
Karena berdekatannya posisi duduk Caca dan Bayu, mereka sering ditempatkan dalam satu kelompok belajar bentukan guru atau bentukan pribadi. Seiring waktu, Bayu dan Caca menjadi dekat dan banyak mengobrol. Bayu yang lebih suka menyendiri dan hanya peduli dengan dirinya sendiri harus menghabiskan energinya lebih banyak untuk meladeni yang namanya "kerja" dan "berkelompok" ini. Tentang sekelompok, teman sekelompok Bayu benar-benar memanfaatkan sifat Bayu yang tak pedulian jika memang Bayu yang akan mengerjakan semuanya sendiri, selagi tak merugikan dirinya. Bayu bukan tipe yang suka cari masalah jika teman sekelompoknya tak bekerja. Nama mereka pasti akan selalu Bayu tulis dalam kelompok dan tak melakukan pengaduan apapun ke guru.
"Bayu, kamu yakin mau biarin mereka kayak begini terus? Mereka itu juga bagian dari kelompok, harusnya mereka ikut kerja, dong. Ini udah gak kerja, tapi dapat nilai sempurna juga. Padahal ini yang ngerjain, kan, juga kamu," ucap Caca yang ternyata sudah sangat risih dengan Bayu yang terlalu baik tak menggubris teman kelompoknya yang tak ikut diskusi hari ini.
"Masa bodo. Selagi aku bisa kerjai sendiri, aku nggak butuh bantuan orang lain. Aku juga nggak mau mengurusi mereka. Biar mereka yang nanggung akibatnya sendiri pada saatnya," balas Bayu.
"Lagian, bukannya ini yang kamu suka? Kamu bisa berduaan sama aku, lihatin wajah aku diam-diam, kamu potret pas aku lagi nggak sadar, terus nggak pernah sekalipun perhatiin aku ngomong karena fokus kamu bukan ke ucapan aku melainkan ke wajah aku," sambung Bayu dengan percaya diri yang tinggi, tapi tatapan matanya masih mengarah ke layar laptop.
"Iih, kegeeran, deh. Ngarang! Kepedean!" semu merah di pipi Caca mulai terlihat. Karena memang benar, selama ini Caca melakukan persis seperti yang Bayu tuduhkan, secara diam-diam. Ia seperti maling yang ketahuan mencuri.
"Aku diam-diam begini juga sering memperhatikan. Selama ini aku sengaja nggak membeberkannya karena aku merasa nggak terganggu dengan itu. Ya, itu tadi. Selama nggak merugikan diriku, aku diam."
"Terus, kenapa tadi di bocorin? Nggak mikirin perasaan cewek, deh, heran. Gimana jadinya kalau perasaan aku udah ketahuan gini. Malu banget aku, nih."
"Perasaan apa? Emang kamu suka sama aku?"
"Iiih, Bayu! Bodo ah! Kerjain tuh sendiri power poinnya. Ada nggak ada aku juga nggak ngaruh, kan? Toh aku juga cuma liatin kamu kerjain semuanya sendirian. Bye!"
"Ee..., malah ngambek. Dasar cewek!"
"Ih..., Bayu kamu ngeselin, ya? Aku masih denger tahu! Humph!"
Barulah Caca benar-benar pergi dengan langkah cepatnya. Meninggalkan Bayu yang menurutnya sudah keterlaluan tak pekanya.
...----------------...
__ADS_1
Hari presentasi berkelompok tiba. Baru kali ini Bayu tak menuliskan semua nama anggota kelompoknya. Terlihat yang tertulis di sana hanya nama lengkap dirinya dan Caca.
"Sebelum kelompok kalian berpreeentasi, Bapak ingin bertanya. Bayu, Caca, kenapa hanya ada dua nama saja di sini, dan itu hanya nama kalian? Ada apa dengan anggota yang lain yang nggak ditulis namanya di sini?"
"Ee... Caca nggak tahu, Pak. Soalnya, soft copy power poin dari awal Bayu yang pegang," jawab Caca cepat saat mata sang guru mengarah padanya.
"Bay, nama kita kok nggak ditulis kayak biasanya?"
"Iya, Bay. Bukannya udah biasa kalah yang ngerjain Lo sendiri, Bay?"
"Bay, Lo nggak peduliin soal ini biasanya, kan? Kenapa gini? Lo mau kita yang nggak Lo tulis jelek namanya dan nggak dapat nilai?"
"Bay, jawab!"
Bisik-bisik anggota kelompok yang lain menyerbu Bayu, tak terima namanya tak tertulis di tugas itu. Bahkan temannya yang terakhir bicara itu sempat mengancam Bayu dengan menarik ketah baju Bayu sejenak. Namun, Bayu secara berani menepis tangan yang menarik kerahnya itu dan membalasnya dengan tatapan menantang.
"Maaf, atas keributannya, Pak. Izinkan saya menjawab. Benar bahwasanya soft copy power poin ada sama saya, karena tugas ini memang dibuat di laptop saya. Saya secara sadar menuliskan hanya nama saya dan Caca saja di daftar nama anggota kelompok ini dikarenakan memang hanya kami berdualah yang bekerja dan berdiskusi untuk tugas ini. Jadi, sudah selayaknya saya hanya menuliskan nama yang berkontribusi saja pada tugas ini, begitu saya pikir, Pak," jawab Bayu berani dan menatap lurus ke arah sang guru. Membuat tatapan yang mantap tanpa kebohongan.
"Ooh, oke, Bapak mengapresiasi kejujuran dan keberanian kamu. Kalau begitu, kelompok kamu silahkan semuanya duduk. Bapak sudah tahu harus memberikan nilai seperti apa untuk kalian. Tidak usah repot-repot presentasi."
"Baik, Pak. Izin kembali ke tempat duduk," jawab Bayu.
Mereka tidak jadi berpresentasi dan kembali ke tempat duduknya masing-masing. Caca kembali dengan perasaan yang heran, lalu sisa teman sekelompoknya tadi kembali dengan perasaan marah dan menaruh dendam pada Bayu.
Bayu tak mengkhawatirkan apa yang akan mereka lakukan pada Bayu, karena Bayu bisa jamin tak akan ada yang bisa protes langsung. Karena Bayu yang punya kekuatan di sini.
__ADS_1
...----------------...
Saat jam istirahat, Caca mengejar Bayu yang sepertinya akan pergi ke kantin. Caca yang heran dengan sikap Bayu saat akan presentasi tadi mencegat Bayu di koridor.
"Bay, apa itu tadi? Bukannya kamu bilang kamu nggak peduliin mereka? Lihat tuh mereka, kayaknya dendam sama kamu," ucap Caca.
"Kamu bukannya marah sama aku? Ini serius kamu mau ngobrol?" tanya Bayu Balik, bukannya merespons.
"Iya aku marah soal itu. Tapi sekarang udah nggak lagi. Aku lebih penasaran sama sikap kamu yang tadi," jawab Caca.
"Aku rasa, harusnya itu yang kamu mau. Aku ngelakuin itu karena pengaruh kamu, karena kamu kelihatan kesal sama mereka. Tapi dipikir-pikir, aku juga harus bikin mereka jera, jadi mereka bisa disiplin. Kamu juga, soal kemarahan kamu, aku pikir dengan aku ngelakuin ini kamu bakal lebih baik moodnya."
"Iya, aku puas kamu gituin mereka. Biar kapok tuh mereka nggak main nebeng nama aja. Makasih, ya, Bay. Mood aku jadi happy lagi. Aku juga salut sama kamu bisa senekat itu tiba-tiba."
"Soal kamu yang marah waktu itu, sorry, ya."
"Um..., aku juga minta maaf, Bay. Soalnya main kabur gitu aja dan nggak nemenin kamu sampai akhir ngerjain tugasnya."
"Aku pikir-pikir, aku nggak masalah sama sekali sama perasaan kamu ke aku itu. Aku juga ngerasain hal yang sama. Karena itu juga aku biarin kamu ngelakuin apapun sesuka kamu yang berkaitan sama aku."
"Ee?" respons Caca, tiba-taba bola matanya terlihat seakan mau keluar karena tak menyangka mendengar sejenis pengakuan Bayu itu.
"eeEEEEE? Malah diguntungin, ditinggal gitu aja ke kantin. Aaarrgh..., Bayu, ih!"
"Ngerasain hal yang sama itu apa maksudnya? Perasaan kamu ke aku yang sama? Berarti, kamu juga ada perasaan suka juga ke aku? Ini gimana sih malah bikin perasaan penasaranku nggak kelar-kelar?" omel Caca dalam hati. Ia kemudian kembali ke kelasnya untuk mencerna ucapan Bayu barusan.
__ADS_1
...----------------...