Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Perhatian


__ADS_3

Ica sampai di rumah dengan perasaan lega. Ia kemudian duduk di meja makan untuk mengambil air minum banyak-banyak karena merasa dehidrasi, karena batuknya juga karena topik tadi. Bahkan air mineral yang diberikan Raka pun tak cukup karena Ica benar-benar merasa haus.


"Beli obat batuk, deh, biar lega ini tenggorokan," ujar Ica.


"Non Ica mau beli obat batuk? Saya belikan aja, Non. Kebetulan, kerjaan rumah udah selesai. Bibi juga sekalian mau beli keperluan juga di dekat apotik sini," sambut Bi Ana yang kebetulan mendengar ucapan Ica karena posisi mereka berdekatan. Tampak Bi Ana cukup rapi, sepertinya ingin keluar.


"Ooh, boleh, deh, Bi. Sorry ngerepotin Bibi."


Ica beruntung karena ada Bi Ana yang mau membelikan obatnya secara sukarela. Karena entah kenapa, hari ini ia merasa lebih lelah dari biasanya. Padahal, pulang kantor tepat waktu dan tidak terlalu banyak pekerjaan yang ia kerjakan.


Ada roti dan selai yang tampak di meja makannya, Ica segera mengambil dan membuat dua roti selai untuk ia makan. Ia merasa kurang gula karena terlalu banyak berpikir mengenai banyak hal.


...----------------...


"Non, Ica..., ini obatnya udah Bibi beli." Bi Ana kembali dan mendapati Ica yang tengah tidur di atas meja makan.


Mendengar suara Bi Ana, pelan-pelan ia membuka matanya. Ia merasa lebih tenang saat tidur tadi karena batuknya tak mengganggu. Setelah memasok kembali gulanya dengan makan roti selai tadi, rasa kantuk menyerangnya dan karena respons tubuh yang lebih lelah dari biasanya serta rasa pening yang menyerang, akhirnya Ica bisa tidur dengan cepat dalam posisi tak nyaman itu.


"Non Ica? Ketiduran ya, Non? Jangan tidur di sini, Non. Non Ica, kan, abis sakit. Nanti sakit lagi gimana?"


"Oiya, makasih, Bi. Tadi merasa agak pusing aja, makanya Ica tidur dulu."


"Pusing lagi, ya, Non? Jangan lupa di minum lagi obatnya,"


"Siap, Bi Ana. Makasih udah perhatian."


"Udah adzan maghrib, ya, Bi?"


"Udah, Non, baru selesai adzan, sih."


"Ya ampun..., untung Bi Ana bangunin Ica. Terus, Mas Bayu belum pulang, Bi? Ada nggak mobilnya di depan?"

__ADS_1


"Mobilnya Den Bayu nggak ada di depan, Non. Mungkin belum pulang."


Ica hanya ber-oh ria secara normal. Kemudian, Bi Ana pun kembali ke kamarnya meninggalkan Ica.


Setelah minum obat pening dan obat batuk, Ica segera ke kamarnya juga untuk melaksanakan shalat maghrib.


Waktu maghrib terlewati, sekarang waktu isya pun tiba. Ica bertanya-tanya, apakah Bayu akan pulang selarut seperti semalam? Apakah ia akan makan malam sendirian juga hari ini?


Ica pun turun untuk makan, karena sudah jamnya makan malam. Dalam keadaan hati yang sedih, ia menatap meja makan. Berharap terlalu banyak jikalau Bayu sudah menunggunya di meja makan untuk makan bersama.


"Bi Ana, udah makan belum?"


"Bibi baru aja selesai makan, Non."


"Ya udah, deh, Bi. Ica makan sendiri aja. Rencananya mau ajak makan bareng di sini. Tapi, kalau Bi Ana udah makan, ya, udah, deh, Ica makan sendiri aja."


"Duh.., maaf banget, Non. Bibi udah kenyang banget. Lagian, Bibi juga nggak pantes makan di satu meja yang sama dengan majikan. Bibi segen."


"Ya udah kalau segen, Ica nggak maksa. Tapi kalau Bibi mau makan, ambil aja semua makanan yang ada, mau itu di meja atau di kulkas, nggak usah segan. Semua makanan di sini milik kita bersama."


"Oh iya, silahkan istirahat, Bi," tutup Ica.


Dengan malas Ica membuka tudung saji. Sebenarnya Ica memang meminta agar tidak usah masak, dan biar Ica yang memesan lewat food delivery selama Ica masih sakit, karena takut makanan yang di masak Bi Ana akan terbuang. Namun, dengan food delivery bukan berarti ia jadi selera untuk memakannya. Selera makannya hilang, ia berpikir untuk kembali lagi ke kamar, melewatkan makan sudah biasa baginya.


Saat Ica akan menaiki tangga, tiba-tiba terdengar suara bel. Karena Ica yang lebih dekat, ia memilih membukakan pintu itu dan membiarkan Bi Ana istirahat.


"Assalamu'alaikum, Ca," salam terdengar setelah pintu terbuka.


"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Mas Bayu kenapa bunyiin bel? Ica kira ada tamu malam-malam gini. Kenapa bunyiin bel di rumah sendiri, Mas?"


"Saya nggak bisa buka pintunya. Lihat bawaan saya ini? Mana bisa saya buka pintunya, mengambil kuncinya pun nggak bakal bisa." Bayu terlihat kerepotan dengan tangan kanan dan kiri yang penuh dengan bawaan.

__ADS_1


"Sini, Mas, Ica bantu bawakan barang-barangnya," tawar Ica. Kemudian Ica membantu membawakan tas Bayu yang berat serta Dokumen-dokumen yang tak sempat dimasukkan ke tas oleh Bayu.


"Yang ini biar saya aja yang bawa. Kamu udah bawak dokumennya aja, langsung ditaruh di ruangan kerja," titah Bayu. Kemudian, Bayu mengambil kembali tas beratnya dan membawanya sendiri menuju ruang kerjanya.


Selesai dari ruangan kerja, Bayu duduk di meja makan dengan satu bawaan yang tidak ia tinggalkan di ruang kerjanya—makanan yang ia beli di jalan.


"Ica, saya belikan sate untuk kamu. Ayo makan sini," titah Bayu yang sudah duduk lebih dulu di meja makan. Sementara Ica yang baru saja keluar dari ruangan kerja merasa heran.


"Ee?"


"Kenapa? Kamu udah makan?"


"Belum, sih, Mas. Rencananya emang nggak mau makan, soalnya nggak selera."


"Udah sini makan! Kalau nggak mau makan, temenin saya makan aja. Lagian kamu baru sakit, jangan bertingkah nggak mau makan karena udah biasa nggak makan!" Bayu malah seperti memaksa Ica. Mau tak mau, Ica harus mengikuti ucapan Bayu.


"Ica mau makan, kok, Mas. Makasih udah mau repot-repot beliin makanan kesukaan Ica. Padahal, Ica juga pesen makanan online tadi, tapi nggak Ica makan," Ica menurut.


"Saya cuma kebetulan lewat di tempat tongkrongan tukang sate. Dan kamu jangan salah paham! Saya beli sate karena sate juga makanan favorit saya, dan saya beli karena saya kepengen. Karena kebetulan makanan favorit kita sama walaupun beda rasa, sekalian aja saya belikan kamu." Kini Bayu malah tidak sepercaya diri tadi bicaranya. Hal itu membuat Bayu terlihat menggemaskan karena diam-diam perhatian, dan ia malu mengakui kalau ia perhatian dengan Ica.


Kini giliran Ica yang bicara dengan percaya diri. "Ooh, gitu, ya, Mas? Makasih ya, udah repot-repot sekalian beliin untuk Ica. Perhatian banget, deh, punya suami," ucapnya.


"Ica..., udah saya bilang ini kebetulan! Kamu jangan kegeeran jadi orang!"


"Iya iya," ucap Ica seraya menahan tawa.


"Apa kamu senyum-senyum gitu? Nahan tawa, ya?"


"Emangnya senyum haram, ya?"


"Nggak haram. Kamu seperti meledek saya. Saya nggak suka." Ica tak menanggapi dan segera memakan sate padang pemberian Bayu lebih dulu.

__ADS_1


Bayu merasa diabaikan, tapi ia tak ingin mengambil pusing itu. Ia malah lebih khawatir karena setelah Ica memakan satu suap satenya, Ica malah terbatuk-batuk.


...----------------...


__ADS_2