Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Menjaga Hati


__ADS_3

Ica mendengar semua pembicaraan dua saudara yang bersitegang itu. Entah kenapa, air matanya menetes tanpa permisi. Tidak ada aba-aba, air mata itu meluncur begitu saja hanya karena mendengar obrolan mereka.


Karena Ica benar-benar mendengar semua obrolan mereka, hatinya malah menangkap satu poin yang paling mengena. Caca, wanita yang disukai Bayu akan datang ke rumah. Itulah penyebab paling utama Ica menitikkan air mata.


Tubuh Ica lemas. Untung ia dalam posisi duduk di tangga, bukan berdiri. Jadi, ia bisa menyandarkan kepalanya sejenak untuk memulihkan energi dan segera kembali ke kamar.


Lalu Bayu, ia cukup bisa mengontrol emosi setelah Dirga keluar dari rumahnya. Ia langsung beristighfar dan duduk. Kemudian, ia masih belum tenang juga, ia mengambil air wudhu untuk menenangkan diri, memadamkan api amarahnya setelah berhadapan dengan Dirga. Merasa lebih baik, ia kembali menyiapkan sarapan Ica. Gara-gara kedatangan Dirga yang membuang-buang waktu, Ica pasti menjadi sangat lapar sekarang, pikir Bayu.


"Lho, Ica, kamu kenapa duduk di tangga?" Bayu heran dengan keberadaan Ica di sana saat ia ingin membawa naik sarapan yang telah ia buat.


"I-Ica baru aja, kok. Tadi karena Ica kelaparan, jadi niat mau nyusul Mas Bayu, gitu. Hehe," gelagat Ica gagap saat Bayu memergokinya. Untung air matanya sudah berhenti menitik.


"Terus, karena kamu merasa pusing lagi, makanya kamu nyusulnya cuma bisa sampai sini, gitu?" Bayu mengomel lagi. Ia bahkan sama sekali tak curiga kalau Ica telah mendengar semua percakapannya dengan Dirga. Melihat Ica hanya membuat Bayu berpikir soal kesembuhan Ica, ia telah melupakan persoalan yang baru saja membuatnya marah besar tadi.


"Hehe," Ica menyengir kamuflase.


"Jangan nyengir kamu. Udah dibilangin tetap aja nggak mau nurut. Saya tahu kalau saya lama, tapi nggak sampai di susul juga, pasti saya bakal balik ke kamar, kok. Kamu ini senang banget dimarahin! Sebentar tunggu di sini, biar sarapannya saya bawa dulu ke kamar baru bantu kamu untuk balik ke kamar." Ica mengangguk menanggapi, kemudian berusaha tegar, lebih tepatnya berpura-pura tegar.


...----------------...


Selesai makan siang dengan menu yang sama—roti, Ica kembali berbaring. Kemudian terlintas dipikirannya ketidakikhlasan kalau Caca akan datang dan merebut perhatian Bayu. Ica pikir, sangat susah mendapatkan perhatian Bayu jika tidak sakit seperti ini, enak saja wanita itu datang dan merampas Bayi darinya dengan gampang.


"Mas, kalau lidah Ica pahit, berarti nggak bisa makan sate padang lagi, dong?" ujar Ica pada Bayu yang memegang tablet di sampingnya.


"Lebih baik menghindari makanan yang kuat rasanya. Saya juga nggak yakin kamu bakal habis makan satenya. Kamu nggak akan ngerasain nikmatnya makan makanan kesukaan kamu karena lidah kamu pahit. Nanti malam tetap makan roti manis lagi, ya?"

__ADS_1


"Gitu, ya? Ya udah, deh."


Ucapan tadi hanya sebagai pembuka untuk Ica membuat Bayu untuk menyuruh Caca agar jangan datang ke rumah.


"Ica juga nggak mau lihat yang pahit-pahit, Mas. Nanti juga berpengaruh sama kesehatan Ica," mulai Ica dengan ucapan tersirat, berharap Bayu mengerti.


"Lihat yang pahit? Apa maksudnya? Kamu tahu tamu yang datang tadi siapa?" Rupanya Bayu bukan orang yang tak peka dengan ucapan Ica yang memiliki makna tersirat. Ia langsung menanyakan soal Dirga, apa Ica melihat dan mendengar obrolan tadi?


"Tamu? Ica denger sih, ada bel berulang kali bunyi. Ica nggak bisa istirahat jadinya. Tapi, ada tamu, ya, Mas? Ica kira ada anak tetangga yang iseng mainin bel rumah. Emangnya siapa tamunya, Mas? Aneh banget bunyiin bel rumah orang kayak anak kecil gitu," Ica berpura-pura. Rupanya, bekerja dengan Bayu yang pandai bicara dapat membuat Ica pandai juga dalam merangkai kata-kata. Ia jadi berbohong, spontan begitu saja karena kebenaran tadi benar-benar terekam dan mengenai hati.


"Maaf mengganggu kamu istirahat jadinya. Tadi memang ada tamu, dan yang datang itu Dirga. Dia datang sebentar aja, terus pulang. Kamu nggak terganggu juga dengan obrolan kami, kan? Nggak kedengaran sampai kamar, kan? Saya dan Dirga memang nggak akur walaupun saudara kandung. Jadi, setiap ketemu pasti sering beradu mulut, apapun bahasannya. Dia datang cuma kurang kerjaan, nggak penting juga sih dia ngomong apa."


"Ooh, gitu. Kita ketahuan sama Dirga nggak bulan madu, dong? Biasanya Ayah pasti cerita ke keluarganya Mas Bayu soal yang terjadi sama kita. Apalagi, semenjak kita menikah, dua perusahaan semakin dekat. Kabarnya pasti sampai juga ke Dirga, kan? Apa nggak masalah, Mas?"


"Tapi, Mas, Ica beneran nggak suka lihat pemandangan yang pahit, lho. Mas Bayu mau bantu Ica untuk cepat sembuh, kan? Jagain Ica aja di sini, jangan kemana-mana. Mas Bayu juga nggak perlu keluar rumah karena nggak harus beli sate Ica," ujar Ica mempertegas.


"Tapi saya juga harus ke masjid, kamu lupa?"


"Kalau itu beda cerita. Tapi, setelah selesai dari masjid, langsung pulang temenin Ica, ya, Mas. Pokoknya harus temenin Ica. Kalau mau ngobrol, ngobrolnya sama Ica aja, jangan panggil orang lain lagi ke rumah. Kalau mau ngerjain kerjaan juga nggak papa, tapi di kamar sambil jagain Ica. Pokoknya Mas Bayu harus ada terus di pandangan Ica." Ica tampak menggebu-gebu menjelaskannya. Dengan tegas ia menyiratkan agar tak ada seorangpun yang boleh ada di rumah selain Ica dan Bayu.


"Jangan banyak bicara, simpan energi kamu biar cepat sembuh. Saya nggak nyangka kamu bisa secerewet ini. Saya tahu kamu manja, tapi saya agak terkejut ternyata kamu benar-benar manja. Udah, tidur lagi. Udah selesai makan siang, istirahat yang cukup. Seperti yang kamu bilang, saya akan bantu kamu untuk cepat sembuh. Tapi, jangan ngeyel kalau dibilang. Paham?" Ica pun mengangguk paham.


"Bagus! Ya udah, saya lanjut kerja, nih. Di meja situ, nggak jauh dari kamu, tetap masih dalam kawasan pandangan mata kamu."


"Nggak gitu juga kali ngomongin, Mas. Seneng banget membalikkan ucapan orang."

__ADS_1


"Bukan gitu. Saya cuma mempertegas. Memangnya salah?"


"Iya, Mas, kamu bener."


"Ini siapa yang sakit siapa yang ngalah? Dasar Mas Bayu!" batin Ica kesal jadinya.


Berpindah posisi, kemudian Bayu berpikir untuk mengabulkan ucapan Ica. Mendengar soal Caca yang akan ke mari, sepertinya Bayu harus mencegahnya, demi kesembuhan Ica, pikir Bayu.


Sesaat kemudian, Bayu langsung membuka ponselnya. Membaca semua chat masuk dari Caca yang isinya kebanyakan drama menurut Bayu. Tak lama kemudian, Caca langsung mengirim satu chat baru lagi, padahal belum selesai Bayu membaca semuanya.


"Bayu, akhirnya kamu baca chat aku juga. Tadinya aku mau ke rumah kamu untuk mastiin kabar kamu langsung," tulis Caca.


"Jangan ke rumah!" tegas Bayu menolak.


"Kenapa, Bay? Padahal kita cuma mau bahas soal bisnis doang. Kamu mau ngobrolin di luar?"


"Aku nggak bisa obrolin itu sekarang. Aku sibuk! Urusan bisnis aku serahkan semuanya ke kamu. Pokoknya, jangan ke rumah! Nanti kalau aku nggak sibuk, aku kabarin lagi."


"Kenapa, Bay? Kamu nggak biasanya kayak gini. Sesibuk-sibuknya kamu, pasti bakal urus bisnis ini yang udah kamu bangun sendiri dari nol. Apa beneran se nggak bisa itu, Bay?"


"Semuanya udah jelas, Ca. Jangan hubungi aku lagi dengan berbagai macam cara kalau kamu nggak mau aku abaikan!"


Biarlah dianggap jahat oleh teman berharganya itu. Yang terpenting sekarang adalah membuat Ica sembuh secepatnya. Bayu juga sadar, jika Caca ke rumah ini, itu akan menjadikan pemandangan pahit untuk dilihat Ica. Belum lagi ucapan Dirga yang menyadarkan Bayu agar membuat Ica terjaga hatinya dengan semua hal yang menyinggung soal Caca atau masa lalunya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2