
Bayu dan Ica sedang makan siang di luar. Saat sedang fokus dengan makanan, Bayu membuka percakapan. "Raisa, sampai di rumah nanti, ada yang ingin saya sampaikan ke kamu," mulainya.
"Apa yang mau dibicarakan?" tanya Ica bingung.
"Tentang pernikahan kita. Kita udah menikah sekarang. Harusnya kita membahas tentang kewajiban dan hak kita masing-masing," jawab Bayu. Ia seperti berbicara dengan seorang klien, padahal yang di depannya adalah istrinya. Pembicaraan ini pun terdengar seperti kerja sama antar dua perusahaan yang menginginkan keuntungan lebih dengan negosiasi.
"Ya udah. Di bahas di rumah," balas Ica seadanya.
"Oiya, asisten untuk mengurus rumah udah dapat. Karena datang dari desa, saya menyuruhnya untuk istirahat dulu. Nanti sore pekerjaannya pertamanya adalah menyapu dan mengepel lantai kecuali area kamar dan ruang kerja." Bayu membuka topik percakapan baru. Tampaknya ia sudah tidak segan berbicara dengan Ica peraih rumah tangga mereka.
"Asistennya umur berapa, Mas?" respons Ica seraya mengunyah makanannya.
"Mas? Raisa, ini masih termasuk urusan pekerjaan meskipun ini di jam istirahat makan siang," protes Bayu untuk respons Ica.
"Ya elah, mulai deh perfeksionisnya," ucap Ica dalam hati. Ia agak kesal karena Bayu mempermasalahkan hal kecil seperti itu. Lagian, kalau di luar kantor dan jam istirahat, harusnya Ica bukan sebagai sekretaris menemani Bayu di sini, tapi sebagai istri.
"Iya iya maaf. Jadi, gimana, asistennya umur berapa, Pak?" ralat Ica tak mau ambil pusing.
"Seorang janda yang ditinggal wafat suaminya. Umur empat puluh tahun. Kayaknya nggak punya anak juga."
"Ooh, gitu. Kok cepat banget dapatnya, Pak?"
"Iya, saya meminta bantuan dari agen dan karena bilang perlu cepat dan sudah membayar lebih, akhirnya datanglah orangnya hari ini."
Ica tersenyum mendengar alasan Bayu. Sepertinya pembicaraan tentang tugas Ica sebagai istri dan sekretaris Bayu benar-benar dipertimbangkan Bayu. Ica merasa terharu karena Bayu mau bertindak cepat untuk kenyamanan Ica menjalani dua profesinya sekarang.
"Terimakasih banyak, ya, Pak," ujar Ica seraya menatap Bayu lekat.
"Untuk?" tanya Bayu bingung.
"Anda sampai repot mencarikan asisten cepat-cepat untuk saya. Anda benar-benar memikirkan pekerjaan saya yang juga banyak. Terimakasih telah memikirkannya dan bertindak cepat. Selain menjadi bos profesional, saya rasa Anda telah menjadi suami profesional sekarang," ujar Ica. Setelah mengatakannya, ia melanjutkan aktivitas makannya.
Bayu, ia yang mendengar ucapan Ica itu terganggu karenanya. Di puji oleh seorang istri ternyata begini rasanya. Tanpa sadar, ucapan Ica itu telah menyentuh hati Bayu dan membuatnya berdesir. Bayu bahkan refleks menunjukkan senyum tipis karenanya. Mungkin Ica tak melihat itu.
__ADS_1
...----------------...
Pulang kerja, pulang ke rumah barunya bersama Bayu. Ica merasa agak aneh karena tidak pulang ke rumah sang Bunda. Ia juga belum terbiasa dengan rumah baru ini karena masih tinggal satu hari di dalamnya.
Saat masuk, rumah sudah sangat bersih. Bayu dan Ica senang dengan pekerjaan asistennya itu.
"Bi, udah makan siang atau belum, tadi?" Ica bertanya pada asistennya. Ana namanya, orang yang sangat ramah dan santun.
"Udah, nyonya."
"Jangan panggil nyonya, ah. Nggak enak di dengar. Panggil aja Ica."
"Baik, Non Ica."
"Iih...., ya udah deh, panggil gitu juga nggak masalah." Ica kemudian berlalu setelah menanyakan urusan perut asistennya itu. Kembali ke kamar untuk menemui Bayu yang baru selesai mandi.
Sebenarnya, ia sengaja keluar kamar saat Bayu mandi. Takut jika melihat Bayu hanya berbusana dengan handuk saja, jadi ia menunggu di meja makan sekitar setengah jam. Saat menemui Bi Ana di depan meja makan, ia berbasa-basi sebentar sebelum menanyakan urusan perut asistennya itu.
"Jadi, Mas, apa yang mau kamu bicarakan soal pernikahan kita?" ujar Ica yang duduk di sofa kamar, sedangkan Bayu masih merapikan diri untuk persiapan shalat maghrib di masjid.
"Kenapa nanya? Harusnya inisiatif sendiri lah. Dasar suami nggak peka," batin Ica mengeluh. Ingin sekali ia membuat Bayu tak berkutik sekali.
"Kalau manggilnya sayang, boleh?" uji Ica. Ia benar-benar melakukannya.
"Jangan bercanda!" tolak Bayu mentah-mentah.
"Serius, kok. Bisa, Mas?"
Bayu tersenyum menyeringai. "Sepertinya itu mustahil," ucapnya.
Ica menarik nafas panjang. Meminta Bayu untuk memanggilnya "Sayang", padahal Bayu memiliki orang lain yang ia sayang. Ironis sekali memang.
"Iya, ya. Kamu juga manggil pakai nama depan doang, 'Raisa'..., gitu. Mana bisa langsung manggil sayang kalau panggil Ica dengan panggilan 'Ica' aja nggak bisa. Dipendekin jadi 'Ca' doang lebih nggak bisa. Ica aja yang terlalu berharap. Maaf, ya, Mas," Ica mengungkapkan kekecewaannya secara tak langsung. Mendengar itu, Bayu mendekat ke Ica dengan gusar.
__ADS_1
"Kamu seenaknya bicara seperti itu. Memangnya kamu bisa memanggil seperti itu ke saya?" tantang Bayu dengan emosi yang sangat kentara.
"Hah? Mas apaan, sih, tiba-tiba marah. Ica nggak mempermasalahkan itu lagi, lho, padahal." Ica protes karena tak suka dengan sikap Bayu yang tiba-tiba marah begitu.
"Cukup jawab, bisa atau nggak?" tantang Bayu.
"Bisa, lah."
"Buktikan!"
"Dalam konteks apa dulu?"
"Terserah!"
"Dih..., terserah katanya. Itu kan kosa kata cewek. Dasar!" batin Ica mendumal kesal. Ia memutar bola matanya sebagai respons sikap Bayu ini.
Ica berpikir lagi untuk membuat pernyataan dengan panggilan "Sayang" untuk membuat Bayu tak dapat berkutik. Ia ingin merasakan kemenangan satu kali saja.
"Um, sekarang udah mau maghrib, nih. Sayang nggak apa-apa di sini terus? Masjidnya bukannya agak jauh, ya? Apa Sayang mau ngizinin Ica untuk cium tangan sebelum berangkat ke masjidnya? Bolehkan, Sayang?" ucap Ica dengan manja.
"Stop! Kamu nggak cocok ngucapinnya," respon Bayu. Ucapan Ica terdengar geli dan menjijikkan, pikir Bayu. Tapi ia menahan untuk tak mengucapkan langsung. Kalau ia ucapkan, bisa-bisa ia tak jadi berangkat ke masjid karena harus beradu argumen dulu dengan Ica. Untuk menghindari itu, Bayu yang telah siap merapikan diri pun langsung berlalu dari pandangan Ica dan keluarga kamar.
"Eh, Mas Bayu sayang, mau ke mana?" tanya Ica saat pintu kamar telah terbuka.
"Udah saya bilang kamu nggak cocok ngucapinnya. Berhenti membuat panggilan seperti itu! Cukup bicaranya, kita lanjut setelah makan malam setelah isya. Pesan food delivery nanti, sekalian untuk Bi Ana juga. Saya mau langsung berangkat. Dan kamu nggak perlu mengantar sampai ke depan rumah, begitulah seterusnya. Kamu juga nggak perlu cium tangan saya atau menyambut saya di depan rumah setelah pulang dari masjid, saya menjaga wudhu. Saya juga nggak terlalu suka seorang wanita yang terlalu tunduk dengan suaminya. Sekarang udah bukan jamannya patriarki lagi," ujar Bayu lugas dan tegas.
"Hati-hati di jalan, Sayang," ucap Ica lagi tak ingin menyerah untuk menang kali ini saja. Namun, ia malah ditatap dengan pandangan tak suka dan sinis dari Bayu. Ia langsung ciut nyalinya.
"M-Mas Bayu, hati-hati di jalan. Assalamu'alaykum," ralat Ica kikuk setelah mendapat tatapan sinis dari Bayu.
"Wa'alaykumussalam," jawab Bayu gusar. Menutup pintu kamarnya pun dengan gusar.
Bayu dan Ica tetaplah menjadi pribadi mereka yang dulu meskipun sudah menikah.
__ADS_1
...----------------...