Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Meluapkan Semuanya


__ADS_3

Akhir pekan itu kini tiba. Hari Minggu tepatnya jadwal pertemuan Bayu dengan Caca dilaksanakan. Bayu memilih bertemu di jam makan siang karena itu pasti waktu yang ramai jika ingin melakukan pertemuan di restoran. Jadi, ia tak perlu khawatir berduaan dengan Caca karena disekitarnya ramai.


Dilain sisi, Ica malah kesal dengan Bayu yang sengaja pergi saat jam makan siang. Padahal, Ica sudah susah payah belajar masak dengan Bi Ana untuk berusaha memasak makanan untuk Bayu.


Ica memang baru benar-benar memasak untuk Bayu hari ini. Itu sengaja ia lakukan untuk memberi kode ke Bayu agar makan masakan Ica dulu di rumah sebelum bertemu dengan Caca. Padahal Bayu juga mampir ke dapur dan melihat Ica memasak, tapi tetap saja memilih keluar saat itu juga. Ia ke dapur hanya mengambil persediaan obat mag saja ternyata. Itu juga untuk berjaga-jaga kalau magnya kambuh sebelum waktu pertemuannya dengan Caca tiba.


"Bi Ana, kalau Mas Bayu mencari Ica, tolong bilang untuk baca chat Ica, ya. Ica mau pergi ke panti asuhan dulu," ujar Ica di meja makan yang telah selesai makan siang. Sendirian tentunya.


"Oke, Non," jawab Bi Ana.


Ica memang akan mengunjungi panti asuhan tempatnya menjadi donatur tetap. Tempatnya biasa mengalihkan perhatian saat sedang stress karena suatu hal, tempat paling ampuh untuk melepaskan beban pikiran bersama anak-anak panti. Ica mengakui, ia sedang stress sekarang.


Tepat satu jam setelah Bayu berangkat, Ica pun berangkat. Tak lupa untuk mengabari Bayu karena akan keluar rumah. Menurut buku tentang pernikahan yang ia baca, ia harus izin pada suami untuk keluar rumah. Mengirim kabar melalui chat saja, Ica kira sudah mewakili untuk meminta izin Bayu. Lagian, Ica hanya melakukan kunjungan bulanan saja untuk melihat anak-anak panti di sana. Setelah terakhir kalinya ia menemui mereka saat mereka datang ke pesta pernikahan Ica.


...----------------...


Ica memborong minimarket terdekat dengan jajanan dan minuman untuk anak-anak panti. Ia meminta tolong staff panti untuk membantunya membawa semua yang ia borong itu ke panti.


"Assalamu'alaykum..., kalian apa kabar?" sapa Ica dengan wajah cerianya. Ia excited ingin melihat wajah-wajah mereka yang menggemaskan.


"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Wah..., Kak Ica datang," sambut bocah yang duluan melihat Ica.


"Temen-temen, Kak Ica datang nih," kemudian ia berteriak untuk memberitakannya kepada teman-temannya.

__ADS_1


Bocah-bocah kemudian menunjukkan dirinya. Menyerbu Ica dengan pelukan karena sangat rindu pada Ica. Mereka berebut untuk memeluk Ica.


"Woah, pelan-pelan atuh. Kakak juga kangen banget sama kalian, kok. Ini ada sedikit oleh-oleh, di bagi yang adil, ya."


"Yeay...! Makasih Kak Ica."


"Makasih banyak Kak Ica," ujar bocah yang lain. Diikuti pula dengan bocah-bocah yang lainnya.


"Kalau dapat rezeki seperti ini bilang apa?"


"Alhamdulillah," ucap bocah-bocah itu kompak. Suasana seperti ini yang membuat Ica betah berlama-lama di sini. Anak-anak di sini selalu diajarkan cara bersyukur. Lalu, mereka memuji Allah saat merasakan enaknya jajanan yang Ica bawa. Rasa senang dengan tawa yang mereka tunjukkan sangat menyejukkan hati. Hanya dengan melihat tawa mereka berhasil mengobati Ica yang stress. Ia ikut bahagia hanya karena melihat tawa mereka.


"Pak bos nggak di ajak, Nak Ica?" tanya Ibu panti pada Ica.


"Aa..., belum bisa, Bu. Soalnya Pak bos sibuk kerja," jawab Ica. Seketika ia malah teringat lagi dengan sumber stressnya.


"Ee..., nggak, kok, nggak merasa sesak sama sekali. Justru Ica senang banget dapat limpahan kasih sayang dari mereka," jawab Ica menepis anggapan Ibu panti.


"Ica minta maaf ya, Bu, karena bulan ini datang telat. Biasanya juga sering datang lebih dari dua kali seminggu kalau lagi stress banget, hahaha. Ica memang selalu bikin jadwal untuk main ke sini tiap bulan, minimal satu kali. Karena masih baru-baru jadi sekretaris sekaligus istri, Ica jadi sibuk banget dan kurang bisa ngatur waktu. Alhasil, jadwal tinggallah jadwal. Padahal, memang di saat-saat seperti inilah Ica paling stress. Hari sebelum hari ini sebenarnya juga stress banget. Ica minta maaf, ya, Bu," imbuh Ica.


"Mau gimana lagi, Nak..., kita yang di sini juga ngerti, kok. Kamu nggak perlu merasa bersalah karena itu. Ibu juga cuma menyampaikan aja tentang kabarnya anak-anak."


"Terimakasih banyak, ya, Bu," ucap seraya mengusap lembut tangan Ibu panti itu.


"Iya, Nak."

__ADS_1


Ica kemudian menghampiri bocah-bocah itu untuk bermain bersama. Tapi, sebelum memulai permainan, ada seorang bocah yang terganggu dengan Ica yang hanya datang sendirian. "Kak Ica, Kak Ica. Suaminya kenapa nggak diajak? Kita juga mau main sama suaminya Kak Ica," tanyanya.


Apa di sini pun ia harus mengingat Bayu? Padahal ia ke sini untuk melupakan Bayu sejenak yang menjadi sumber stressnya.


Ica diam seperti melamun. Di otaknya seperti ada CD yang berputar. Yang isinya adalah berbagai kejadian tentang Ica dan Bayu yang berdebat. Kejadian itu berputar cepat sampai akhirnya tiba di kejadian hari ini, di mana Bayu tak mau memakan masakan Ica padahal Bayu melihat Ica memasak. Mengingatnya membuat Ica tergores hatinya. Ia selalu menahannya sejak Bayu keluar rumah. Menahan segala emosi yang bercampur aduk ini. Namun, setelah bocah itu menanyakan keberadaan Bayu yang sekarang adalah suami Ica, hal itu malah membuat Ica tak sanggup menahannya. Karena itu memperjelas prioritas Bayu, lagi-lagi. Dan Ica hanya sendiri di sini, mengunjungi panti ini. Padahal ia sudah bersuami, tapi seperti tak memiliki seorang suami.


Tik tik


Air mata berhasil mengalir. Suara tangisnya tak tertahankan.


Melihat Ica menangis, seisi panti menjadi cemas. Suara tangis Ica kian menggelar. Sepertinya ia meluapkan semua yang ia tahan selama ini.


"Lho, Kak Ica kenapa nangis? Maafin ucapan aku, ya, Kak," bocah yang sebelumnya bicara jadi panik. Ica yang menyadari itu langsung menghentikan suara tangisnya, lalu berusaha menghentikan air matanya agar meredakan kepanikan seisi panti yang telah ia buat.


"Temen-temen..., Kak Ica lagi sedih kayaknya. Ayo kita hibur. Ayo buat Kak Ica lupa sama kesedihannya!" salah seorang bocah berinisiatif.


"Ayo!" sorak bocah-bocah yang lainnya.


Bocah-bocah itu sibuk menghibur Ica agar tersenyum kembali. Berbagai cara telah mereka lakukan. Sampai akhirnya senyuman Ica kembali saat seorang bocah berusaha menggelitiki kaki Ica. Karena tak terima area lain badannya digelitiki seperti lehernya yang sensitif, akhirnya Ica membalas mereka satu persatu. Ica memulai permainan kejar-kejaran dengan mereka untuk menargetkan leher mereka sebagai objek yang akan Ica gelitiki.


Semua akhirnya tertawa. Memang leher atau kadang telinga adalah daerah yang paling sensitif kalau digelitiki.


Ibu panti tersenyum melihat keramaian yang berisi tawa ini. Ia juga menjadi tenang karena Ica kembali tertawa. Harusnya, itu dapat mengurangi stress Ica.


Ica pun begitu. Ia sudah cukup lega karena telah meluapkan semua emosinya dengan air mata dan jeritan tangis tadi. Ia sudah merasa jauh lebih baik setelah menumpahkan semuanya. Dan jauh lebih baik lagi, karena anak-anak panti membuat Ica kembali ceria lagi dan benar-benar menyembuhkan stressnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2