Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Si Galak bisa Bersikap Manis


__ADS_3

Sepertinya soal bulan madu dan hal yang romantis yang sebelumnya terjadi antara Bayu dan Ica bagaikan tenggelam di lautan dalam. Pulang dari dinas waktu itu, mereka sangat sibuk. Pemindahan divisi dan mempelajari hal baru di eksekutif nanti, membuat Bayu dan Ica kembali menjadi bos dan sekretaris formal di kantor.


"Ca, gimana soal laporan yang saya suruh tadi? Kamu ngerjain apa aja, sih? Yang prioritas itu soal laporan, Ca. Kan udah saya bilang. Urutan dari prioritas juga udah saya kasih tahu. Masa kamu masih bingung lagi, sih?"


"Iya, Pak. Maaf. Ica nggak terbiasa dengan kerjaan membludak gini. Apalagi Ica nggak biasa kerja di rumah, jadi bingung mau mulai yang mana dulu yang mau dikerjain."


"Ha?"


"Ada apa, Pak? Apa tadi alasannya nggak bisa Bapak terima, ya, Pak?"


"Ca, kamu tahu di mana kita sekarang?"


"Di ruangan kerjanya Pak Bayu, kan?"


"Di mana? Lebih detil tolong!"


"Um..., di rumah kita, di ruangan kerjanya Pak Bayu. Yaelah, Pak, gitu aja mesti detil. Padahal Bapak udah tahu kita ada di mana. Hehehe. Ada ada aja si Bapak."


"Ha? Kamu serius ngomong begitu, Ca? Nggak habis pikir saya, Ca."


"Lha, Bapak apaan, sih? Udah bener, kan, perkataan Ica? Bapak kenapa marah? Dan saya harus minta maaf, gitu? Kesalahan saya ada di mana kalau saya boleh tahu?"


Di sela-sela pekerjaan, mereka malah berdebat. Ica sama sekali tak tahu apa kesalahannya. Lagian, tak ada sedikitpun yang salah, pikirnya.


"Saya pikir belum lama ini kita udah deket banget, Ca. Sekarang, kamu malah membuat jarak itu kembali hadir? Bukannya kamu sendiri yang selalu bawel soal panggilan. Dan sekarang kamu manggil saya dengan sebutan Bapak, meskipun sekarang kita ada di rumah. Kamu benar-benar lupa atau gimana, Ca?"


Ica terlihat diam dan mencoba memahami betul ucapan Bayu, sambil berpikir dan mengingat-ingat sesuatu yang dimaksudkan Bayu.


"Ooh, soal panggilan. Hehe..., maaf, ya, Mas. Ica juga nggak sadar." Ica mengucapkan maafnya, tapi Bayu tampak kurang puas dari raut wajahnya.

__ADS_1


"Mas..., apa lagi, sih? Ica udah minta maaf, udah mengganti panggilan pak tadi menjadi mas. Kurang apa lagi coba? Mas masih ngambek, hah? Kayak cewek aja ngambekan segala. Ica yang cewek aja biasa aja."


Satu kalimat terlontar dari mulut Ica. Bukannya membaik, Bayu malah semakin merengut wajahnya. Ia memasang muka masam dan meninggalkan Ica begitu saja dengan laporannya.


Ica tak menggubris. Menurutnya, masalah telah selesai sesaat setelah maaf Ica dilontarkan. Tak ambil pusing dengan wajah Bayu yang masam, Ica juga kembali fokus pada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Sampai malam mereka menyelesaikan pekerjaan masing-masing tanpa bicara sedikitpun, meskipun di ruangan yang sama. Obrolan mereka hanya sebatas berbalasan e-mail yang isinya tentang pekerjaan semua.


Lantas tibalah waktunya untuk tidur.


"Mas, masih marah sama Ica?" tahan Ica sebelum Bayu benar-benar tidur setelah selesai dengan witirnya.


Bayu geming. Tak jadi melangkahkan kakinya untuk bergerak ke arah tempat tidur.


"Mas...., Ica pikir masalah udah selesai setelah Ica minta maaf. Tapi kayaknya itu belum cukup, ya? Ica harus apa biar Mas nggak marah lagi sama Ica? Coba bilang, kasih tau Ica. Ica nggak bakal tahu kalau nggak dikasih tahu."


Jurus tiap perempuan. Setiap ada masalah dan pasangannya masih marah padanya, ia membalik seolah ia yang paling menderita karena marahnya si pasangan. Lantas, dengan begitu si pasangan akan merasa iba dan marahnya pun berakhir.


"Saya nggak tahu. Coba kamu pikir sendiri. Saya capek, mau tidur. Saya nggak lagi marah, kok. Kamu nggak tidur? Nggak mau nanti biar kebangun sama-sama pas tahajud nanti?" Akhirnya Bayu pun merespons Ica.


"Ica nggak mau tidur kalau Mas masih marah sama Ica. Pokoknya nggak mau. Mas harus baikan dulu sama Ica, Mas," rengekan yang kian manja itu terlontar dari mulut mungil Ica.


Si manja itu benar-benar menunjukkan manjanya. Kala Bayu kembali terdiam tak meresponsnya, Ica mulai bergelayut pada Bayu. Mulai dari memanggili Bayu seraya mengguncang-guncangkan lengan Bayu, kaki Bayu juga menjadi sasaran ayunannya, lalu sampai parahnya ia mengguncang-guncangkan badan Bayu. Bayu terus mengerang agar Ica berhenti bergelayut, tapi tak sedikitpun Ica hiraukan sampai ia mendapatkan jawaban yang ia inginkan.


Bayu memutar otak. Menggunakan skill berkomunikasinya untuk mengatasi kemanjaan Ica yang tak terkontrol kini.


Di tahannya Ica dengan memegang kedua pundaknya dan ditatapnya Ica tepat di manik matanya. Ia biarkan tatapan intens itu berlalu cukup lama, hingga menunjukkan semburat merah di pipi Ica yang kian merona.


Lantas, Ica yang sudah berhenti bergelayut karena tak berdaya dengan tatapan Bayu kini tak berdaya. Bayu mengambilnya kesempatan atas ketidakberdayaan Ica ini sebagai momen untuk memenangkan momen.

__ADS_1


Dipeluknya Ica seketika, di dekapnya Ica dengan penuh cinta.


"Ica sayang...., ayo tidur, ya. Jangan sampai kita telat bangun. Apa kamu nggak capek? Kerjaan di kantor tadi bahkan harus dibawa ke rumah, lho. Kamu nggak mau saya makin marah, kan? Kamu tahu banget kalau kerjaan kita tadi numpuk, sekarang kamu yakin masih mau begini terus, hmm?" ucap Bayu lembut, tepat di telinga Ica.


Rasanya Ica seperti melayang. Tak pernah ia tahu suami sekaligus bos galaknya ini bisa semanis ini. Meskipun ia bisa mengetahui ini adalah salah satu bakat bernegosiasi yang dimiliki oleh seorang Bayu Pramana Surya, ia tetap tak menyangkal bahwa pelukan ini begitu tulus dan Ica bisa merasakan rasa sayang yang disalurkan di sini.


Ica bergeming, memilih untuk tenggelam dalam dekapan Bayu yang sangat nyaman ini. Ia membalas pelukan Bayu dengan senang hati. Membiarkan sensasi seperti digelitiki kupu-kupu di perutnya.


"Ya, saya memang marah sama kamu. Meskipun kamu udah minta maaf, saya tetap masih kesal. Namun, sepertinya yang dari tadi saya butuhkan adalah pelukanmu, Ca. Buktinya, kesal saya langsung hilang saat kamu saya peluk," lanjut Bayu. Kini ia sudah mulai merambah ke rambut Ica sebagai objek untuk ia usap lembut.


"Mas, gimana kalau rencana bulan madu kita di majuin aja? Mas nggak lupa, kan, soal bulan madu itu?" tanya Ica yang kemudian melepaskan pelukan mereka yang dirasa sudah sangat cukup.


Mereka berdua duduk di kasur dan saling berhadapan.


Lantas Bayu kembali mengusap-usap lembut kepala Ica.


"Maaf, saya merencanakannya diam-diam. Dua hari lagi kita pergi. Saya sudah memilih tempat dan waktu penerbangan."


Ica terkejut bukan main.


"Hah? Sejak kapan, Mas? Ica pikir mas terlalu sibuk dan nggak ada waktu buat mikirin hal itu. Ica juga sangka Mas Bayu lupa soal keromantisan kita diperjalanan dinas waktu itu. Mas nyebelin banget sih jadi orang. Humph!"


Ica kini merajuk. membelakangi Bayu dan menolak usapan yang berusaha Bayu daratkan terus di kepala Ica.


Berlagak begitu, rupanya Ica ingin melanjutkan drama. Namun, Bayu ingat waktu. Ia layangkan kecupan di kening Ica dan lantas membaringkan diri begitu saja di ranjang.


"Saya tidur duluan, ya, sayang. Kamu kalau ngambek lagi, ntar cepat tua, lho." Begitulah cara Bayu meminta maaf. Meski terselubung, Ica paham maksudnya.


"Tunggu, sejak kapan Mas Bayu memanggilku dengan panggilan sayang?" batin Ica baru menyadari hal yang paling beda dari si galak yang rupanya bisa berbuat semanis ini.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2