
Bayu menatap cincin yang sudah dibuka itu kotaknya oleh Caca. Ia sudah bersusah payah mengumpulkan uang untuk membeli cincin itu, ya, dengan uangnya sendiri yang berasal dari usaha sampingannya yang baru ia rintis. Ia pikir, Caca akan mengerti dan bangga, tapi justru sebaliknya. Padahal, cincin yang Bayu beri bukan sembarangan cincin, ia memilih cincin yang terbaik, meskipun tidak memiliki permata di cincinnya.
"Bro, sorry banget, gue tadi nggak ke toilet, tapi duduk di dekat kalian juga. Abisnya gue nggak kebelet, buat apa ke toilet?" Dirga menghamp Bayu yang berdiri mematung.
"Jadi? Kamu denger semuanya?" tanya Bayu dengan tatapan menikam untuk Dirga.
"Hahaha. Kasihan banget lo, Bro di tolak mentah-mentah. Cewek murahan dia rupanya. Pinter banget make topeng buat deketin Lo yang kaya ini. Hahaha." Puas Dirga menertawai Bayu.
"Nggak, dia cuman gila aja. Dia bukan murahan. Dia tulus," balas Bayu tegas. Sudah ditolak mentah-mentah pun, ia masih mau membela Caca.
"Bodoh apa gimana sih, Lo? Bukannya udah jelas dari apa yang dia ucapin tadi? Lo bahkan disuruh cari cewek lain buat lho nikahin."
"Nanti aku tanya kejelasannya lagi sama Caca. Aku tahu dia lagi pms, mungkin moodnya lagi jelek."
"Seriusan? Seorang Bayu Pramana Surya mengemis cinta? Ini gue lagi mimpi apa gimana?"
"Aku bukan pengemis cinta. Aku pejuang cinta. Catat itu!"
"Oiya, kamu pulang sendirian ya, Dirga. Buat ongkos, jual aja tuh cincin."
"Dih! Sayang banget sama tuh cewek sampai ngemis-ngemis segala," gumam Dirga tersenyum sinis. Kemudian menatap cincin yang diberikan oleh Bayu sebagai sumber cuan yang besar dengan senyum kemenangan.
...----------------...
Setelah penolakan satu kali waktu itu, kini Bayu ingin mencoba kembali. Tak ada kata menyerah di kamus Bayu. Ia pun membeli cincin terbaik untuk Caca, yang sekelas dengan status keluarganya. Demi melamar Caca, ia rela menguras lebih banyak tabungan miliknya.
Bayu mengejar Caca yang kebetulan berpapasan dengannya di area dekat kelas yang akan ia masuki selanjutnya.
"Ca, tunggu, Ca. Pertimbangin lagi soal lamaran aku. Aku tahu kamu baru aja ngucapin hal yang gila. Kamu juga baru nunjukin sifat kamu yang sebenarnya, tapi aku tetap menerimanya, Ca. Aku tahu kamu mungkin terkejut karena aku ngajuin lamaran tiba-tiba. Kamu juga lagi pms, kan? Mungkin aku ngomong di waktu yang nggak pas." Bayu langsung to the poin.
"Apaan sih? Jijik tahu, nggak? Bukannya udah jelas, ya? Aku udah nggak suka sama kamu!"
"Tapi mungkin itu karena kamu lagi bosan aja sama aku." Bayu tak mau kalah.
__ADS_1
"Gimana sih cara bilangnya supaya kamu tuh ngerti, hah? Aku nggak suka lagi ya nggak suka! Jangan maksa, dong! Pelanggaran HAM namanya. Dan kamu juga udah nggak suka sama aku sebenarnya, kan? Kamu udah nggak seroyal dulu ngajakin makan atau semacamnya. Gimana mau dilanjutkan ke jenjang selanjutnya?"
"Ca, Please, aku tahu kamu nggak lagi serius sekarang. Aku nggak mau denger penolakan kamu."
"Nah, itu! Itu yang bikin aku nggak suka lagi sama kamu, Bay. Kamu terlalu egois, nggak mau dengerin pendapat aku. Capek aku, Bay, Capek!"
"Ca..., aku nggak pernah segigih ini. Aku tahu mungkin aku belum ideal buat jadi suami kamu. Tapi apapun bakal aku lakuin buat kamu. Berubah seperti yang kamu inginkan. Kamu tahu sendiri kan? Cuma kamu yang bisa ngerubah aku."
"Bay, kamu bodoh apa gimana, sih? Aku dari awal cuma deketin kamu cuma karna tampang kamu dan karena kamu kaya doang! Dari awal kamu udah aku manfaatin buat royal ke aku. Kenapa mesti dibilang dulu, sih, baru ngerti? Denger, ya, Bay, aku memang matre. Keluarga aku lagi bangkrut. Aku bisa dibunuh kalau tiba-tiba izin mau nikah. Kamu nggak pernah ngerti soal ini, karena dari awal kamu memang nggak peduli."
Tampaknya lamaran Bayu tak berjalan mulus sebelum berdebat dulu dengan Caca.
"Ca, aku udah pernah ketemu sama orang tua kamu dan serius bilang ingin kenal kamu lebih dekat. Soal akan melamar kamu pun, aku juga udah izin ke orang tua kamu, mereka bilang itu tergantung keputusan kamu. Soal kebangkrutan, kita bisa sama-sama merintis. Sebagai suami istri nanti, kita bisa lebih mudah untuk saling support."
"Jadi apa maksudnya? Kamu mau nikahin aku karena kasihan dan karena keluarga aku bangkrut? Iya?"
"Salsa!" Bentak Bayu. Caca langsung terdiam. Bayu langsung sadar kalau ia salah karena tiba-tiba membentak Caca.
Caca menuruti. Ia pun menjadi tenang.
"Oke, Ca, kamu udah jernih, kan, pikirannya?" Caca mengangguk. Ia menjadi penurut sekarang.
Bayu membuka kotak cincin yang ia bawa, kemudian memperlihatkannya pada Caca. "Lihat, Ca, aku rasa ini udah sebanding sama kekayaan keluarga aku seperti yang kamu pinta sebelumnya. Tapi, aku rasa kamu nggak butuh lamaran untuk saat ini. Aku sebenarnya nggak suka ngemis-ngemis gini, apalagi kamu udah jelas-jelas nolak. Oke, pertama, kita bisa seperti sebelumnya, kan? Jangan putuskan silaturahmi, aku nggak mau."
"Jadi, buat apa kamu nunjukin cincin ini ke aku? Mau kasih ke aku?" tanya Caca bertautan alisnya.
"Iya, ini untuk kamu. Kamu mungkin bisa nolak lamaran aku, tapi aku nggak mau kamu nolak cincin pemberian aku lagi. Aku mau kamu ambil, dan gunain dengan bijak untuk membantu keluarga kamu. Dengan begitu, kita nggak usah nikah dulu. Aku juga mikir, sih, kalau orangtua lagi nggak bahagia, mungkin pernikahan kita nggak akan buat mereka bahagia, Ca. Aku sadar aku egois dan memaksa. Aku minta maaf, ya."
"Ini kamu lagi nggak kasihan sama aku, kan? Aku nggak mau nerima kalau kamu cuma kasihan sama aku."
"Dari hati narani, ya, aku kasihan. Tapi, aku juga berusaha mengerti dengan membantu. Coba aja kamu bilang dari awal soal keadaan ekonomi keluarga kamu, pasti aku ngerti. Keluarga kamu nomor satu, aku tahu itu."
"Soal aku yang matre, gimana? Kamu masih mau kita berteman kayak dulu?"
__ADS_1
"Teman, ya? Haha, emang begitu, sih, status kita. Soal matre, aku masih paham. Nggak ada cewek yang nggak matre. Kita harus realistis, apa-apa butuh uang. Mungkin aku bakalan seroyal dulu lagi ke kamu, karena aku ada rintis bisnis baru lagi. In syaa Allah, karena Alhamdulillah sekarang lagi naik-naiknya nih bisnisnya."
"Oiya? Gimana tuh? Aku juga mau dong, Bay, ikut bisnis bareng kamu. Tapi, kayaknya baru bisa jadi asisten kamu aja, deh, soalnya nggak punya modal, hehe."
"Ide bagus, Ca. Gimana kalau kita rintis bisnis yang baru bersama? Soal modal, aku yang jadi pemodal. Kamu jalanin administrasi aja nggak apa-apa, kok. Aku percaya sama kemampuan kamu. Itung-itung, kamu juga bisa berkontribusi nanti buat orangtua kamu."
"Beneran, Bay?" Bayu mengangguk menanggapi. Wajah gembira kemudian terbit dari keduanya.
"Tapi, hubungan kita sekarang jangan jadi temen doang, ya?" usul Bayu.
"Terus, jadi apa, dong?"
"Rekan bisnis. Biar keren. Hahahaha."
"Hahahaha, kamu bisa aja. Tapi boleh sih, Bay."
"Oke, deh. Kamu mau lanjut ke kelas lagi, kan?" Caca yang paham Bayu sudah mau ada kelas memilih mengakhiri pembicaraan.
"Iya."
"Sip, sana pergi. Ntar telat, lho."
"Iya iya."
"Sampai jumpa besok rekan bisnisku. Assalamu'alaikum."
"Rekan bisnisku? Kenapa itu tiba-tiba jadi kayak panggilan sayang, ya, Ca? Kamu mau aku nikahin besok apa gimana?" canda Bayu sembil tertawa.
"Ih, apaan, sih, Bay. Dibilang nanti telat, juga."
"Iya iya. Pergi dulu, ya. Wa'alaykumussalam."
...----------------...
__ADS_1