Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Tanggapan Brilian


__ADS_3

Keluar dari ruangan Bayu, suasana hati Ica menjadi lebih baik. Tak ia sangka kalau ia dapat seberani itu membuat gerakan lebih dulu dengan si galak Bayu. Bagaimana kalau Bayu nanti terbangun akibat perbuatannya yang tanpa permisi itu? Ica bahkan tak memikirkan sampai sana. Dan jika itu terjadi, ia tak tahu harus menjawab bagaimana. Semoga saja Ica selamat.


Lala mendatangi Ica yang memakan rotinya dengan lahap. Kadang-kadang, Ica mengeluarkan berbagai ekspresi sekaligus dan sesekali berteriak kecil. Lala menduga ada sesuatu yang terjadi dengan Ica.


"Ca, kamu kenapa? Keliatannya udah nggak lesu lagi kayak tadi, sih, tapi kamu sekarang malah kelihatannya aneh, tahu. Ada apa?" tanya Lala.


"Ee..., Mbak Lala..., tumben Mbak main ke meja aku?" yang ditanya malah balik bertanya.


"Emang nggak boleh kalau aku main-main ke meja sahabat aku? Asal kamu tahu, ya, semenjak nikah sama Pak Bayu, kamu nggak ada ngajak aku makan siang bareng, tahu. Ya, aku ngerti, sih, kalau kalian mau makan bareng di luar. Tapi, gara-gara kesepian, aku main ke sini, deh. Aku lihat juga kamu abis beli banyak makanan dari toserba, dan tebakanku bener, kalau kalian nggak makan siang di luar hari ini. Khusus hari ini, mau makan bareng aku, nggak, Ca?"


"Um..., demi mengobati rasa kesepian Mbak Lala, aku menerimanya dengan senang hati. Tapi, nggak bisa makan di luar, Mbak."


"Lho, kenapa?"


"Iya, soalnya Pak Bayu lagi tidur siang. Aku di suruh untuk mengamankan semua selama dia tidur. Kalau dia lihat aku nggak di tempat, bisa gawat."


"Ya..., sayang banget."


"Tapi nggak usah khawatir, Mbak. Kita makan di meja ini aja. Tadi waktu ke toserba, aku udah beli banyak macam roti dan snack lainnya. Sangat cukup untuk mengenyangkan perut kita. Hemat juga, Mbak, gratis soalnya. Nanti tagihan ini mau aku minta sama Pak Bayu juga."


"Wah..., berani banget kamu, Ca. Padahal, yang ngabisin kebanyakan aku sama kamu."


"Eee..., jangan salah, Mbak. Aku ke toserba juga disuruh sama Pak Bayu untuk belikan roti aja karena nggak bisa makan di luar. Terus, aku disuruh beli juga untuk bagian aku sendiri. Ya udah, tagihannya nanti aku mintalah."

__ADS_1


"Ica..., Ica. Kamu perhitungan banget sama suami sendiri."


"Kalau urusan begini, Ica berperan sebagai sekretaris, Mbak. Jadi, ucapan Mbak Lala barusan nggak berlaku buat Ica. Hahaha." Keduanya tertawa puas. Kemudian Ica menyerahkan makanannya juga kepada Lala dan mereka pun makan bersama.


"Bagus, deh. Sekarang kamu ketawa. Soalnya tadi murung terus, mukanya ditekuk terus. Memang sama kayak karyawan lain di divisi ini, sih, tapi kamu kelihatannya lebih depresi gitu mukanya. Kamu kalau ada apa-apa cerita, ya, sama aku. Kayak biasanya."


"Aa..., kenapa Mbak Lala bahas itu lagi, sih? Kirain udah lupa," batin Ica. Ica pun hanya mengangguk menanggapi ucapan Lala dengan senyum yang sangat bahagia, sehingga tak menimbulkan kecurigaan lainnya.


Tak lama, Ica ingin berbasa-basi dengan Lala. "Mbak Lala udah nikah berapa lama sama suami?" tanyanya.


"Udah berapa lama, ya? kayaknya abis aku wisuda, aku langsung nikah, deh. Kayak kamu juga. Bedanya kamu ada kerja di sini dulu tiga bulan, ya? Nah, kalau di hitung, kayaknya satu tahun lebih sih, Ca. Ada apa?"


"Mbak Lala nggak papa bahas ginian soal aku? Aku mau tanya yang lebih lagi, nih."


"Tanya aja, santai. Mumpung nanya masih gratis."


"Kepengen, sih. Tapi, aku sama suami memutuskan untuk tunda dulu, Ca. Soalnya, kasihan nanti sama anak yang kita lahirin, kitanya belum siap jadi orang tua." Jawaban yang mengejutkan Ica.


"Emangnya, kesiapan untuk jadi orang tua itu kayak gimana, sih, Mbak?" tanya Ica penasaran. Ia pikir, setelah menikah, pasti tujuan selanjutnya adalah langsung punya anak. Namun, ternyata Lala menanggapi dengan berbeda.


"Dilihat dari finansial, sanggup apa nggak kita membiayai hidup si anak, belum lagi biaya sekolah dan perintilan lainnya. Anak itu ibarat investasi jangka panjang yang mahal dan besar resikonya. Kalau kita salah mengambil langkah, bakal berakibat fatal, banyak kerugian yang akan kita alami. Belum lagi, saat kita nggak bisa luangkan waktu untuk anak, terus anaknya malah memberontak dan sifatnya buruk, kita pasti bakal nyalahin mereka. Padahal, anak itu nggak minta dilahirin. Anak itu juga nggak bisa milih hidup di keluarga mana," jelas Lala.


Seketika, Ica teringat dengan anak-anak panti yang nasibnya malang karena harus berakhir di panti asuhan. Itulah sebagai kecil contoh dari menjadi orang tua yang tidak siap, akibatnya individu yang harusnya tidak bersalah apa-apa jadi terimbas. Padahal, anak-anak selucu itu, tapi tidak semua kelucuan mereka dapat dilihat oleh orangtua yang membuat mereka. Jika melihat mereka, Ica beruntung bisa lahir di keluarga yang harmonis, serba berkecukupan.

__ADS_1


"Mbak Lala dewasa banget, ya. Lain sama Ica yang masih kayak anak-anak sifatnya."


"Kamu emangnya merasa kayak gitu, Ca? Nggak usah khawatir, sih. Nanti kita juga bakal didewasakan oleh waktu dan keadaan, kok."


Basa-basi Ica dengan Lala membuat Ica berpikiran lebih luas dan terbuka. Melihat keadaan pernikahannya dengan Bayu saat ini, ia jadi lebih terpacu untuk lebih dewasa. Lalu, entah kenapa Ica malah teringat lagi dengan sumber stressnya hari ini dan ingin membahasnya dengan Lala.


"Mbak, kalau ada orang yang tiba-tiba pengen rusak rumah tangga, padahal cuma teman lama, itu harus diapain, Mbak?" Lala agak tersedak karena tiba-tiba Ica bicara soal itu. Padahal, Lala pikir Ica sudah puas bertanya dan fokus menghabiskan makanan saja.


"Di apain apanya? Kenapa mesti khawatir sama orang kurang kerjaan kayak gitu? Lagian, orang itu cuma teman lama, kan? Bakalan kalah sama istri sah kalau itu." Tanggapan Lala lagi-lagi mengejutkan Ica.


"Berarti, yang punya kesempatan untuk menang lebih besar itu istri sahnya, ya, Mbak?"


"Udah pasti lah. Asal si istri jangan sampai kecolongan. Buat aja si suami betah sama istri dan nggak ada kontak sama si teman lama itu. Si istri juga harus cerdas, harus bikin suami makin cinta sama istri."


"Ooh, gitu. Makasih ya, Mbak, tanggapannya."


"Emang itu siapa yang alamin, Ca? Kamu ya?" Lala langsung membidik tepat sasaran. Ica mati kutu jadinya.


"Ee..., mana mungkin, Mbak. Hahaha. Aku sama Pak Bayu, kan, keluarga yang harmonis, apalagi kalau di rumah. Ahahaha. Itu, kemaren sahabat aku curhat kayak gitu. Jadi, aku juga ikut kepikiran, deh." Tampak sekali bohongnya, terbukti Ica baru menjawab setelah jeda cukup lama.


"Ooh, gitu. Ya udah, sampaikan salam aku ke sahabat kamu itu. Bilang sama dia kalau ada masalah rumah tangganya lagi bisa curhat ke aku melalui kamu." Lala hanya meladeni Ica. Ia sudah tahu jelas kalau cerita tadi adalah ceritanya Ica. Sudah jelas juga Ica tak punya sahabat karena semasa sekolah dulu, ia tak punya banyak temen apalagi teman dekat sampai sahabat. Lala menjadi khawatir, ia menyimpulkan kalau inilah yang membuat Ica murung terus hari ini. Yang bisa ia lakukan adalah memberinya dukungan sebisa mungkin.


"Aa..., pasti, Mbak. Sahabat aku itu pasti bakal curhat lagi sama Mbak." Ica menghabiskan snacknya dengan sembrono dan tersenyum pada Lala guna membuat Lala tak mencurigainya.

__ADS_1


"Jadi, istri sah punya peluang menang lebih besar, ya?" batin Ica masih memikirkan tanggapan brilian Lala. Entah apa yang akan Ica lakukan dengan tanggapan brilian itu.


...----------------...


__ADS_2