
Sebisa mungkin Ica bersikap profesional. Karena kesal dengan sikap abstrak Bayu, ia lupa membawa sejumlah obatnya yang harusnya ia bawa. Ingin profesional tadinya, tapi ia malah jadi tak bisa diandalkan dirinya sendiri. Alhasil, ia harus tahan untuk tidak minum obat. Lagian, ia merasa udah lebih baik dari semalam, ia pikir tak masalah untuk berhenti minum obat. Yang bermasalah sekarang adalah batuknya. Karena ia juga tak membawa obat batuk, sebisa mungkin Ica harus membuat batuknya tak mengganggu yang lain.
Masker sudah dipakai Ica sejak sampai di kantor. Untung ia punya stok masker yang tertinggal di kantor. Lalu, saat jam makan siang, Ica segera membeli obat batuk, karena merasa batuknya sudah tak dapat diajak kompromi lagi.
"Huah... ada Dirga sama Pak Andi," gumam Ica saat melihat mertua dan adik iparnya telah memasuki lift lebih dulu. Ica bertanya-tanya, kenapa mereka berdua datang bersamaan. Biasanya, Ica hanya melihat mereka mengunjungi kantor ayahnya ini sendiri-sendiri, tak pernah bersama. Dan lagi, ia merasa jam mereka berkunjung tidak tepat karena bertepatan di jam makan siang. Ica sendiri bertemu mereka baru saja setelah keluar membeli obat batuknya dan beberapa makanan untuk makan siangnya dan Bayu.
Ica tahu tujuan mereka, pasti menuju ruangan kerja ayahnya, terlihat dari angka lantai yang ditunjukkan saat Ica kemudian menunggu lift juga setelah mereka naik.
"Pak, tadi saya ada lihat Pak Andi sama Dirga ke sini bersamaan. Tumben banget, ya," obrol Ica saat mengeluarkan makan siangnya Bayu.
"Oiya? Kamu nggak sapa mereka?" tanya Bayu biasa saja, tak ada terkejutnya. Ia juga tak benar-benar memperhatikan omongan Ica karena terlihat ia sendiri sibuk memijit-mijit keningnya.
Ica mengerti kalau Bayu tak ingin diajak bicara karena gelagatnya yang menunjukkan kelelahan. Ia juga tak ingin mengganggu jikalau batuknya kambuh. Pertanyaan Bayu pun, Ica tahu kalau sebenarnya ia hanya formalitas membalas obrolan Ica. Bayu sama sekali tak tertarik untuk mengobrol.
Ica meninggalkan ruangan Bayu setelah siap menyediakan makanan Bayu, tanpa membalas ucapan Bayu. Dan Bayu pun tak begitu peduli soal Ica yang tiba-tiba pergi setelah mengantar makanannya.
__ADS_1
"Cuek amat jadi bos!" gumam Ica. Ia sudah menahan diri dan berusaha mengerti kelelahan Bayu. Tapi, rasa kesalnya malah keluar. Kemudian, ia sadar karena kesal gara-gara hal yang sepele, ia mengalihkan pikirannya dengan memakan dengan lahap makan siangnya. Sampai ia terbatuk-batuk dan tatapan orang sekitar sinis pada Ica karena Ica menyebabkan kebisingan bagi mereka.
...----------------...
Ica melihat Bayu beranjak dari ruangannya menuju keluar divisi. Tak pernah sekalipun Bayu terlihat begini kecuali akan bertemu dengan klien. Namun, Ica lihat tak ada jadwal keluar. Apa Ica yang salah membuat jadwal Bayu? Lalu, kenapa Ica tak di ajak? Lagian, satu jam sebelum jam resmi pulang kantor, kenapa tanggung sekali pertemuannya? Bayu juga bukan tipe yang akan membolos kerja satu jam sebelum jam kerjanya habis, kan? Bayu yang ia tahu selalu memberikan loyalitas tanpa batas untuk perusahaan. Ini pasti ada suatu hal yang penting sekali, sampai Ica tak sempat diberitahu. Ica pun diliputi rasa penasaran.
"Papa datang langsung karena ingin tahu apa yang gue kerjain sesuai harapan dia atau nggak. Dan lo tahu? Papa sama sekali belum percaya sama semua yang gue kerjain. Dia secara langsung ngajak gue ke ruangan Pak Raka untuk memastikan kerjaan gue," mulai pria yang ditemui Bayu, yang ternyata adalah Dirga. Mereka berbicara di parkiran kantor, di dekat mobil Dirga terparkir. Di sana hanya ada Dirga, padahal Ica melihat tadi Dirga dan Andi datang bersamaan ke kantor. Kemungkinan besar Andi sudah pergi duluan dengan mobilnya sendiri.
"Apa kamu nyuruh saya ke sini cuma buat ngomongin itu? Kamu bisa aja ngomongin itu di chat sekalian. Ini namanya membuang-buang waktu," respons Bayu tak ramah.
Dirga merubah posisinya, enggan menatap Bayu. Tampak wajah muak Dirga dengan sikap Bayu.
"Gue nggak mau terlibat lagi dengan urusan Lo sama Caca. Lo sendiri udah berusaha membuang masa lalu kalian, kan? Kalau gitu, cepat selesaikan! Kalau suka, bilang suka, jangan buat harapan untuk Caca. Jangan juga nerusin untuk bertemu dalam urusan bisnis dengan Caca karena Lo merasa kasihan sama dia. Kalau benci, cepat akhiri! Akhiri semuanya secepatnya!" ujar Dirga serius.
"Apa maksud kamu, Dirga?" Bayu malah tak mengerti dengan ucapan serius itu.
__ADS_1
"Caca hubungin gue lagi. Bayu lo tahu, gue udah punya calon, dan sebentar lagi bakal nikah. Gue juga risih dihubungi mulu sama cewek lain! Gimana kalau calon gue tahu? Gue yang tulus cinta sama calon gue, mungkin aja kita nggak jadi ke jenjang pernikahan karena dia kecewa sama gue. Bahkan pernah satu kali Caca nelpon gue pas gue lagi sama calon gue," jelas Dirga jengkel.
"Ada apa Caca ngehubungin kamu lagi? Apa yang dia bilang?" Tampak Bayu mulai tertarik dengan bahasan Dirga.
"Dia merasa bersalah karena masih suka sama Lo, bahkan dia merasa rasa sukanya ke Lo itu makin besar. Dia merasa depresi karena Lo mengabaikan dia. Merasa sebaiknya dia mengakhiri hidupnya aja. Dia juga selalu nyalahin diri sendiri karena baru suka sama Lo setelah sadar kebaikan Lo ke dia itu tulus, sejak SMA dulu. Dan semuanya malah terlambat, Lo udah nikah sama orang lain. Padahal, Caca yakin banget kalau kalian udah mulai sedekat dulu lagi, karena dia tahu, nggak ada cewek lain yang Lo deket. Caca malah nggak tahu alasan Lo memutuskan untuk menikah sebenarnya itu apa. Setelah kalian bertengkar di sebuah pertemuan bisnis, sesaat setelah baikan Lo malah memutuskan untuk menikah. Caca jadi merasa Lo muak dan berusaha nggak terlibat sama Caca lagi, tapi sebenarnya bentuk muak Lo itu karena Lo cari pelampiasan doang buat nyembuhin sakit hati Lo. Tapi menikah itu hal yang serius, gue nggak nyangka banget kalau Lo jadiin pernikahan Lo sama istri Lo yang sekarang sebagai pelarian."
"Apa maksud kamu pelarian? Pertengkaran kami hanya bertepatan dengan pengumuman soal perjodohan itu! Saya menikah bukan karena ingin melarikan diri!" tegas Bayu menolak semua fakta yang dijabarkan Dirga.
"Dan karena kebetulan itu benar-benar pas, akhirnya Lo manfaatin itu, kan?" sarkas Dirga.
"Bay, gue tahu Lo beneran sayang banget sama Caca. Gue tahu, rasa peduli Lo ke Caca bukan karena kasihan doang, tapi rasa cinta yang tulus. Gue yang jadi saksi sendiri seberapa besarnya perasaan Lo buat Caca, bahkan sampai sekarang. Sampai Caca pun bisa milih gue buat bantu dia baikan sama Lo, atau sekedar tanya kabar Lo."
"Jadi, Bay, itu aja yang mau gue omongin. Gue nggak mau cari ribut. Lo juga nggak mau buang-buang waktu, kan? Sebaiknya, Lo selesain masalah kalian berdua baik-baik. Jangan bawa-bawa gue lagi, karena gue nggak mau sampai gue nggak bisa nikah sama orang yang gue bener-bener cinta. Dan itu karena terlibat masalah dua orang yang saling mencintai, tapi nggak bisa menikah."
Dirga keluar dari obrolan ini, ia segera masuk ke mobilnya dan meninggalkan Bayu begitu saja. Ia tahu Bayu tak ingin membuang-buang waktu, masih ada jam kerja untuk si penggila kerja.
__ADS_1
...----------------...