
Malam itu keduanya tidur jam tiga dini hari. Waktu yang mepet dengan waktu subuh. Namun, Bayu berhasil bangun karena tubuhnya sudah terbiasa bangun di jam yang sama, walaupun tidur tidak pada jam biasanya.
Karena Bayu terbangun lebih dulu, ia ingin bersiap-siap untuk subuhnya. Harusnya ia shalat subuh di masjid, harusnya juga ia terbangun untuk shalat tahajud, tapi itu biasa ia lakukan saat di rumahnya. Agak berbeda rasanya jika dilakukan di rumah orang lain. Apalagi, ia juga baru tertidur di jam tiga dini hari yang menyulitkannya untuk bangun kembali melaksanakan shalat tahajud. Mungkin, subuh di masjid masih bisa ia lakukan.
Ia berniat membangunkan Ica untuk memberitahukan di mana letak masjidnya. Namun, setelah ia melihat Ica, ia jadi enggan membangunkan. Ucapan Ica sebelumnya memang melantur dan setengah sadar, tapi Bayu yakin itulah kejujuran yang hanya bisa diungkapkan Ica saat setengah sadar seperti itu. Lihat saja Ica. Ia masih mengenakan hijabnya saat tidur dengan suaminya sendiri. Padahal, tadi malam Ica sangat berani menyeret paksa Bayu untuk tidur seranjang dan mepet dengannya. Kontak fisik mungkin sudah tidak masalah buat Ica, tapi menunjukkan sesuatu yang selama ini ia jaga rasanya akan perlu waktu lama. Bayu tak mau mempermasalahkan itu, ia yakin Ica pasti sangat lelah untuk mendengar omelan Bayu.
Bayu sudah berpakaian rapi. Memakai setelan koko dan sarung, tak lupa dengan pecinya. Bayu memutuskan untuk turun saja dan menanyakan letak masjid pada orang rumah. Ia tahu, Papa dan ayah mertuanya itu pasti sudah bersiap akan ke masjid bersama.
"Lho, Bayu. Udah rapi aja. Mau ikut ke masjid juga, ya?" sapa Raka saat melihat Bayu turun.
"Iya, Om," balas Bayu seraya menunjukkan senyum malu-malu. Kemudian, terlihat Manda mengikuti dari belakang.
"Lho, kok, Om, sih? Panggil ayah, dong! Panggil ke Bunda dengan panggilan Bunda juga," ujar Manda menimbrung.
"Ahaha, iya, Ayah, Bunda. Oh iya, Bayu boleh kan bareng ke masjid sama Ayah? Bayu nggak tahu masjid yang paling dekat di sini," ungkap Bayu. Belum sempat direspons Raka, Mama dan Papanya Bayu pun keluar juga dan bergabung.
"Eh, Bayu. Udah bangun?" sapa Andi.
"Udah, Pa," jawab Bayu sopan.
"Wah, hebat banget bisa bangun," Winda menimpali.
__ADS_1
"Bisa bangun, maksudnya, Ma?" tanya Bayu bingung.
"Iya, pengantin baru kan pasti kecapean. Pasti males banget buat bangun. Papa juga dulu gitu sama Mama," jawab Winda spontan. Semua orang di sana tertawa cekikikan karena Winda membahas hal itu dengan biasa saja, padahal itu agak sensitif untuk pengantin baru. Namun, tampaknya Bayu menganggap biasa saja pernyataan Winda itu. Lebih tepatnya, ia tak tahu maksud Winda, ia juga tak tahu kenapa semua orang jadi tertawa.
"Iya, Bayu memang capek. Tapi, kan, selagi masih bisa shalat di masjid, lebih baik di masjid. Laki-laki kan, diutamakan untuk shalat berjamaah di masjid," respons Bayu yang kemudian menghentikan tawa mereka.
"Wah..., Ayah nggak salah pilih menantu, nih. Dalem banget agamanya. Salut Ayah sama kamu, Bayu," puji Raka pada Bayu seraya menepuk-nepuk pundak Bayu tanda bangga.
"Yakin masih kuat? Lagian, kamu bisa shalat di rumah bareng Ica. Pengantin baru, kan, habis malam pertama lengketnya udah kayak prangko." Kini giliran Manda yang menggoda. Lagi-lagi Bayu tak mengerti betul kalau sedang digoda.
"Nggaklah, Bun. Biasa aja. Nggak ada capeknya, kok," balas Bayu.
"Wah..., Bayu, besar juga stamina kamu, ya," Winda melanjutkan kemudian puas menertawai kepolosan Bayu.
"Oiya, Bayu, Ica mana? Kok nggak keluar untuk nganter kamu? Duh, maaf, ya, anak itu suka lupa kalau kewajibannya akan bertambah kalau udah jadi istri orang." Manda mengganti topik karena tak melihat putri semata wayangnya itu muncul. Padahal, jika seperti ini, tugas istri adalah meladeni sang suami, mengantarkan sampai ke depan rumah saat akan pergi ke masjid atau pergi kerja, seperti yang dilakukan oleh Manda dan Winda. Setidaknya, itulah yang dilakukan secara turun-temurun di keluarga Manda dan mungkin Winda juga, tidak tahu keluarga orang lain melakukannya juga atau tidak.
Sudah Manda beritahukan tugas-tugas seorang istri kepada Ica, tapi ia tak melakukannya. Manda jadi malu jika dianggap tak dapat mendidik anak dengan benar.
"Ooh, itu, tadi udah Bayu bangunin. Tapi kayaknya Raisa capek banget, soalnya nggak bangun-bangun." Bayu cukup berani berbohong seperti itu, padahal bukan gayanya berbohong demi kebaikan. Demi kebaikan? Apa benar ini demi kebaikan? Demi kebaikan siapa? Apa Bayu tulus berbohong agar tidak ada orang yang berpikir buruk tentang Ica? Atau itu dilakukannya hanya karena rasa bersalahnya saja?
"Wuahahaha, wajar sih. Namanya pengantin baru. Apalagi, Ica nggak terbiasa kayak gitu. Wajar kalau capek dan belum bangun. Nanti pas subuh juga bangun," timpal Winda yang ternyata belum puas menggoda.
__ADS_1
"Iya, jadi, nggak masalah, kok, Bun. Bayu ke masjidnya, kan, bareng sama Papa sama Ayah juga. Ntar lagi, mungkin Fahri sama Dirga ikut nyusul ke masjid, iya, kan, Ma?" Bayu melemparkan ucapan ke Winda, kemudian di balas dengan anggukan sebagai tanggapannya.
"Ya udah, deh. Bunda minta maaf ya, karena sebagai orang tua terlalu manjain Ica sampai susah bangun. Nanti kalau subuh Ica belum bangun, biar Bunda yang bangunin," ucap Manda penuh sesal.
"Lebih baik biarkan aja Ica istirahat. Bayu dan keluarga kami juga nggak mempermasalahkan itu, kok. Lagian kami juga ngerti, abis pesta pernikahan, terus malam pertama, pasti capeknya dobel itu." Winda menanggapi. Ia mengerti betul kalau Manda takut anaknya dicap jelek oleh keluarga suaminya. Untunglah, Ica ternyata memiliki mertua yang baik.
"Malam pertama?" batin Bayu bertanya. Ia memutar otaknya ke pembicara sebelum-sebelumnya di mana orang-orang tertawa saat membahas soal pengantin baru. Ia malu besar jika pembahasannya ternyata adalah hal yang vulgar seperti ini. Ia kira, kelelahan dalam artian karena terlalu banyak berdiri dan senyum menyambut tamu yang datang di pesta pernikahan, ternyata lelah dalam arti yang berbeda. Bayu malu sekali karena menjawab dengan santai. Apa yang akan semua orang pikirkan tentang dirinya setelahnya?
"Ya udah, ayo jalan," ucap Raka mengakhiri.
"Pergi dulu, Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,"
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Kayaknya Fahri sama Dirga juga kecapean. Mungkin mereka nggak bisa tidur karena kamar mereka bersebelahan sama pengantin baru. Lebih baik aku bangunin dulu sebelum mereka terlambat nyusul." Winda masih saja berada di topik yang sama. Ia tersenyum dalam hati karena topik tentang pengantin baru ini sangat menghiburnya.
"Umm..., boleh nggak aku naik untuk bangunkan anak-anak? Takutnya mereka telat," ujar Winda pada Manda.
"Ya ampun, Winda..., kita udah jadi besan. Kenapa perlu izin, sih? Anggap aja rumah sendiri."
"Oh, oke, deh. Aku naik dulu kalau gitu."
__ADS_1
...----------------...