
"Selamat datang, Mas." Ica segera menyambut Bayu setelah mendengar salamnya. Ica sudah ada di meja makan dengan makanan yang ia beli dari food delivery tadi.
"Ayo, makan, Mas," tawar Ica. Bayu pun langsung duduk di meja makan. Memilih tempat yang berhadapan langsung dengan Ica.
"Bi Ana udah di kasih, kan?" tanya Bayu sebelum menyantap makanannya.
"Udah, kok, Mas." Ica bergegas melayani Bayu. Menyajikan makanannya, menjadi istri profesional.
"Ini, kamu memakai uang kamu, kan? Mulai besok saya akan transfer uang bulanan ke rekeningnya kamu. Itu uang nafkah saya untuk kamu, dan uang untuk mempercayakan ke kamu membeli barang untuk kebutuhan rumah, belanja untuk bahan makanan dan barang untuk bersih-bersih juga."
"Oke, Mas."
"Kalau gitu, makan aja dulu, Mas. Kita ngobrolnya nanti aja. Takutnya kita malah keselek kalau ngobrol sambil makan."
"Iya, kita obrolin itu nanti aja. Memang itu niat saya."
Keduanya fokus dengan makanan yang sudah ada di depan mata. Karenanya, aktivitas makan jadi lebih cepat.
"Ngobrolinnya di kamar aja, yuk," ajak Ica. Bayu pun menyetujui.
...----------------...
Di kamar.
Bayu mengambil posisi duduk di kursi dekat meja kerja, sedangkan Ica duduk di kursi meja riasnya.
__ADS_1
"Karena sekarang kita sudah menikah, kita harus memperjelas hak dan kewajiban kita masing-masing. Pernikahan ini di atur karena perjodohan, kita juga terikat dengan pekerjaan, jadi, ini benar-benar krusial untuk dibicarakan," mulai Bayu.
"Kamu membuat pernikahan ini seperti negosiasi antara dua orang dalam perusahaan untuk kerja sama, ya? Apa tujuan membicarakan itu, sebagai perjanjian, kah?" Belum apa-apa Ica sudah terpancing emosinya. Permulaan Bayu mengingatkan Ica tentang tujuan sebenarnya dari pernikahan mereka. Ica masih menolak fakta kalau memang pernikahan ini seperti sebuah kerja sama antar dua pihak perusahaan.
"Dari awal pernikahan itu juga perjanjian, Raisa. Sudah saya bilang ini sangat krusial. Ini juga melindungi hak-hak kamu, kok," jawab Bayu lembut perhatian. Ia tahu pembicaraan ini akan sulit dibahas.
"Apa nggak bisa pernikahan kita ini dianggap seperti pernikahan biasa? Ica mau apa yang terjadi setelahnya ngalir gitu aja. Nggak usah negosiasi soal hak dan kewajiban. Kita sama-sama udah baca buku-buku tentang pernikahan, kan?" balas Ica masih dalam emosi yang sama.
"Kalau gitu, lakukan, Raisa. Apa kamu bisa memulai memberikan hak saya, melaksanakan kewajiban kamu sebagai seorang istri sepenuhnya? Tunjukkan semua yang kamu tutupi, lepas semua busana yang kamu pakai, beri saya nafkah batin! Apa kamu siap? Itu juga ada di buku pernikahan yang kita pelajari, kan?" Bayu akhirnya terbawa suasana karena nada bicara Ica.
"Hah?" Ica mulai menyamakan nada suaranya dengan Bayu. Mulailah dua egois ini berargumen. Atau lebih tepat disebut berdebat?
"Sesuatu yang seperti itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Jika ada yang merasa keberatan, jatuhnya menjadi pelecehan." Ica menantang tak terima.
"Lho, kenapa kamu bicara seperti itu sekarang?" tantang Bayu balik.
"Terserah kamu mau menganggapnya seperti apa. Saya akan tetap membahasnya karena ini adalah hal yang paling krusial. Di awal sebelum kita menikah, kita telah berdiskusi. Saya tidak mau menyentuh kamu jika kamu memang sedang tidak mau. Seperti yang kamu bilang, sesuatu yang seperti itu harusnya dilakukan atas dasar suka sama suka. Jangankan suka, sedangkan kamu aja masih membenci saya."
"Lalu, seperti yang saya bilang juga, ini bukan zaman patriarki. Kamu tak perlu melayani saya dengan berlebihan seperti menyiapkan baju ganti, mengambilkan saya lauk saat makan, atau harus terlihat seperti istri yang sangat patuh pada suaminya, menyambut ketika pulang atau pergi ke luar rumah. Saya tahu itu harusnya dapat melatih kemandirian kamu dengan mengurus orang lain, tapi saya tidak setuju. Masih ada hal lain yang dapat melatih kamu soal kemandirian, seperti tujuan awal dari pernikahan kita ini."
"Kamu bebas membelanjakan uang bulanan yang akan saya transfer nanti. Itulah salah satu cara untuk melatih kemandirian kamu, membuat anggaran sebaik-baiknya dari uang itu dan mengalokasikan ke pos-pos yang tepat. Kalau kamu merasa kurang, saya tidak bisa menambah. Kamu juga tahu, saya bukan pemilik perusahaan seperti Ayah atau Papa."
"Mungkin tentang memberikan saya makanan terbaik yang bisa kamu masak adalah tugas kamu sebagai seorang istri, tapi, saya juga nggak mempermasalahkan kalau kamu meminta asisten untuk memasak. Kamu bisa membersihkan kamar ini untuk melakukan tugas kamu sebagai istri. Saya akan membersihkan ruang kerja supaya kita impas. Usahakan dua ruangan ini tidak ada yang membereskannya selain kita."
"Bagaimana soal nafkah batin? Saya nggak masalah jika menahannya. Saya juga nggak masalah kalau kamu akan terus tidur dengan memakai hijab di kepala. Tapi kamu bagaimana? Apa kamu sebagai wanita dewasa yang telah memiliki suami akan sanggup menahan gejolak itu? Apalagi, kita tidur di satu ranjang."
__ADS_1
Akhirnya, Bayu memberi Ica kesempatan untuk memberikan pendapat.
"Ica juga nggak masalah. Karena kerjaan Ica dobel, Ica nggak punya waktu untuk memikirkan itu. Ica juga sibuk tahu meskipun kelihatannya kayak gini. Urusan menahan, pasti bisa lah. Wong Ica nggak pernah pacaran dari dulu. Punya teman aja dikit, cuma kenalnya bentar doang, mau cewek mau cowok, nggak ada yang betah temenan sama Ica. Karena nggak ada pengalaman itu, Ica masih polos, masih suci juga pikirannya."
"Oiya? Semoga saya bisa percaya dengan ucapan kamu."
"Itu berlaku juga untuk Mas Bayu."
"Sekarang, bagaimana caranya agar kamu berhenti membenci saya? Apa ada cara untuk saya membuat kamu jatuh cinta? Saya pernah bilang waktu itu, saya akan menjadi suami yang ideal untuk kamu, saya juga bisa berubah."
"Udah, ah, pikir aja sendiri. Jangan apa-apa minta dikasih tahu."
"Tolong beritahu saya."
"Giliran kayak gini aja ngomong magic word-nya lancar." Ica terang-terangan mencibir Bayu kali ini.
"Raisa, tolong beritahu," ulang Bayu, kini terdengar lebih lembut karena sebelumnya ia masih terbawa arus emosi negatif.
"Ica nggak yakin Mas Bayu bisa untuk mulainya."
"Akan saya coba."
"Seperti yang Ica bilang, Ica mau Mas Bayu panggil dengan nama pendek Ica. Panggil dengan akhiran 'Ca' juga. Hubungan kita udah kayak gini, tapi Mas Bayu masih formal aja sama Ica. Gimana mau lanjut ke tahap cinta wong Mas Bayunya masih belum bisa panggil begitu ke Ica. Ada apa dengan Mbak Caca, Mas? Mas Bayu sepertinya...," Ica tersadar ucapannya mulai melantur. Ia malah menyeret orang lain ke permasalahan rumah tangganya. Bayu juga sudah bersiap menolak argumen Ica tentang bagaimana Ica ingin dipanggil. Akhirnya, ucapan itu ia tangguhkan.
"Sudahlah, lupakan soal menjadi suami yang baik. Mas Bayu bisa menjadi diri Mas Bayu yang apa adanya. Ica nggak masalah, kok. Mas Bayu juga nggak berubah nggak masalah." Ica mengalah. Ia mengalihkan pembicaraan ini dengan melakukan skincare rutinnya sebelum tidur, mumpung sudah duduk di depan meja riasnya.
__ADS_1
"Ada apa dengan Caca? Apa yang mau kamu katakan, Raisa?" Bayu bertanya-tanya dalam batinnya.
...----------------...