
Alarm berbunyi, baik dari ponsel Ica maupun Bayu. Waktu yang disetel berbunyi lima belas menit sebelum adzan subuh berkumandang. Namun, keduanya masih terlelap di tempatnya masing-masing. Bayu yang baru tidur kurang lebih setengah jam serta Ica yang masih kelelahan. Tampaklah mereka sulit bangun di jam biasa mereka bangun itu.
Adzan subuh berkumandang. Ica terhenyak dari tidurnya. Lalu, seperti orang mabuk, ia melihat sekelilingnya, memastikannya ia berada di tempat yang aman.
"Aa..., hijabku?" Ica langsung gelagapan mencari hijabnya setelah sadar ia melepaskan itu sebelum tidur. Ia juga segera memasangkan dengan cepat ke kepalanya. Takut jika Bayu melihatnya. Bicara tentang Bayu, Ica tidak melihat keberadaan Bayu di sampingnya. Mungkin Bayu telah pergi ke masjid, pikirnya. Hari ini ia teledor karena baru bangun saat adzan subuh berkumandang. Ia tidak sempat bangun untuk mengantar suaminya. Gagal sebagai istri.
Saat ia ingin ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, Ica melewati sofanya yang terlihat lebih menonjol dari biasanya. Terlihatlah gundukan yang ditutupi selimut berwarna gelap, menutupi warna asli sofa itu. Karena penasaran, Ica ingin melihat isi di dalamnya dulu sebelum mengambil wudhu.
Saat ingin membuka selimut itu, ia terkejut karena selimut itu telah terbuka dengan sendirinya. Bayu menurunkan selimut yang menutupi wajahnya. "Mas Bayu? Kenapa belum pergi ke masjid? Terus, kenapa tidur di sini, sih?" ucap Ica keheranan.
"Mas, bangun, Mas!" Ica memilih membangunkan Bayu terlebih dahulu.
Berkali-kali Ica membangunkannya dengan suara, terkadang dengan mengguncangkan badan Bayu juga, tapi Bayu masih belum mau bangun juga. Kemudian, Ica teringat tentang bagaimana cara ia membangunkan Bayu saat akan sarapan bersama setelah pesta pernikahan mereka itu. Benar, Ica membisikkan langsung ke telinga Bayu dan Bayu langsung terbangun. Ica ingin mencobanya sekarang.
"Mas..., bangun, udah adzan subuh, lho," ucap Ica. Ia tidak terlalu berbisik ke telinga Bayu, mungkin itu kurang efektif untuk langsung membangunkan Bayu.
Lalu, Ica berusaha untuk menempel sedekat mungkin dengan telinga Bayu dan mengulangi ucapannya. "Mas Bayu..., bangun. Ayo shalat subuh. Adzan udah selesai berkumandang," ucapnya. Dan, berhasil. Ucapan Ica yang langsung dibisikkan di area paling sensitif Bayu, ditambah isi ucapan Ica berhasil membuat Bayu terhenyak.
"Sekarang jam berapa? Kenapa kamu nggak bangunin saya?" tanya Bayu resah.
"Ee..., maaf, Mas. Biasanya, kamu, kan, bangun sendiri, Mas. Kamu juga tumben bangun telat gini." Ica merasa bersalah jadinya, tapi ujung-ujungnya malah menyalahkan Bayu juga.
"Kamu pikir ini gara-gara siapa, hah? Seenaknya tidur seperti itu dan nggak mikir kalau ada saya juga di kamar ini. Dasar!" Dan akhirnya Bayu pun kembali ke watak aslinya yang suka marah-marah.
"Ee.....? Berarti Mas Bayu lihat Ica nggak pakai hijab?" tanya Ica terkejut. Padahal, ia sangat berharap Bayu tak melihat rambutnya setelah tahu Bayu tidak tidur di ranjang yang sama dengan dirinya.
"Pakai nanya lagi!" Bayu mulai sarkas.
"Lah? Ica salah emangnya kalau nanya?" Ica pun membalas dengan sarkas.
__ADS_1
"Jangan buat masalah! Saya hanya tidur satu jam hari ini. Cepat ambil wudhu dan laksanakan sholat! Saya mau ke masjid segera."
"Mas Bayu nggak sempat lagi, lho, kalau mau ke masjid."
"Iya, saya tahu. Shalat di rumah aja."
"Sendirian?"
"Berjamaah lah! Kamu jangan menanyakan hal yang tidak perlu! Kalau ada kamu sebagai istri saya, kenapa saya harus shalat sendirian?" Bayu tak sadar kata-katanya menyentuh hati Ica.
"Mas Bayu yang jadi imam?" tanya Ica terdengar bahagia.
"Raisa, hentikan! Kamu pikir saya yang jadi makmumnya? Jangan tanyakan sesuatu yang telah ada jawabannya! Kamu tahu saya sedang kurang tidur! Jangan membuat masalah!" Bayu mendahului Ica untuk mengambil air wudhu lebih dulu.
"Mas Bayu..., ini pertama kalinya kita menjalani shalat berjamaah. Rasanya tak dapat dipercaya. Selama ini kamu bangun untuk shalat tahajud, tapi nggak pernah bangunin aku juga untuk shalat berjamaah. Subuh ini, aku bersyukur kamu bangun telat. Mungkin ini salah, tapi aku jujur mengakuinya," batin Ica bahagia. Senyumnya mengembang seraya memikirkannya.
"Cepat! Saya udah selesai berwudhu, nih," ucap Bayu mulai rendah volumenya. Mungkin api amarahnya padam bersamaan dengan tersiramnya wajahnya dengan air wudhu. Wajah Bayu jadi terlihat berseri-seri di mata Ica meskipun hari ini katanya kurang tidur.
Dan shalat pun berlangsung dengan khidmat. Ica tak pernah bosan mengagumi Bayu dengan setelan shalatnya itu. Setelan yang paling ia sukai dari semua penampilan yang pernah Bayu tunjukkan. Kini, Ica bersama dengan Bayu dengan setelan shalat itu, menjadi makmum Bayu di belakang. Hanya dengan itu saja, lagi-lagi membuat Ica bahagia.
Selesai berdoa, Ica malah mendatangi Bayu. Menyerobot mengambil tangan kanan Bayu untuk ia salim.
"Raisa! Apa yang kamu lakukan?" tanya Bayu kuat, membuat Ica terkejut.
"I-Ica cuma salim doang. Emang nggak boleh? Itu, kan, yang harusnya dilakukan istri selepas menunaikan shalat berjamaah bersama suaminya?" Ica takut-takut menjawabnya.
"Kamu lupa? Saya jaga wudhu!"
"M-maaf, Mas. Ica lupa. Sekali lagi Ica nggak akan lakuin lagi. Sekali lagi maafin Ica, Mas." Saat kikuk begini, kalimatnya menjadi tidak efektif.
__ADS_1
"Udahlah, saya bisa ambil wudhu lagi." Bayu pun beranjak dari duduknya ingin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Mas!" cegat Ica di pertengahan jalan Bayu.
"Apa?"
"Mumpung kamu lagi nggak ada wudhu, seharusnya kamu lanjutin, dong!"
"Lanjutin apa?"
"Kecup kening Ica setelah Ica salim Mas Bayu," ucap Ica penuh keberanian.
"Hahaha, jangan bercanda! Dari mana kamu belajar soal itu? Lupakan! Saya mau kembali tidur setelah ini." Bayu malah menertawai Ica. Ica kesal jadinya telah mengumpulkan keberaniannya untuk mengucapkan hal yang memalukan seperti tadi.
Bayu segera membereskan alat shalatnya. Kemudian berbaring di ranjang untuk tidur kembali menebus waktu tidurnya yang kurang.
...----------------...
Satu jam sebelum berangkat ke kantor. Sejak subuh tadi, Bayu memutuskan untuk tidur kembali, tapi tidak bisa. Ia memutuskan untuk lanjut bekerja ke ruang kerjanya untuk mengisi waktu sampai tiba jam berangkat ke kantor.
Ica menyuguhkan teh manis untuk menemani Bayu bekerja. Lalu, ia mencoba untuk sedikit melihat ponselnya untuk mengisi waktu. Sejak tiba di panti asuhan itu, ia sama sekali tidak membuka ponselnya.
Senyum mengembang saat terlihat chat paling atas, Bayu ternyata membalas chatnya semalam. Ia tidak sabar menantikan hari di mana Bayu dapat ikut bersama Ica untuk mengunjungi anak-anak panti. Tak ia sangka, Bayu dapat berlaku seperti ini. Mungkin Bayu memikirkan sikapnya pada Ica yang buruk, maknanya ia ingin bersikap ramah kepada Ica dengan mengirim chat berisi keramahan. Pikiran Ica mungkin sudah sangat liar, ia terlihat banyak berharap.
Banyak berharap! Ica melihat chat selanjutnya yang dikirim oleh Caca. Sebuah foto di mana Bayu tersenyum tulus, tak lupa note berupa pesan yang membuat Ica panas. Ica yakin itu adalah foto diam-diam yang diambil oleh Caca, sebab senyum Bayu terlihat sangat natural di sana. Pasti Bayu bahagia saat melakukan pertemuan dengan Caca. Keramahannya tadi, sebuah balasan chat itu apa Bayu mengirimkan ke Ica dengan tulus juga? Bayu melakukan itu untuk formalitas, pikir Ica setelahnya. Bayu hanya masih memiliki rasa bahagia yang tersisa saat bertemu dengan Caca, sehingga menyalurkan itu juga saat ingin membalas chat dari Ica yang isi chat nya itu juga berhasil membuat Ica sempat tersenyum tipis membacanya.
"Apa yang kalian bicarakan sampai kamu terlihat bahagia seperti ini, Mas?" batin Ica bertanya-tanya.
"Mas Bayu bahagia banget di foto ini. Kalau diingat-ingat, kayaknya nggak ada kenangan bahagia di antara kita. Mas Bayu nggak pernah nunjukin senyum atau tawanya di depan aku. Berarti, Mas Bayu nggak bahagia saat bersamaku."
__ADS_1
...----------------...