Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Berdua sejenak


__ADS_3

"So..., di sini tempat dinas kita, Ca? Kita emang lewat sini, ya?" Bayu mulai ragu kemana Ica akan membawanya.


Setelah dijemput Bayu tadi, Ica memang yang menyetir untuk Bayu. Bagaimanapun juga, Ica sudah membuat Bayu harus pulang cepat karena drama anak kecilnya itu. Sehingga, pekerjaan yang harusnya dikerjakan saat Bayu ke kantor tadi harus ia bawa pulang dan mengerjakannya sembari pergi lagi menuju tempat dinas mereka.


Jadilah Ica yang bertugas menyetir dan Bayu di belakang berkutat dengan berkas-berkasnya. Lagi pula, Ica sudah lama tak melakukannya tugas sekretaris yang satu ini, menyupiri bosnya.


"Iya, Mas. Kan, Ica yang nyusunin jadwalnya Mas Bayu. Jadi, nggak salah lagi, kita memang disuruh ketemuan di sini," jawab Ica dan fokus dengan jalan. Namun, kali ini ia harus ekstra fokus, karena jalanannya sempit, di kanan kiri jalan juga terdapat parit dan sawah. Bisa mengamuk Bayu di belakang jika Ica tak sengaja menyungsepkan mobil yang mereka naiki.


"Tapi ini kita masuk rumah, kan, buat bicarain proyeknya? Kamu kok kayak bawak saya ke persawahan gini? Kamu nggak salah lihat maps kan, Ca?" Bayu rupanya tak yakin. Ia menghentikan pekerjaannya sebentar karena fokusnya hilang karena dirinya lebih terganggu dengan pemandangan di sekitarnya ini.


"Udah, deh, Mas Bayu diem aja. Kita masih jauh lagi, nih. Tapi, selanjutnya jalan yang kita lewati persawahan semua. Jadi, Mas Bayu fokus aja sama kerjaan Mas itu. Biar cepet selesai juga. Ica juga merasa bersalah karena Mas Bayu jadi pulang cepat dan jadi banyak kerjaannya. Kalau fokus, kan, bakal cepat selesai seperti yang biasanya kamu lakuin. Jadi, percayakan urusan menyupir ke Ica. Oke?"


"Terserah kamu, deh, Ca," Bayu menyerah. Ica tersenyum puas, kali ini Bayu lebih kalem, tak banyak protes. Kalau Bayu yang dulu, mungkin Ica sekarang sudah di singkirkan dari bangku supir karena Bayu hanya percaya pada dirinya sendiri. Tapi perlahan, sikap itu mulai memudar. Bayu mulai mempercayai orang-orang. Dan Bayu tak menyadari itu. Sejak bertemu Ica, ia perlahan berubah. Mungkin, tujuan perjodohan mereka ini tujuannya sudah membuahkan hasil. Bayu terlihat sudah mulai mempercayai kinerja orang lain, lalu Ica dengan cepat bisa mandiri dan mengurangi manjanya.


...----------------...


Satu jam kemudian, Ica berhenti menyupir. Ia memberhentikan mobil di jalanan yang agak lebar, dan ada gubuk juga di dekatnya.


"Ca, sekarang kenapa berhenti?" Bayu yang sudah mulai membereskan pekerjaannya agak terganggu.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Ica malah keluar dari mobilnya, kemudian berjalan ke arah gubuk yang di mana jika ke sana harus melewati jalan setapak dahulu.


Bayu melihat ke mana Ica pergi, kemudahan ia tidak senang karena Ica mengabaikan dan meninggalkannya begitu saja. Padahal, saat di rumah tadi justru Ica yang berdrama tak mau ditinggalkan Bayu, sekarang malah Ica yang seenaknya pergi.


"Iih.., wanita itu...," geram Bayu. Ia membereskan berkasnya secepat mungkin, kemudian bergegas menyusul istrinya yang seperti anak-anak itu.


Selesai membereskan berkasnya, Bayu keluar juga dari mobil. Kemudian dengan sengaja membanting pintu mobil kuat, agar Ica membaca kode tersebut, bahwa Bayu sekarang sedang kesal padanya.


Ica malah benar-benar tuli. Saat sudah tiba di gubuk, Ica membaringkan setengah badannya di sana dan memejamkan matanya dengan perasaan bahagia. Membiarkan tubuhnya menyatu dengan alam.


Di sana, Bayu makin jengkel karena Ica tak mengerti kode yang sudah diberikan. Ia berjalan menuju sawah dan area jalan setapak yang sudah lebih dulu Ica lewati tadi.


"Lihatlah jalan sekecil ini. Melewatinya memang memerlukan langkah yang tepat, persis setapak-setapak. Aku tahu kamu kecil, Ca. Tapi kamu master sekali bisa begitu cepat melewati jalan setapak ini," gumam Bayu seraya jalan pelan-pelan menuju tempat Ica berada.


Setelah merasa sangat kelelahan dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, Bayu akhirnya sampai di gubuk tempat Ica berbaring. Ica yang sadar akan kehadiran Bayu pun bangkit, mengganti posisinya menjadi duduk bersilah seraya bersender pada sisi dinding gubuk.


"Lama banget nyusulnya, Mas. Nampak banget nggak pernah main-main ke sawah. Ica kira Mas Bayu bisa semuanya, ternyata nggak. Untuk kali ini, Ica nih yang jadi bosnya. Hahaha," ucapan selamat datang yang absurd dilontarkan Ica.


Bayu pun duduk di samping Ica, lebih memilih meluruskan kakinya yang kaku sehabis jalan di jalan kecil tadi daripada menanggapi Ica. Kemudian menghirup udara persawahan yang segar dalam-dalam.

__ADS_1


Gubuknya cukup besar. Bayu yang tinggi itu bisa menelentangkan badannya seperti bentuk bintang laut untuk merilekskan diri seraya menikmati alam. Kemudian Ica berbaring di samping Bayu, sangat dekat, hingga ia berada di lengan Bayu dan sedikit menghimpit lengan Bayu itu dengan kepalanya sebagai bantal alas tidurnya. Bayu agak shock, tapi harusnya ini biasa saja karena mereka sudah suami istri. Di muka biasa saja, tapi di hati mereka posisi ini sangat memacu kinerja detak jantung. Ica berani sekali rupanya melakukan aksi lebih dulu. Bahkan kemudian, ia makin mendekat dan menjadikan dada Bayu sebagai bantalan. Kemudian, ia memeluk perut Bayu dengan tangannya yang luang.


Ica tersenyum. Ia bisa mendengar detak jantung Bayu yang berdegup kencang dari bantalannya—dada Bayu. Padahal ia tadi agak kecewa karena terlihat sekilas wajah Bayu sangat datar. Detakan kencang itu juga membuat Ica senang karena ia tahu Bayu sekarang sudah membalas cinta Ica dengan detak jantung ini sebagai buktinya.


Keduanya diam dan menikmati waktu berdua sejenak. Menikmati hawa sawah yang bersemilirkan angin yang sejuk, menikmati pelukan romansa mereka di gubuk itu. Keduanya tak bersuara, hanya jantung mereka yang bersuara. Seakan jantung mereka berkomunikasi dengan masing-masing menyatakan perasaan cintanya.


Kemudian, tangan Bayu yang awalnya telentang, kini perlahan berani untuk membawa Ica lebih rapat lagi dengan mendekapnya. Di sana mereka sudah sangat dekat, entah kenapa bukan hanya jantung saja yang memburu detaknya, nafas mereka pun ikut memburu. Padahal, mereka hanya berdekapan saja dengan posisi berbaring seperti ini.


Ica tak menyangka, Bayu dengan berani melakukan ini. Kemudian ia menatap Bayu dari posisinya. Lalu makin tak di sangka, Bayu malah menatap balik ke Ica dengan tatapan penuh cinta.


Aaa..., rasanya ada kalimat yang harus aku keluarkan di posisi ini, batin Ica seraya masih menatap Bayu.


"I love you, Mas Bayu," dan terucaplah kalimat itu dari bibir mungil Ica. Tapi sayang, Bayu tak membalasnya.


Cup.


Ya, Bayu memang tak membalasnya. Tapi, ia melakukan dengan caranya. Membalas kalimat cinta Ica dengan aksi, mencium kening Ica lembut dan penuh penghayatan.


Ica tersenyum bahagia. Baginya itu sudah membuktikan cinta Bayu padanya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2