
Hari ini tepat sudah satu pekan setelah Ica menyetujui perjodohan itu. Ia masih bekerja seperti biasa, bahkan sekarang jobdesknya bertambah. Yaitu, menemani Bayu tiap akhir pekan untuk bertemu dengan Caca. Hari ini memang perdana dilakukan, tapi seterusnya ia memang memiliki tugas baru itu. Bayu bilang, akan sekalian mengenalkan Ica sebagai calon istrinya kepada Caca.
Ica sendiri bingung harus bagaimana. Ia memang setuju akan dikenalkan sebagai calon istri Bayu setelah perdebatan panjang tentunya. Namun, saat mengingat kembali bagaimana pertengkaran Bayu dan Caca waktu itu yang melibatkan Ica, ia jadi tak tenang. Apalagi, Caca menyinggung Ica tentang sifat Bayu waktu itu. Ica memikirkan kembali bagaimana obrolan mereka yang melibatkan langsung tentang dirinya.
"Siapa yang baik untuk kamu? Siapa wanita yang baik yang udah Allah tunjukkan ke kamu? Siapa? Apa wanita ini?" Amarah Caca yang waktu itu membuat Ica terkejut bukan main karena tiba-tiba diseret ke permasalahan mereka. Jika diucapkan seperti itu, Ica malah terlihat seperti perusak hubungan orang. Padahal, waktu itu ia tidak ada hubungan apapun dengan Bayu.
"Kalau memang iya, kenapa?" Setelah di respons Bayu seperti itu, Ica malah semakin terkejut lagi tak mengira Bayu akan berkata seperti itu.
Lalu, apa jadinya jika yang Bayu katakan sekarang benar-benar terjadi? Apalagi Bayu akan mengenalkan langsung kepada Caca. Bisa buruk citra Ica selama ini, lebih parahnya lagi ia akan dicap permanen sebagai perusak hubungan orang oleh Caca.
Ketika Ica mengingat sepenggal kalimat Bayu dan menghubungkannya dengan bagaimana berjalannya perjodohan ini, Ica merasa tak layak bangga akan menjadi bagian dari Bayu.
"Ternyata Allah udah nunjukin mana yang baik buat aku." Dari sepenggal kalimat yang diucap Bayu itulah yang sudah menyeret Ica dalam perdebatan mereka.
Apa benar Allah telah menunjuk Ica yang "baik" untuk Bayu? Sepertinya tidak begitu, karena Bayu hanya berucap seperti itu untuk menantang argumentasi Caca. Ica pikir, mana mungkin ada keseriusan saat Bayu mengucapkannya. Apalagi, jelas-jelas Ica dan Bayu di jodohkan, Ica bukan orang baik yang ditunjukkan oleh Allah untuk Bayu.
"Pak Bayu, apa Anda yakin akan memberitahukan Mbak Caca?" tanya Ica dalam perjalanan menuju ke tempat pertemuan dengan Caca.
"Kenapa harus ragu? Caca pasti bahagia kalau saya kasih tahu. Bahkan, dia juga bilang bakalan senang mau bantu-bantu persiapan pernikahan kita kalau saya meminta," jawab Bayu dengan penuh keyakinan. Namun, di telinga Ica jawaban itu malah terdengar meragukan.
...----------------...
"Sorry, Ca, nunggu lama, ya?" sapa Bayu.
Caca melihat Bayu keheranan. Bayu memang bilang akan mengenalkan calonnya Bayu. Tapi, ia tak melihat siapapun selain Ica. Yang Caca tahu, Ica hanyalah sekedar sekretaris Bayu, tidak lebih.
__ADS_1
"Kamu bawa sekretaris juga, Bay?" tanya Caca. Seketika langkah Ica beku. Jika dibilang seperti itu oleh Caca, apa jadinya kalau Bayi langsung terus terang kalau Ica memang sekretaris Bayu, tapi juga merangkap sebagai calon istri Bayu. Rasanya Ica ingin kabur saja sekarang.
"Umm..., pesen makan dulu, ya, Bay. Kamu sama Ica juga belum makan, kan?" lanjut Caca. Pertanyaan Caca belum sempat terjawab oleh Bayu.
"Karena sekretaris kamu di sini, mending kita bahas laporan bisnis kita dulu, Bay. Gimana? Soalnya, itu sih yang paling penting. Sekalian nunggu juga," ujar Caca. Ada kata bermakna ganda di sana. Menunggu makanan yang mereka pesan, dan satunya bermakna menunggu calon istri Bayu datang karena yang Caca pikir adalah kemungkinan besar calonnya Bayu akan menyusul.
Ketiganya melanjutkan untuk membahas bisnis lebih dulu. Sampai akhirnya pesanan mereka sampai.
"Ayo, makan," seru Caca. Kemudian, kegiatan membahas bisnis di jeda dulu.
"Ca, aku mau kenalin kamu sama calon aku. Udah aku bilang, kan, waktu itu?" ujar Bayu saat mereka sedang makan.
Di samping, Ica yang mendengar ujaran Bayu jadi merasa kaku. Rasa ingin kaburnya semakin besar. Ica jadi tak selera memakan makanannya. Ia memilih menyedot minumannya dahulu seraya menunduk menyembunyikan keberadaannya.
"Iya, aku tahu. Jadi, sampai kapan kita menunggu?" respons Caca. Mendengarnya membuat Ica hampir tersedak. Rupanya, Caca benar-benar menganggap Ica hanya sebatas sekretaris Bayu saja, tidak lebih.
"Nunggu apa lagi? Nunggu calon kamu, lah, Bayu!" seru Caca. Ini sih pembicaraan bakal kacau, pikir Ica.
"Menunggu apa, sih, Ca? Orangnya ada di sini, kok," balas Bayu sekali lagi menegaskan. Karena semakin dekat dengan faktanya, Ica semakin tak tenang, perutnya tiba-tiba mual.
"Ooh, udah di sini, ya? Dimana, Bay?" tanya Caca seraya celingukan melihat seisi ruangan.
"Di sini, sebelah kamu." Mendengar respons Bayu, ia memilih melihat sebelahnya dengan arah yang berlawanan dengan keberadaan Ica.
Melihat itu, Bayu gemas sendiri jadinya. "Bukan sebelah sana, tapi sebelah sini," ucapnya seraya menunjuk ke tempat Ica.
__ADS_1
"Serius, Bay? Aku nggak lihat siapapun selain Ica." Lagi-lagi Bayu dibuat makin gemas oleh Caca. Lalu yang ditunjuk, Ica malah ingin menangis di situasi seperti ini, berharap menghilang saja untuk sejenak.
"Iya, aku serius. Raisa lah orangnya," ucap Bayu agak kesal nada bicaranya.
"Hah?" ucap Caca terkejut sampai berdiri dan sedikit menggebrak mejanya karena tidak percaya fakta yang disebutkan Bayu. Ica juga ikut terkejut karena gebrakan meja itu membuat minumannya ikut tumpah, dan hal yang lebih parah lagi tentunya, Caca tak suka kalau orang yang menjadi calon istri Bayu adalah Ica.
"Ica bukannya sekretaris kamu?" tanya Caca memastikan. Wajahnya merah padam. Sebenernya fakta telah disebutkan, tapi ia masih ingin memastikan.
"Iya, bener. Dia juga calon aku," jawab Bayu santai.
Caca dan Bayu sama-sama melihat Ica sekarang. Sementara yang sedang dilihat tak dapat berkutik sedikitpun, badannya seketika beku.
"Omongan kamu waktu itu serius, Bay? Jadi, Ica orangnya? Ica orang yang udah Allah tunjukin ke kamu?" ucap Caca dengan volume kuat seraya menunjuk-nunjuk Ica. Bayu yang tak mengerti kemarahan Caca malah mengangguk menanggapi, membuat suasana hati Caca semakin buruk.
Caca memandang rendah Ica. Ingin sekali rasanya ia menumpahkan minuman miliknya ke Ica. Namun, itu akan membuat Bayu membencinya. Menyadari pandangan yang merendahkan dari Caca, Ica sudah siap mengeluarkan air matanya. Posisi wajahnya makin menunduk untuk menutupinya.
Melihat reaksi Ica seperti itu, membuat Caca sinis memandangi. Caca tersenyum menyeringai dan memutar bola matanya tanda tak suka. Setelahnya, ia membereskan berkas yang ia bawa itu ke tasnya kembali, kemudian bersiap untuk pergi.
"Ca, kamu mau ke mana, Ca? Caca!" cegah Bayu saat Caca sudah benar-benar rapi untuk pergi.
"Sorry, Bay, aku baru inget kalau hari ini ada kelas yoga. Aku balik duluan, ya." Caca beralasan sambil menunjukkan ponselnya. Lalu, ia pergi begitu saja.
"Sejak kapan kamu yoga, Ca? Ca, kita belum selesai ngomong," ucap Bayu agak berteriak saat Caca sudah melangkahkan kakinya.
Bayu bingung dengan kepergian Caca. Ia mengusap gusar kepalanya. Lalu, ia melihat kondisi Ica setelahnya.
__ADS_1
"Raisa, kamu menangis?"
...----------------...