Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Tidak Akur


__ADS_3

Pintu sudah di buka oleh Bayu. Namun, setelah terbuka pintu, Bayu tak mau mempersilahkan tamu itu untuk masuk.


"Bayu...," ucap sang tamu. Sesaat setelah kata itu terucap, Bayu dengan cepat menutup paksa pintu rumahnya. Ia tak suka dengan raut wajah sang tamu. Dengan kasar ia membanting pintu rumahnya saat menutup pintu, tak memperhatikan perasaan sang tamu yang diperlakukan kurang enak seperti itu. Setidak sukanya Bayu dengan tamu yang datang ini.


"Bayu! Buka pintunya. Bay...!" teriak sang tamu sambil menggedor pintu rumah Bayu. Teriakan itu tak cukup untuk menggerakkan hati Bayu agar membukakan pintu kembali.


"Ngapain kamu ke sini? Pagi-pagi gini? Aku sibuk. Maaf, tidak terima tamu," ucap Bayu berteriak pula dari balik pintu.


"Lo nggak berubah, ya, Bay! Tetap aja jadi pengecut! Lo takut ketemu gue, kan? Karena gue udah tahu dari Papa dan Mama kalau lo sama Ica harusnya lagi bulan madu. Terus, kenapa lo ada di rumah, Bay?" si tamu berapi-api. Ia sama sekali tak peduli akan mengganggu tetangga sebelah.


"Woy! Buka pintunya!" teriak si tamu makin keras.


Bayu menyerah. Ia tak ingin tamunya ini membuat keributan dan mengganggu Ica yang sedang sakit. Ia pun perlahan membuka kembali pintu rumahnya. Lalu, dengan kasar tamu itu menyerobot masuk dan dengan sesuka hati duduk di ruang tamu.


"Ada urusan apa kamu ke sini?" tanya Bayu dengan nada sinis. Tatapannya tak suka dengan sang tamu. Padahal, tamu yang datang tak lain dan tak bukan adalah adiknya sendiri, Dirga.

__ADS_1


"Langsung to the point, lalu tinggalkan rumah ini," tegas Bayu.


"Adiknya datang bukannya di sambut, malah langsung di usir. Galak banget sih jadi kakak. Padahal, nggak mungkin gue repot-repot dateng sepagi ini ke sini kalau nggak ngobrolin hal yang penting. Gue banyak kerjaan! Lupa, ya, kalau gue yang bakal nerusin usaha keluarga kita? Lupa juga siapa yang dengan egois lempar tanggung jawab gitu aja ke gue, dan bikin gue sibuk, hah? Seharusnya lo berterima kasih karena gue mau dateng langsung ke sini!" balas Dirga dengan sinis pula.


"Oke, sorry kalau gitu. Buruan gih, ngomong. Saya nggak mau buang-buang waktu kamu yang sibuk soalnya. Sebagai calon penerus perusahaan, nggak baik, kan, buang-buang waktu? Kalau gitu, silahkan bicara, hal penting apa yang membawa kamu repot-repot datang sepagi ini di saat kamu sedang sibuk-sibuknya. Waktu dan tempat saya persilahkan." Bak berkaca di cermin, dua orang ini benar-benar sama. Saling sinis juga saling membalikkan ucapan masing-masing. Padahal, sudah jelas-jelas mereka saudara. Tampaknya mereka tidak akur.


Keributan yang dibuat oleh Dirga ternyata mengusik Ica. Suara ribut-ribut yang sampai ke kamarnya, membuatnya penasaran ingin tahu siapa tamu yang tidak tahu sopan ini. Begitu sampai di tangga, ia baru tahu ternyata tamu itu adalah Dirga.


Ica tak melanjutkan langkahnya untuk masuk ke ruang tamu tempat tamunya dan Bayu berada. Selain akan membuatmu Bayu marah soal kesehatan Ica, ia masih meninggalkan kesan yang buruk pada Dirga. Bukan hal yang mudah untuk bergabung dengan mereka, apalagi suasana dua saudara itu terlihat sedang bersitegang. Tidak ada celah juga untuk masuk ke sana.


Ica juga penasaran, keperluan apa yang membawa Dirga pagi-pagi sekali datang ke sini. Dengan tak ada etikanya saat bertamu meskipun ke rumah kakaknya sendiri. "Ngapain sih si Dirga dateng?" ucap Ica pelan. Ia pun diam-diam menguping dari tangga. Karena suara mereka cukup besar, seisi rumah bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Agak kurang tepat kalau yang dilakukan Ica ini disebut diam-diam menguping. Tanpa menguping pun, apa yang mereka bicarakan bisa dengan bebas masuk ke telinga Ica.


"Bukan urusan kamu! Saya mau bulan madu di mana, ya, terserah saya. Apa. bulan madu wajib keluar rumah? Apa haram kalau bulan madu di rumah? Lagian, kalau kamu tetap membunyikan bel dan berteriak-teriak seperti itu terus, akan menggangu tetangga. Kamu bahkan nggak akan berhenti sebelum saya bukakan pintu. Puas?"


"Ho..., pinter banget lo cari alasan! Okelah, bisa di terima. Gue juga nggak bakal ngaduin ke orang rumah kalau ternyata lo dan istri bulan madunya di rumah aja. Tapi kayaknya seru juga, deh, kalau bilang ke mereka. Gue penasaran lihat wajah kecewa mereka karena seorang Bayu yang mereka banggakan ternyata nggak punya rasa cinta sedikitpun ke istri. Harusnya, istrinya pasti minta bulan madu ke luar kota, atau bahkan luar negeri, tapi Bayu malah melarang dan memilih di rumah aja. Mereka pasti bakal ngira kalau Bayu yang serba perfeksionis ini ternyata nggak punya rasa cinta sedikitpun untuk istrinya. Gue mau lihat juga, gimana pihak keluarga si istri, keluarga Arshad, yang berharap menantunya yang perfeksionis ini bakal perfect juga untuk menyikapi perasaan cinta si istri dengan HARUSNYA membawa untuk menciptakan momen bulan madu yang indah, malah merusak kata bulan madu. Menantu yang merusak makna bulan madu untuk anak mereka. Lo lupa kalau keluarga Arshad itu dari perusahaan terpandang? Apa kata orang kalau mereka dengar putra dari Surya Group dan putri dari Arshad Group hanya bulan madu di rumah saja? Hahaha, pasti lucu banget."

__ADS_1


"Bukan urusan kamu!" sela Bayu.


"Dan keluarga Arshad pasti bakal kecewa lagi. Karena ternyata menantunya ini nggak bisa bahagiain putri semata wayang mereka, karena nggak ada sedikitpun rasa cinta untuk putri mereka. Sebab yang menantunya cintai itu bukan putrinya."


"Jaga bicara kamu, Dirga! Jangan bawa-bawa masa lalu. Bicaramu seperti orang yang tak berpendidikan!"


"Hahahaha. Emangnya butuh pendidikan untuk bicara? Dasar!"


"Cukup basa-basinya. Apa cuma itu yang mau kamu bicarakan? Kalau sudah selesai silahkan pergi. Tahu di mana pintu keluarnya, kan?"


"Sekalian bongkar aja, deh, masa lalu seorang Bayu, bersama seseorang yang sebenarnya dicintainya. Pasti makin seru, deh. Hehehe,"


"CUKUP! SEKARANG KAMU KELUAR! JANGAN BUAT SAYA MENGATAKAN HAL YANG TAK INGIN KAMU DENGAR!" Amarah Bayu sudah pada puncaknya. Tembok yang ada di dekatnya ia pukul. Ia tak merasakan sakit sedikitpun karena itu.


"Oke, Fine! Gue mau bilang, Caca hubungin gue soal lo yang nggak ada ngerespons dia akhir-akhir ini. Dia nanya sekiranya gue tahu atau nggak. Gue bilang aja nggak tahu, karena gue nggak mau ikut campur urusan kalian lagi. Terus, dia nanya alamat lo, sampai mohon-mohon. Terpaksa gue kasih. Dan dia nggak lama pasti bakal ke sini. Lo jaga tuh istri lo supaya nggak makan hati karena cewek yang lo sukain main ke rumah."

__ADS_1


Dirga pergi setelahnya. Ia bukan mau mengalah, hanya saja mendengar suara Bayu yang menggelegar seperti tadi, membuat trauma baginya. Jika Bayu sudah semarah itu, tak ada untungnya memanas-manasi lagi.


...----------------...


__ADS_2