
Ica dan Bayu pulang bersama. Setelah Ica memaksa, akhirnya Bayu mau pulang untuk mengerjakan sisa pekerjaannya di rumah saja. Ica juga sebenarnya ingin merasakan kecupan di keningnya saat menyambut Bayu setelah pulang dari masjid. Kalau shalatnya di kantor, mana bisa ia lakukan. Ica pikir, selagi hubungannya dengan Bayu melangkah maju, ia harus menjaga langkah ini. Menikmati indahnya jatuh cinta dengan suaminya sendiri.
"Caca, soal hari Minggu, sepertinya kita nggak harus ketemu untuk bahas itu. Aku bisa periksa sendiri, kok," ujar Bayu di ujung telepon. Ia sedang berada di ruang kerjanya, kemudian teringat dengan rencana ketemuan dengan Caca yang harus dibatalkan. Bayu menelepon Caca langsung karena menurutnya ini hal yang penting, jadi lebih baik dikatakan dengan jelas melalui telepon, jangan melalui teks.
"Ya ampun Bayu..., kamu nggak kayak biasanya, deh. Masa harus membatalkan janji di dekat-dekat hari, sih? Aku udah kosongin jadwal lho padahal buat ketemu kamu untuk bahas ini bareng-bareng."
"Aku ada urusan yang lebih penting."
"Jadi, maksud kamu urusan bisnis kita ini nggak penting? Padahal aku lihat kamu bangun bisnis ini dari nol banget, lho, Bayu."
"Ca, jangan memulainya." Bayu hampir terpancing emosinya karena nada sinis Caca di seberang sana.
"Apa urusan itu, Bay? Bukannya kamu bilang mau bahas ini secara langsung biar lebih mudah?"
"Aku harus datang untuk melihat anak-anak panti di hari Minggu. Aku udah lebih dulu merencanakan itu sebelumnya."
"Ooh, kalau gitu, aku bisa nunggu kamu selesai. Memberikan donasi itu cuma memakan waktu paling lama dua jam, kan? Kita tinggal ubah aja jam pertemuannya."
"Nggak bisa, Ca! Aku dari dzuhur sampai malam banget kunjungan pantinya. Anak-anak panti yang datang ke pernikahan aku, aku mau main bersama mereka. Mereka cuma punya waktu bebas di akhir pekan aja."
"Ooh, kalau gitu, aku ikut, dong, Bay. Kita bisa ngobrolin bisnis kita di sela-sela waktu."
__ADS_1
"Ca, jangan keras kepala! Aku bilang nggak bisa, ya, nggak bisa. Aku nggak mau bahas sama kamu soal itu secara langsung! Aku bisa periksa sendiri, kok, kayak biasanya. Udah, ya, aku tutup." Bayu merasa sudah cukup jelas memberitahu Caca. Ia ingin segera mengakhiri dan lanjut bekerja.
"Bayu tunggu!" Saat ingin mengakhiri, Caca lebih dulu mencegat.
"Apa lagi, Ca?"
"Bisa kamu kasih tahu aku kenapa kamu harus banget ke sana? Sama siapa kamu ke sana?" Bayu menarik nafas panjang. Menurutnya, menjelaskan ini sangat merepotkan. Tapi, ia harus menjelaskan sejelas-jelasnya.
"Aku tersentuh sama usaha Raisa. Belakangan ini aku benar-benar stress, apalagi laporan yang kamu kasih banyak banget yang harus dipelajari. Aku tertekan, dan Raisa nyuruh aku untuk melepaskan stress dengan caranya, mengunjungi panti asuhan. Ada banyak anak-anak lucu di sana. Aku bisa melihat mereka dan menghilangkan stress ini. Dan karena Raisa yang mengusulkan langsung, aku nggak bisa nolak. Aku harus ke sana bukan karena ini demi Raisa yang sekarang istri aku sekarang, tapi aku juga benar-benar butuh refreshing. Dia sangat peduli dengan kesehatan mentalku. Dia tulus mengusulkan itu. Aku juga kebetulan suka banget sama anak-anak. Kamu ngertilah. Aku ini suaminya Raisa. Dia istri aku sekarang. Ini aku lakukan demi istri, prioritas aku saat ini. Kalau kamu keberatan dengan ini, mungkin lebih baik bisnis ini kamu aja yang pegang sendiri. Aku juga mulai lebih sibuk akhir-akhir ini. Aku nggak mempermasalahkan kalau kamu yang pegang bisnis ini sepenuhnya, kok. Kalau itu terjadi, aku tetap akan berteman sama kamu," jelas Bayu.
"Bay, kamu ngomong apa, sih?" Caca malah membuat drama, Bayu tak suka. Padahal Bayu tahu suaranya pasti terdengar jelas. Kalau begini, buang-buang waktu namanya, pikir Bayu.
"Ca, maaf harus aku tutup. Aku masih ada kerjaan sekarang."
Telepon diputuskan.
"Aaaargh..., apa-apaan sih? Kenapa harus di hari Minggu juga? Perempuan itu benar-benar licik." Caca gusar. Apalagi, Bayu malah mematikan telepon itu secara sepihak, padahal mereka belum selesai bicara.
Jari tangan Caca mencari kontak Ica untuk menuangkan kekesalannya. "Puas kamu nona licik? Bayu malah membatalkan janjinya untuk ketemuan sama aku karena harus pergi sama kamu. Demi istrinya katanya. Licik banget ngusulin rencana di hari yang bersamaan sama waktu ketemuannya aku sama Bayu! Pakai bawa status lagi! Nggak adil," tulisnya melalui chat.
"Ha? Apa sih maksudnya kirim ginian?" batin Ica heran saat membaca chat tiba-tiba yang masuk dari Caca.
__ADS_1
"Mungkin Mas Bayu bicara langsung alasan dia nggak bisa bahas bisnis mereka di hari Minggu nanti. Ya ampun..., aku kira Mas Bayu bicara seperti itu untuk meredakan emosiku aja, tapi dia benar-benar serius ternyata. Kira-kira, apa yang dibilang ke Mbak Caca, ya, sampai tulisannya kayak ngerasa kesel banget gitu?" Ica bergumam, awalnya kesal menerima chat itu, tapi ia malah tersenyum bahagia setelahnya.
...----------------...
Hari Minggu itu kini tiba. Bayu terlihat sangat menantikan hari ini. Ia bahkan ingin ikut memanjakan anak-anak panti seperti yang biasa Ica lakukan dengan memborong banyak jajanan, padahal mereka belum pernah bermain sebelumnya.
Di panti, Ica disambut meriah oleh semua orang panti. Para staff langsung membantu membawakan borongan yang Ica bawa seperti biasanya. Mereka tampak keheranan dengan Bayu, serasa mengenal sosok itu.
"Aa..., itu suaminya Kak Ica, kan?" Kemudian ada seorang bocah yang ternyata mengingat Bayu betul.
"Eh, iya, bener. Kayak kenal, ternyata suami Kak Ica." Semua orang langsung mengingat setelah diberi tahu.
"Wah..., Nak. Bayu ikut hari ini? Selamat datang di panti asuhan kami, Nak," sambut Ibu panti bahagia. Menanggapi itu, Bayu tersenyum sangat ramah.
Semua orang menyambut mereka dengan bahagia. Lalu, Ica menarik Bayu untuk mengenali semua bocah itu. Terlihat Bayu sangat mudah berbaur dengan mereka. Bocah panti yang laki-laki menarik Bayu untuk bermain bersama. Baru berkenalan, mereka sudah sangat akrab.
Bayu senang menggendongi anak yang balita. Dari raut wajah Bayu, ia sangat menyukainya anak-anak sepertinya.
"Jadi, udah program untuk ngasih anak ke Nak Bayu belum, Nak Ica? Kelihatannya, suami kamu itu sayang banget sama anak-anak. Kamu pun kalah dibuatnya," ujar Ibu panti saat melihat Ica tersenyum melihat kelakuan suaminya. Namun, setelah si ibu mengucapkan itu, senyum Ica jadi dipaksakan. Hubungan Ica dan Bayu bahkan belum berkembang sampai situ.
"Hahaha, bisa aja si ibu. Doain yang terbaik aja, deh, Bu. Tergantung kapan Allah ngasihnya," balas Ica dengan senyumnya. Bicara seperti itu tidak berarti bohong, kan?
__ADS_1
Ucapan Ibu panti itu benar-benar sindiran buat Ica. Sudah menikah lebih dari satu bulan, apakah perjalanan hubungan ini normal? Apa hubungannya ini begitu lambat? Ica dan Bayu hanya sekedar melakukan kontak fisik dengan salim dan kecup kening saja. Tak ada lagi pelukan seperti malam itu, tak pernah sekali pun terjadi lagi setelahnya. Apa Bayu menahan diri karena Ica tak pernah memberikan persetujuan untuk sampai ke tahap itu? Ibadah paling indah untuk pasutri. Jika Ica tiba-tiba menyinggung tentang itu, ia tak ingin disebut penggoda karena terkesan menggoda Bayu lebih dulu. Dan yang terpenting, soal diskusi kerjasama yang mereka bicarakan waktu itu. Tentang nafkah batin, keduanya setuju untuk melakukannya atas dasar suka sama suka. Ica mungkin sudah tidak membenci Bayu, tapi apa Ica cinta dengan Bayu? Ica ragu kalau dirinya benar-benar mencintai Bayu. Lalu bagaimana dengan Bayu sendiri, apa ia sudah mencintai istrinya itu dan berhenti mencintai Caca?
...----------------...