Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Kekanakan


__ADS_3

Pernikahan yang awalnya tanpa cinta, kini berubah menjadi pernikahan yang penuh cinta. Dua orang yang awalnya hanya menerima perjodohan tanpa dasar cinta dan merasa tersiksa, kini tak menyesali pernikahan indah ini. Berlebihan bahwa Ica beranggapan seperti itu karena tadi malam ia cuma berpelukan saat tidur dengan Bayu, tidak lebih. Tapi rasanya hari ini berbunga-bunga sekali.


Menyaksikan Bayu yang penuh fokus saat mempersiapkan pancingan dengan tatapan yang tajam, membuat Ica berdebar-debar seperti remaja yang jatuh cinta. Ooh, sungguh, telat sekali ia jatuh cinta pada Bayu. Menyadari betapa sempurnanya Bayu yang menjadi suaminya ini. Wajah yang rupawan, mata yang indah, alis tebal yang mempertegas wajahnya juga hidungnya yang mancung, tinggi badannya, deretan giginya yang rapi saat ia tersenyum dan meneduhkan hati, dan dada bidang Bayu. Dada yang saat Ica mengingat telah tidur di sana membuatnya bersemu merah. Sebab, tubuh Bayu sangat atletis. Ia bisa merasakan betapa hot suaminya itu dengan kotak-katak di tubuh depannya. Menyadari kembali bentuk tubuh Bayu yang sudah ia sentuh itu membuat Ica merona merah.


"Kamu kenapa, Ca? Panas banget di sini? Keliatan dari wajah kamu yang memerah. Kamu kenapa nggak ngomong, hmm?" ujar Bayu kala ia melihat Ica kemerahan, agak marah.


Aaa.., suaminya itu memang hampir sempurna. Tapi, ia lupa satu sikap yang berhasil menutupi semua keunggulan Bayu itu. Galak. Gara-gara sifat galaknya, kesempurnaan itu jadi tak terlihat.


Baru saja mengagumi Bayu, kini ia kesal sekarang. Tanpa Bayu susul untuk berbenah mencari lokasi yang tidak terlalu panas untuk tempat piknik, Ica dengan agak gusar mencarinya sendiri. Di bawah pohon sawit yang jaraknya hanya lima meter dari sungai tempat Bayu berada.


"Loh, Ca, kamu jauh banget pindahnya. Nanti kalau dapet ikannya gimana?"


"Huh, nggak tahu, Mas. Kan, yang mancing kamu, bukan Ica."


"Loh, tapi saya mau kamu ikut mancing juga. Seru loh, Ca."


"Nggak, nggak mood."


"Kamu kenapa, sih, Ca? Tadi pagi senyum-senyum terus, bahagia banget mukanya. Lah, sekarang, malah jadi galak. Saya nggak ngerti!"


"Loh, Mas yang kenapa! Kok balik marahin Ica? Bukannya ditenangin kalau Ica udah kesel gini. Siapa yang nggak galak, coba, hmm?"


Ica membuang muka saking kesalnya pada Bayu. Ia sendiri tak tahu kenapa bisa kesal hanya karena Bayu agak galak lagi setelah beberapa waktu Ica luluh dengan kelembutannya Bayu. Ternyata, sifat galak itu permanen, tak bisa dihapus. Sekalipun Bayu lembut dan perhatian pada Ica, bukan berarti sosok galaknya hilang.


Bayu membiarkan pancing nya. Duduk dan memperhatikan sungai yang amat bersih nan jernih, ikan-ikan jelas tampak dari sini. Lalu, saat kaitnya disantap ikan, ia segera mengambilnya. Wajah bahagia langsung ia tunjukkan kepada Ica. Tapi Ica tak menggubris.


"Baru dapet ikan aja senengnya kebangetan!" omel Ica pada Bayu. Meskipun berjarak, Bayu masih mendengar dengan jelas.


Bayu mendatangi Ica dengan kaitnya yang jiga dibawa.


"Ambil, Ca!"


"Hah?"


"Ambil ikannya."

__ADS_1


"Nggak mau..."


"Udah, ambil aja."


"Kenapa nggak mas aja, sih, yang ambil?"


"Ambil, nggak?"


"Lho kok ngancem, sih? Ica nggak suka, Mas. Mas bentak Ica juga itu. Padahal Mas tahu kalau Ica nggak suka dibentak."


"Kamu jangan berlebihan, Ica. Ini cuma ambil ikannya doang. Saya nggak suruh kamu lepasin ikannya dari kaitnya."


Ica diam. Ia memilih tak menjawab lagi kalau Bayu mengucapkan sesuatu lagi.


"Ca..., kamu yakin nggak mau ambil ikannya? Seru, loh."


"Nggak!" jawab Ica ketus. Kali ini Ica mode anak-anak sudah on. Bayu garuk-garuk kepala karena pusing dan bingung menghadapinya.


"Ica...," bujuk Bayu lembut, berharap Ica luluh. Ternyata Ica tak mau luluh.


Mood swing. Ica sedang mengalami itu. Ayah dan bundanya jika kedapatan Ica seperti ini, mereka langsung sigap memeluk Ica. Tapi Bayu tidak. Karena itu pula Ica makin kesal. Sesuatu yang selalu ia dapat saat mood swing seperti ini, kini tak mungkin bisa lagi didapatkan. Apalagi Bayu yang gengsi dan suka tak dapat mengungkapkan sesuatu yang berhubungan dengan perasaan dengan benar.


"ICA MAU DI PELUK KALAU LAGI MARAH KAYAK GINI MAAAS! PEKA DONG!" teriak Ica.


Bayu yang masih berusaha melepas ikan dari kaitnya kini tahu apa yang harus ia lakukan. Tapi, ia harus membereskan ikannya lebih dulu dan memastikan tangannya tidak bau amis untuk mendekap istri manjanya yang kekanakan itu.


Dengan sigap Bayu membereskan ikannya untuk segera menyusul Ica. Namun, Ica rupanya sudah menangis duluan dengan duduk sambil memeluk kedua lututnya. Bayu terlambat karena menganggap remeh moodnya Ica.


Bayu mendekat dan menyentuh tangan Ica lembut. Ia pegang kedua tangan Ica agar Ica segera menunjukkan wajahnya. Lantas, benaman wajah Ica kini menghilang. Menampakkan air mata yang masih menetes di sana. Bayu segera mengusap air mata itu. Namun, setelah diusap, tangis Ica malah semakin menjadi.


Bayu langsung memeluk Ica erat dan mengusap-usap punggungnya. Sesekali ia menciumi kepala Ica untuk membuat Ica lebih tenang. Dibiarkannya Ica menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya.


"Mas nggak peka! Mas jahat! Ica benci sama Mas dengan sifat itu!" umpat Ica. Bayu sebenarnya kesal, tapi biarlah ia menjadi bahan umpatan jika itu bisa membuat Ica tenang.


Sesaat setelah usapan kepala dan punggung bergantian Bayu lakukan untuk memenangkan Ica, kini ia lega Ica sudah berhenti menangis.

__ADS_1


"Mas...," ujar Ica.


"Hmm? Kenapa, Ca?"


"Kenapa sayang, gitu kenapa, Mas. Kamu ah!" belum apa-apa Bayu sudah mendapat protes lagi.


"Yaudah, saya ulangin. Kenapa sayang? Hmm?" Bayu menuruti. Kemudian Ica tersenyum untuk itu.


"Ica kekanakan, ya? Mas Bayu benci, kan, kalau Ica kekanakan gini?" Bayu tak menjawab. Ia tahu masih ada lanjutannya ucapan si manja miliknya itu.


"Mas harus tahu, Ica suka banget di manja. Tahan-tahanin, ya, sama sifat manja Ica. Ica aja bisa tahan sama sifat Mas yang galak itu, masa Mas kalah? Seorang Bayu Pramana Surya, kan, nggak bisa terima kekalahan. Hihi," lanjut Ica.


"Iya, dasar bawel," jawab Bayu.


"Mas."


"Hmm?"


"Kiss me, pleaseee... right now."


"Sekarang banget? Di sini, Ca? Kamu aneh banget. Pusing saya sama mood swing kamu."


"Kalau nggak, Ica ngambek lagi, nih."


"Kita pulang aja ke rumah. Sekarang masih siang. Nggak enak kalau dilihat orang. Meskipun ini kebunnya punya saya, bukan berarti saya bisa seenaknya. Lagian, ini udah termasuk mojok, Ca. Bukannya kamu masih rada-rada sama istilah itu? Kita juga harus jaga sikap. Kita pulang aja sekarang, mancingnya bisa kita lanjutin besok."


"Iya iya. Ternyata lebih bawel lagi kamu, Mas!"


"Daripada kamu kekanakan!"


"Loh, biarin. Daripada Mas Bayu Bos Galak!"


"Galak gini kamu cinta, kan?"


Ica diam tak menggubris. Lalu melarikan diri ke tempat piknik mereka tadi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2