
"Raisa, kenapa kamu seperti nggak suka dengan keputusan Pak Raka?" tanya Bayu saat ia dan Ica sudah masuk ke ruangan Bayu. Ica memang disuruh masuk dulu oleh Bayu untuk bicara.
"Huh..., andai aku bisa keluar dari perusahaan ini," keluh Ica dalam hati. Ia muak bicara, karena sebenarnya Bayu sudah tahu alasannya. Mau apa lagi, dari awal memang Raka tak pernah mengizinkan Ica bekerja di perusahaan lain. Mengajukan resign tiba-tiba sama saja seperti menentang sang ayah. Ingin minta dipisah dari Bayu, tapi tak dapat berpisah.
"Saya bukannya nggak suka, Pak. Dan lagi, saya nggak tahu Anda menyimpulkan seperti itu darimana. Saya bahkan nggak ada berkomentar soal itu," jawab Ica malas.
"Saya mungkin salah menebak, tapi itu tertera di wajah kamu. Makanya saya bisa simpulkan seperti itu."
"Nggak, kok. Anda salah menyimpulkan. Saya pergi dulu, Pak, sepertinya pembicaraan ini udah selesai." Ica berbalik, meninggalkan Bayu yang masih ingin bicara.
"Raisa, tunggu. Kenapa kamu menghindar? Bukannya seminggu ini kita udah ada perkembangan? Kamu mau saya imami, kamu juga dengan perhatian meminta Bi Ana untuk membuatkan saya teh hangat setelah pulang shalat subuh dari masjid. Apa saya salah paham kalau saya merasa kamu udah buka hati kamu? Tapi kenapa kamu malah minta untuk secara tak langsung dipisahkan dari saya?" Bayu sempat mencegat Ica. Tangan kiri Ica dipegang oleh tangan kanan Bayu.
"Lepasin, Pak. Saya mau kembali bekerja," tolak Ica yang tangannya dipegang itu. Bayu tak mau melepaskan, hingga secara kasar, Ica sendiri yang memaksa untuk melepaskan tangan Bayu.
"Ya udah, kembalilah ke meja kamu. Sekarang udah jamnya kerja lagi. Kita bisa bahas ini di rumah. Maaf, saya nggak bermaksud menyakiti tangan kamu, saya hanya ingin mendapat jawaban aja dengan memegang tangan kamu kuat agar kamu terhenti." Bayu mempersilahkan Ica pergi.
Ica sendiri sadar, dirinya memang plinplan. Baru saja mengatakan untuk berhenti jika ini balas dendam, tapi ia malah ingin melanjutkan dalam waktu bersamaan. Mencoba ikhlas dalam satu minggu saja tidaklah cukup. Ia masih terus seperti ini hingga ada sesuatu yang bisa membuat Ica ikhlas menerima Bayu dan menghargai perjuangan Bayu.
__ADS_1
...----------------...
Ica merasa ia harus bertemu Caca untuk mempertegas sikapnya kepada Bayu. Butuh penjelasan dari dua pihak, tapi ia ingin mendengarkan dari sisi Caca terlebih dahulu.
Hari Minggu ini, Ica memberanikan diri untuk menghubungi Caca dan memintanya bertemu langsung. Di awal ia harus tahan banting saat dikata-katai yang tidak-tidak oleh Caca. Seperti, "ngapain ngechat?" atau "belum puas udah dapetin Bayu seutuhnya?" dan "mau balas dendam sampai minta ketemu segala?" sampai kata-kata lain yang juga kasar juga menyertai. Cukup sulit melakukan ini, karena Caca belum puas kalau Ica belum menjelaskan dengan detil alasan ia minta bertemu langsung. Agendanya membahas tentang masa lalu Caca dan Bayu, tanpa dendam sedikitpun Ica ingin tahu kebenarannya langsung dari mulut Caca.
"Kamu pernah bilang kalau lama kelamaan saya akan jenuh dengan sikap beliau. Kamu juga meramalkan pernikahan saya dan beliau tak akan berumur panjang. Sekarang, semuanya mungkin sedang terjadi. Tapi, saya mau memastikan kemungkinan ini dulu dengan bicara sama kamu," mulai Ica. Lalu Caca, ia merespons dengan senyum menyeringai pada Ica.
"Terus? Kamu mau saya mulai darimana?"
"Kamu simpulkan aja sendiri. Bukannya itu udah jelas, ya?" jawab Caca malas.
"Maaf sebelumnya, saya bicara sama kamu dengan tujuan memastikan sesuatu. Kamu udah janji bakalan kerjasama untuk ceritain yang saya minta ceritakan. Jadi, saya minta kamu menjawabnya jangan separuh hati," protes Ica. Belum banyak mereka bicara, percikan api sudah tampak. Ica sudah mulai tersulut.
"Pertanyaan itu terlalu jauh. Di chat tadi kamu bilang mau tahu gimana masa lalu aku dan Bayu, kan? Intinya, kamu juga mau tahu hubungan apa sebenarnya yang pernah kami jalani dulu. Iya, kan?" Caca to the point.
Yang disebut oleh Caca memang tujuan utama Ica. Hanya saja, Ica masih belum berani mendengar itu langsung dari Caca, makanya ia terlihat mengulur waktu, mencari topik ringan dulu untuk dibahas.
__ADS_1
"Kalau gitu, kita habiskan dulu makanan ini. Aku nggak mau kamu yang mendengarkan tiba-tiba tersedak saat aku cerita," usul Caca. Mereka memang melakukan pertemuan di cafe yang agak sepi agar lebih mudah bicara. Makanan yang sebelumnya di pesan sudah diantarkan, memang sebaiknya di makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan obrolan yang lebih serius.
Saat memakan makanannya, Ica tak yakin dirinya bisa siap menerima kenyataan. Ia dengan sengaja melambatkan makannya. Caca yang melihat itu juga melambatkan makannya, tapi tujuannya berbeda. Ia berhati busuk, ia berpikir jika makan mereka dilambatkan akan lebih seru melihat ketidaksiapan Ica lebih lama, juga keterkejutan Ica saat Ica secara bersamaan juga penasaran dengan masa lalu Bayu dan Caca. Saat makan pun, bisa-bisanya Caca menyeringai pada Ica saat Ica tak melihat. Memang ini momen yang ditunggu Caca, menceritakan kebenaran tentang masa lalu adalah balas dendam paling ampuh atas rasa sakitnya yang di sebabkan oleh Bayu dan Ica. Ia juga tak akan merasa bersalah jika menceritakan masa lalu dianggap orang-orang sebagai usaha untuk merusak rumah tangga orang, karena yang ia lakukan hanya sekedar bercerita, memberitahukan kebenaran kepada Ica.
"Ica, kamu mau dengar sekarang?" ujar Caca yang lebih dulu menghabiskan makanannya. Mereka makan sudah sangat lambat, harusnya Ica siap mendengarkan sekarang.
"Iya, sekarang. Tapi saya minta kamu jujur saat bercerita. Saya nggak mau juga kalau kamu menambah-nambahi atau mengurang-ngurangi. Ceritakan sesuai dengan kejadian, jangan dibuat-buat," ucap Ica mantap, meskipun di dalam hatinya ia masih belum siap.
"Oke, kamu tenang aja," balas Caca.
Caca meminum minumannya terlebih dahulu sebelum memulai. Karena ini adalah cerita yang panjang, yang akan membuat tenggorokannya kering.
"Aku sama Bayu satu sekolah pas SMA, satu kelas, satu kampus. Dan di saat SMA, aku dan Bayu percaya kalau kita saling mencintai, satu hati," mulai Caca.
Baru saja dimulai, Ica harus menahan sakit karena tergores hatinya. Ia jadi menyesali keputusan untuk mengetahui kebenarannya dari Caca. Padahal, waktu itu Bayu menawarkan untuk menceritakan masa lalunya, sekarang ia menyesal menolak mendengarkan Bayu. Karena mendengarkan langsung dari wanita ini lebih menyakitkan. Kalau dari Bayu, kan, sakitnya bisa sekalian dengan rasa sakit sebelumnya yang telah diberikan oleh Bayu.
...----------------...
__ADS_1