Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Istri Profesional


__ADS_3

Semua keluarga sudah pulang. Tinggallah Bayu dan Ica seorang di rumah. Cukup canggung untuk keduanya.


"Um..., Mas, kita ke kamar dulu, mau? Ica nggak pernah tahu juga kalau Mas Bayu punya rumah sebesar ini. Jadi, Ica mau diajak keliling, dong," pinta Ica dengan nada manjanya yang khas. Ia sudah terbiasa seperti itu saat di rumahnya. Ia tak sadar kalau Bayu agak risih dengan kemanjaannya itu.


Bayu menepis kerisihannya. Ia mengingat sekarang bahwa Ica adalah istrinya.


"Saya juga baru membelinya untuk keperluan pernikahan. Waktu dikatakan mau dijodohkan, saya udah cari-cari rumah yang pas untuk ditinggali. Selama ini juga fokus untuk ngisi perabotan rumah, jadinya setelah beli, nggak langsung pindah ke rumah ini," jelas Bayu seraya membawa Ica ke lantai dua tempat kamar mereka berada.


"Nah, ini kamar kita," ucap Bayu seraya membuka pintu kamar.


"Mas..., kamarnya besar banget. Bahkan lebih besar dari kamar Ica. Lemarinya juga nggak lemari pakaian, malah pakai walk in closet. Wah...., ada bath up juga di kamar mandi, lebih besar daripada bath up kamar Ica. Luas banget kamar mandinya. Ini sih, bisa naruh kasur lagi di sini." Mata Ica berbinar-binar saat berkomentar seraya menelusuri isi kamar mereka yang sangat luas itu. Bayu tersenyum melihat Ica yang bertingkah seperti anak-anak itu.


"Semuanya wajar. Kamar ini akan ditinggali oleh dua orang. Jadi, wajar jika semuanya terlihat lebih dari kamar kamu. Ini juga terlihat lebih juga jika dibandingkan dengan kamar saya di rumah keluarga Surya Group," tanggapan Bayu untuk komentar kagum Ica.


"Inilah kamar kita sebagai suami dan istri. Saya harap, kamu nyaman di sini."


"Pasti nyaman, sih, Mas."


"Alhamdulillah kalau gitu."


"Um..., tapi...," ujar Ica ragu. Tiba-tiba saja ia merubah moodnya yang terlihat sangat senang tadinya.


"Kenapa, Raisa?" tanya Bayu bingung dengan ketiba-tibaan itu.


"Rumah ini terlalu besar buat dibersihkan. Ica juga jarang banget bersih-bersih kalau nggak bersihkan kamar sendiri. Belum lagi, banyak jendela, rumah ini juga banyak banget yang harus dirawat baik-baik biar awet rumahnya. Belum lagi, Ica nggak bisa masak. Bisa sih kalau lihat resep dari internet. Bakal makan waktu lama untuk beradaptasi dengan rumah ini. Kalau Ica nggak bener beresin rumahnya, dan nggak jago masaknya, Ica minta maaf, ya, Mas."


Bayu menghembuskan nafas karena ucapan Ica ternyata tak perlu membuatnya khawatir berlebihan.


"Raisa! Jangan lakukan itu semua. Pekerjaan kamu udah banyak sebagai sekretaris saya. Lalu, pekerjaan pasti akan lebih banyak karena kamu udah jadi istri saya yang bertugas mengurusi saya. Urusan rumah, kita cari asisten aja. Jadi, kamu fokuslah menjadi sekretaris dan istri yang profesional."


"Apa urusan makanan termasuk pekerjaan asisten juga?"


"Jika kamu pikir itu bukan tugas istri, ya, kembali ke kamu."

__ADS_1


"Bunda bilang masak itu urusan istri. Ica akan berusaha jadi istri yang profesional dengan meningkatkan skill masak."


"Bagus kalau gitu." Ica tersenyum seraya mengangguk menanggapi.


"Besok kita akan kembali bekerja seperti biasa. Saya minta, kamu tahu bagaimana memposisikan diri. Kapan berprofesi sebagai sekretaris, dan kapan berprofesi sebagai seorang istri. Kamu mengerti?" titah Bayu pada Ica. Lagi-lagi Ica mengangguk menanggapi.


"Oiya, kamu juga udah merubah panggilan semenjak kita menikah, kan? Saya harap, saat berurusan dengan pekerjaan kantor, kamu tetap bersikap formal seperti biasanya. Saya nggak mau tiba-tiba di panggil Mas seperti malam itu. Lagi-lagi saya mengingatkan kamu untuk profesional."


"Malam itu?" batin Ica bingung. Ia tidak mengangguk untuk menanggapi ucapan Bayu.


Ica mengingat kembali kejadian tentang malam itu yang disebutkan oleh Bayu. Kenapa Bayu terdengar begitu percaya diri saat berkata Ica telah menyebutnya tiba-tiba dengan panggilan Mas? Padahal, baru sejak sarapan tadi ia membuat panggilan itu.


Ica masih penasaran. Ia mengingat-ingat kembali apa saja yang ia ucapkan saat sebelum tidur. Benar! Ica sangat rentan kalau sedang tidur di saat sedang lelah-lelahnya. Saat ia berbicara, ia akan melantur dan jujur. Ica samar-samar ingat kalau dirinya telah memberikan panggilan Mas ke Bayu. Tapi ia tak ingat betul apa yang ia katakan seluruhnya. Ica harap, apapun itu yang ia katakan tidak membuat dirinya malu. Semoga kejujuran yang ia ucapkan saat tak sadar itu tidak memicu terjadinya masalah dikemudian saja. Ica hanya bisa berharap.


...----------------...


Waktu subuh tiba. Ica cukup tidur nyaman meskipun tidur dengan Bayu dan harus mengenakan hijab. Memang sulit menunjukkan sesuatu yang selama ini telah ia tutup dari yang bukan mahramnya. Ia harus belajar pelan-pelan untuk membiasakan diri, tidak baik menutup sesuatu yang sudah halal di tatap oleh suaminya itu.


Ia memulai tugasnya sebagai istri hari ini. Jadi, ia harus memberikan kesan yang baik. Namun, sepertinya Ica kalah cepat dengan Bayu yang ternyata sudah berpakaian rapi untuk berangkat ke masjid.


"Kenapa lihatin saya gitu amat?" ucap Bayu yang risih dengan pandangan Ica.


"Ng-nggak. Ica cuma terpesona aja lihatnya. Kelihatan beda dari biasanya. Lebih cakep, he'eh." Entah kenapa Ica malah jujur. Setelahnya keduanya jadi memerah akibat ucapan Ica.


"K-kamu mau shalat subuh juga?" tanya Bayu untuk menutupi kegugupannya dan pipinya yang merona.


"Aa..., nggak. Ica datang bulan mulai dari semalam. Ica bangun mau antar Mas Bayu aja sampai depan rumah. Terus, nyambut Mas Bayu lagi kalau udah sampai rumah."


"Ooh, gitu."


"Mas Bayu sebelumnya udah bangun juga, ya?" Ica melihat sajadah yang belum terlipat di ruang kosong dekat ranjangnya. Ica sangat yakin sebelumnya Bayu pasti sudah bangun untuk melaksanakan shalat tahajud. Tiba-tiba, Ica jadi merasa makin kagum dengan suaminya itu.


"Aa..., saya lupa melipatnya."

__ADS_1


"Udah, biar Ica aja yang lipat. Mas Bayu berangkat aja ke masjid. Udah ambil wudhu belom?"


"Udah."


"Sayang banget. Padahal mau salim dulu kalau belum ambil wudhu tadi," batin Ica kecewa. Tapi sebaik mungkin tidak ia tunjukkan melalui ekspresi wajahnya.


Ica bersiap untuk mengantar Bayu sampai pintu rumah sebelum ke masjid.


"Pas pulang nanti mau dibuatkan teh? Teh pahit atau teh manis?" tawar Ica. Ia benar-benar mencoba untuk menjadi istri yang profesional.


"Buat teh hangat, jangan terlalu manis."


"Oke, Mas."


Ica beberes apa yang bisa ia bereskan seraya menunggu Bayu pulang dari masjid.


Hingga akhirnya suara salam terdengar, menandakan Bayu yang telah pulang dari masjid.


Ica segera menyambut Bayu. Kemungkinan menyalimnya. Ia mengulurkan tangannya.


"Mau ngapain?" tanya Bayu bingung.


"Mau salim Mas Bayu. Terus, abis itu Mas Bayu kecup keningnya Ica. Kayak gitu sih kalau Ica lihat bunda dan ayah setiap hari." Ica mengucapkan itu dengan polos. Sedangkan Bayu yang mendengarnya sangat berasa damage-nya sampai dibuat gugup dan merona.


"S-saya tidak mau!"


"Hah? Kenapa?"


"Saya menjaga wudhu. Karena saat menyentuh kamu wudhu saya akan batal. Jadi, lebih baik tidak usah."


"Mas Bayu emang terbiasa jaga wudhu? Biasanya sanggup sampai kapan?"


"Sampai duha tiba."

__ADS_1


"Wah..., lama banget, ya. Ya udah, deh, nggak masalah. Ica masih bisa menyambut dengan kayak gini aja, kok."


...----------------...


__ADS_2