aja yang kekencengan," balas Bayu.
"Eh, tapi, makasih, ya, Mas. Ini trip kita yang paling menyenangkan, deh, kayaknya."
"Trip? Ini cuma perjalanan dinas, Ca."
"Hahahaha, iya, kamu bener, Mas. Perjalanan dinas yang menyenangkan. Dan ini semua berkat sawah dan kodok itu. Hahahaha," ucap Ica bahagia seenaknya. Sedangkan Bayu agak kurang setuju karena Ica terlalu memuji sawah dan kodok itu.
...----------------...
__ADS_1