Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Ketahuan


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, Bayu dan Caca naik ke kelas sebelas, kemudian ke kelas terakhir di kelas dua belas. Entah kebetulan macam apa, tahun selanjutnya mereka berada di satu kelas lagi. Jika waktu masih menjadi murid baru hanya Caca saja yang bahagia bisa sekelas dengan Bayu, kini Bayu pun merasa bahagia karena bisa selalu satu kelas dengan Caca, bukan hanya Caca saja yang merasakan kebahagiaan dari kebetulan ini. Ya, kedekatan antara Bayu dan Caca semakin intim sejak saat Bayu mengungkapkan perasaannya juga secara tersirat waktu itu, membalas ungkapan perasaan terbuka dari Caca. Ditambah lagi, tak ada teman Bayu yang benar-benar "seorang teman" selain Caca, berbeda dengan Caca yang banyak temannya. Lebih tepatnya, tidak ada yang dapat bertahan untuk berteman dengan Bayu. Hanya Caca yang tahan dengan semua sifat Bayu.


Dirga yang usianya terpaut satu tahun lebih muda dari Bayu ternyata memutuskan untuk masuk ke sekolah yang sama dengan Bayu atas arahan Andi sang ayah. Hal itu dilakukan Andi agar Dirga dapat belajar langsung dari Bayu tentang kesempurnaan Bayu di segala bidang. Juga sebagai pembelajaran langsung untuk Dirga karena Bayu adalah calon penerus perusahaan ayahnya. Dari kecil, Bayu sudah dijadikan sosok panutan untuk dua adik lelakinya itu, Dirga dan Gilang. Jika Bayu bertingkah, sang Ayah berharap dua putra sisanya itu dapat menjadi salinannya Bayu juga.


Bayu Caca dan Dirga, ketiganya menjadi sangat dekat. Setiap Bayu ingin mengerjakan tugas sekolah bersama Caca, Dirga selalu dimintai tolong oleh bayu untuk ikut menemani. Dua tahun berlalu, secara perlahan Dirga mengetahui ada sesuatu yang berbeda antara Bayu dan Caca. Dirga menyadari bahwa Bayu dan Caca saling suka dan Dirga tidak suka dengan sesuatu yang baru ia sadari itu. Ia melihat kesempurnaan di diri Bayu, tapi baru kali ini Dirga melihat kelemahan Bayu, yaitu Caca. Ya, Caca. Dirga tak percaya, seorang wanita seperti Caca dapat menjadi kelemahan Bayu. Bisa dilihat, Bayu selalu emosi dengan lawan bicaranya, tapi itu tak ia tunjukkan ketika berbicara dengan Caca. Mencoba tegas berbicara pun, Bayu tak bisa jika bersama Caca.


"Ca, Lo sama Bayu manfaatin Gue buat jadi orang ketiga, ya? " Dirga yang duluan datang ke kantin sebelum Bayu datang, menginterupsi Caca tiba-tiba. Hingga Caca yang sedang makan pun agak tersedak mendengarnya.


"Apaan sih, Dirga? tiba-tiba kamu kok ngomong gitu?" balas Caca tak senang.


"Lo sama Bayu saling suka, kan?" Dirga to the point.


Rupanya Bayu yang sudah di jalan telah mendengar ucapan Dirga yang frontal itu.


"Iya kan? Benerkan, Bayu? Soalnya, Caca sering banget minta pendapat Gue setiap nanyain sesuatu tentang Lo. Kayak gitu juga, Lo, Bayu. Diantara kalian pasti ada sesuatu. Kalian pacaran, ya?"

__ADS_1


Jleb. Secara bersamaan Caca dan Bayu meneguk salivanya. Dua orang ini seperti tertangkap basah oleh Dirga.


"Dirga, kami memang saling suka. Tapi kami nggak pacaran. Kami juga tahu batasan, kok. Kebanyakan ngajakin kamu saat lagi butuh buat bicara, kan? Walaupun kesannya memanfaatkan kamu, tapi kami niat supaya nggak ada sesuatu yang keluar jalur terjadi," jawab Caca gugup.


"Akhirnya Lo ngaku, Ca. Selama ini Gue segen aja menginterupsi kalian, tapi bagus, deh, kalau udah ngaku." Dirga sengaja mengakhiri. Tapi dalam hati, ia senang melihat kelemahan Bayu. Baru kali ini ia mengetahui Bayu bisa menyembunyikan fakta ini. Bayu yang perfeksionis itu rupanya memiliki celah. Dirga yang sebenarnya selalu iri dengan Bayu, kini merasa senang telah mengetahui rahasia Bayu yang menurutnya memalukan jika diketahui oleh keluarga.


...----------------...


Satu tahun kemudian, Caca dan Bayu berada di Universitas yang sama, tapi beda jurusan. Sementara Dirga, ia masih saja dipaksa Bayu ikut saat akan berduaan dengan Caca. Akibatnya, Dirga jadi bolak-balik ke kampus mereka dan juga ke sekolah, meskipun diantarkan oleh Bayu yang sudah dibolehkan mengendarai mobilnya sendiri.


Dirga pergi ke toilet, ia sebenarnya disuruh begitu oleh Bayu, agar Bayu dapat menyampaikan sesuatu yang penting ke Caca saat berdua saja. Disaat sudah berbasa-basi sebentar, tiba-tiba Bayu mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Kemudian menyodorkannya kepada Caca dan menyuruhnya untuk membuka kotak itu.


Caca bertanya-tanya. "Apa ini, Bayu? Kenapa ngasih cincin?" ucap Caca bingung.


"Ca, aku nggak mau pacar-pacaran, aku mau kita langsung nikah. Kita memang masih baru lulus sekolah, tapi kamu mau kan nikah sama aku? Kita udah lama kenal, kan? Aku rasa, waktu ubtuk saling mengenal udah sangat cukup untuk melangkahkan ke jenjang selanjutnya, pernikahan, Ca. Aku nggak bisa lagi memupuk dosa terus menerus, karena sebenarnya apa yang kita lakuin ini nggak bener, kan, Ca? Jadi, menikah jalan satu-satunya," jelas Bayu dengan satu napas. Ya, ia sudah mengucapkan kata lamaran untuk menikahi Caca. Ia tak pernah merasa segugup ini sebelumnya.

__ADS_1


"Kamu gila, ya?" balas Caca cepat.


"Ha? Maksudnya gimana? Aku ngelamar kamu, lho, Ca," Bayu mempertegas ucapannya.


"Iya, kamu gila. Kamu nggak salah denger, kok. Apa yang kamu ucapin itu omong kosong, Bay. Kamu jelas-jelas tahu semuda apa umur kita sekarang, tapi dengan entengnya kamu ngajuin lamaran. Apa kamu mau nikah dengan uang papa mama kamu? Kamu sendiri belum bisa apa-apa tanpa bergantung dengan uang mereka, kan?"


"Ca? Apa, sih? Aku baru tahu kamu bisa bilang kayak gitu. Selama ini aku pikir kamu yang paling ngertiin aku. Kenapa kamu sekarang jadi bawa-bawa orang tua, Ca? Apa hubungannya? Sebelum itu, kamu udah tahu sendiri aku juga coba bisnis kecil-kecilan selama sekolah, aku pikir itu cukup buat menghidupi dua orang."


"Kok kamu nggak realistis, sih, Bay? Iya memang cukup buat menghidupi. Terus gimana nanti soal tagihan listrik, air, dan lainnya? Apalagi kita masih baru kuliah. Aku juga sebenarnya udah capek ngadepin kamu. Berusaha selalu mengalah setiap kamu marah. Aku capek. Aku yang sebenarnya ya aku yang sekarang kamu lihat dan kamu denger ucapannya. Cewek kayak aku yang ngejer-ngejer kamu duluan ini udah capek ngeladenin kamu. Lamaran tiba-tiba ini nggak masuk akal! Kamu gila, Bay! Cari aja cewek lain buat kamu nikahin!"


"Ca? Kamu pergi? Kekanakan banget. Padahal kita bisa bicarain baik-baik soal ini."


"Sorry banget, Bay. Aku sama sekali nggak punya waktu buat ngomongin masa depan konyol ini. Aku masih punya banyak urusan yang mau diurusin."


"Tunggu, Ca. Aku masih nggak ngerti. Jadi, apa maksud kamu? Apa kesimpulannya? Oke aku tahu kita masih muda, mungkin kamu bener. Terus, kenapa aku harus nikahin cewek lain?"

__ADS_1


"Kamu peka, kan? Kenapa aku harus bilang lagi, sih? Intinya, ya, aku udah bosen sama kamu. Capek jadi orang yang terus ngalah. Capek ngadepin kamu yang suka marah-marah nggak jelas. Ego kamu tinggi banget. Aku udah nggak punya rasa apapun ke kamu. Sorry, ya, cincin ini juga kelihatannya nggak cocok banget buat ngelamar aku. Padahal keluarga kamu kaya raya, tapi kamu cuma ngasih cincin yang modelan murah begini. Ya, aku matre, dan itu aku yang sebenarnya. Bye!"


__ADS_2