
Pagi mereka terasa lebih damai. Tidak ada hal-hal yang berbau pekerjaan sama sekali. Sarapan kali ini lebih santai. Mereka berdua sarapan dengan wajah penuh bahagia. Meskipun tadi malam tidak ada yang belah duren, tapi tetap saja begitu terasa bahagia hanya karena semalaman pasutri ini tidur berpelukan.
"Mas, abis ini kita mau ngapain?" tanya Ica yang sudah tidak waras saat mengagumi wajah ceria suaminya itu. Yaa, Ica kehilangan akalnya saat melihat Bayu kini sering tersenyum. Tak terbayang karena Bayu seperti tidak bisa memasang wajah lain selain raut wajah seram dan galak. Sudah pernah ia melihat senyum Bayu sebelumnya. Namun, kali ini ia merasa lebih bangga, karena sebab Bayu tersenyum adalah dirinya. Yang dulunya ia iri terhadap Caca yang bukan siapa-siapa Bayu, tapi bisa membuat Bayu tersenyum, kini Ica lah yang jadi satu-satunya orang yang bisa memberikan tempat untuk Bayu tersenyum.
"Mas, Ica baru sadar. Ternyata kamu ganteng banget, ya. Hahaha. Apalagi kalau pasang tampang bahagia kayak gini. Hehe." Ica mencari bahasan lain sebelum pertanyaannya dijawab. Dan bahasan itu ia lontarkan begitu saja karena ia benar-benar sedang mengagumi rupa suaminya itu.
Bayu terlihat salah tingkah. Ia segera menetralkan tingkahnya, lantas berdehem dan berkata, "Sayang sekali Ica, kamu baru menyadarinya sekarang. Saya memang sangat tampan dan saya tahu itu. Banyak juga yang naksir sama saya karena ketampanan saya, biar kamu tahu." Ada nada sombong di sana. Ica bereaksi meragukan Bayu.
"Mana ada yang naksir sama Mas Bayu kalau kamu suka pasang tampang galak, Mas," balas Ica dan menertawai Bayu.
"Kamu, ya, asal. aja bicara!"
"Tuh, kan, kambuh galaknya."
"Sebenarnya mereka pada naksir walaupun saya galak. Cuman, saya agak nggak bisa diraih aja buat mereka-mereka."
"Yak, bener banget, Mas. Kamu itu untouchable, tak dapat tersentuh. Apalagi kalau mas udah masang muka sangar dan marah. Yang ada mereka bukan naksir sama Mas, tapi malah nggak suka liat Mas. Hehe," Ica men skakmat Bayu.
"Terserah kamu mau ngomong apa," balas Bayu dengan wajah yang kini galak.
"Baru juga dibilang, udah muncul lagi tuh si galak yang katanya banyak orang yang naksir sama ketampanannya. Hahaha," ledek Ica habis-habisan.
"Tapi nggak apa-apa, Mas. Ada Ica yang benar-benar lihat Mas Bayu, kok. Mas Bayu tampan meskipun galak. Dan cuma Ica yang jadi satu-satunya mencintai sisi kamu yang manapun, termasuk kegalakan kamu. I love you, Mas."
Sesi ledek tadi berakhir. Sekarang suasana jadi lebih romantis lagi. Ica memang sangat manis kelakuannya.
"Makasih banyak, ya, Mas. Ica bahagia banget nikah sama Mas. Walaupun baru sekarang terasanya. Makasih karena akhir-akhir ini bikin Ica lebih bahagia dari biasanya dari kelakuan kamu. I love you so much sayang," ucap Ica. Ia menggenggam tangan Bayu dan mengusap-usapnya. Lantas Bayu balas dengan senyum tulus dan membalas genggaman tangan Ica dengan tangannya yang satunya.
"Abis ini kamu mau mancing, nggak?" tanya Bayu.
__ADS_1
"Um..., mau sih..., tapi tadi malam Mas bilang mau ajak Ica ke suatu tempat, ya? Yang setelah makan sate itu. Emang mau ke mana? Beneran mau mancing, ya tadi malam ngajakinnya?"
Bayu tertawa. Sebab Ica terdengar sangat polos mengucapkannya. Memang benar kalau memancing bisa dilakukan di malam hari. Tapi, untuk apa mereka repot-repot ke tempat mancing saat malam jika di saat hari terang bisa dilakukan. Sisi logik Bayu menertawai kepolosan Ica.
"Tadi malam, saya mau kasih tunjuk ke kamu tempat yang bikin saya tenang banget kalau lagi di sana. Kebun sawit dengan hamparan bunga di setitik spotnya, itu inisiatif saya. Hanya saja, itu memang terkesan mengajak kamu untuk mojok. Saya juga agak tersinggung dengan ucapan kamu di motor, tapi sekarang udah saya lupain, jadi kamu jangan merasa bersalah. Karena sekarang saya udah dengan cerita kamu soal kata mojok itu, lebih baik nggak usah ngajak kamu ke sana, deh. Kita mancing aja."
"Hmm, ya udah, boleh deh. Mancing di tempat pemancingan atau gimana?"
"Di sungai, Ca."
"Ha? Di sungai? Emang ada ikannya?"
"Jangan sepele, Ca. Sungai di sini ikannya beragam. Lagian sungai di sini beda jauh sama sungai di kota yang sebagian besar udah tercemar. Emang kamu nggak pernah mancing di sungai, Ca?" Ica menggelengkan kepala.
"Bukannya anak pertanian harusnya ada pengalaman minimal sekali, ya, mancing di sungai?"
"Kamu sok tahu, Mas. Lagian, kalau mancing yang maksud itu memancing ikan, bukannya itu harusnya paradigma buat anak perikanan, ya?"
"Terimakasih pujiannya, Mas. Tapi Ica makin pintar gini karena ingin seimbang sama kamu. Ya..., berawal dari jadi karyawan dan sekretaris yang suka kena omel sama di marah-marahin, Ica jadi detil sekarang."
"Nah, itu bangus, kan?"
"Apanya yang bagus. Kadang-kadang kalau Ica diginiin juga berasa banget jengkelnya." Bayu hanya ber-oh ria.
Mereka segera menyelesaikan sarapannya dan bersiap-siap untuk kencan. Kencan di sungai itu tetap kencan, kan? Memancing di sana berdua, itu juga kencan. Walaupun tak. terdengar sedikitpun keromantisannya.
Naik motor lagi tentunya. Mereka belum membeli alat pancing dan perlengkapan lainnya.
"Ca, kamu ngapain beli banyak makanan? Kita kan cuma mancing," protes Bayu.
__ADS_1
"Umm... Ica kepikiran, sih. Kita kan nggak pernah piknik, ya. Nah, manfaatin aja sekalian waktunya buat piknik. Oke? Lagian, nggak mungkin sekali naruh pancing langsung dapat ikannya, kan? Harus ditungguin dulu. Dan lagi, mancing juga bikin perut keroncong pastinya. Jadi, kayaknya nggak ada yang salah, deh, kalau Ica beli banyak makanan," Ica mengeluarkan argumennya.
"Iya, nggak salah. Tapi ini terlalu banyak, Ca," protes Bayu lagi.
Ica tak percaya rupanya argumennya tak dianggap.
"Kayaknya yang nggak pernah mancing di sini itu kamu, deh, Mas. Udah, deh, percaya aja sama Ica. Ica udah pengalaman kalau dipanas-panasan gitu perut suka nggak bisa diajak kompromi. Kalau liat makanan pasti langsung lahap, makanan yang Ica beli pun kemungkinan bisa kurang. Lagian, kalau nggak abis, kita bisa makan lagi di rumah. Simpel, kan? Bawel banget, sih, Mas!" kesal Ica.
"Kayaknya kamu nggak kalah bawelnya dari saya, Ca."
"Lah, Ica, kan, memang karena dekat terus sama Mas Bayu. Makanya ketularan bawelnya. Nah, sekarang udah mulai marah-marah ngomel nggak jelas juga karena ketularan kamu, Mas. Huh... Astaghfirullahalazim....," balas Ica makin kesal.
Bayu melihat ke kanan dan kiri. Mereka di pinggir jalan sekarang. Jadi ia memastikan situasi aman. Aman untuk mengecup pipi Ica.
cup
Ica berhasil dibuat merah pipinya.
"Mas, kalau ada orang lain yang liat gimana?"
"Nggak apa-apa. Lagian kamu sama saya udah halal. Kamu sih ikut-ikutan galak juga. Saya gemas mau cium jadinya. Inget, ya, yang boleh galak itu cuma saya. Kamu jangan. Oke?"
"Sejak kapan Mas Bayu bisa selembut dan se-perhatian ini ke Ica, hmm? Mencurigakan!"
"Jadi kamu mau saya galak terus ke kamu, Ca?"
"Nggak, lah. Maunya sih Mas Bayu lembut terus ke Ica kayak gini. Seterusnya."
Bayu tersenyum. Meskipun ia tak yakin bisa selembut ini terus ke Ica, tapi ia akan terus berusaha.
__ADS_1
...----------------...