
Tibalah waktu yang akan menentukan masa depan Ica. Semua orang telah duduk di meja makan, bersiap mengambil porsinya masing-masing. Ica, lagi-lagi ia hanya mencengangkan sedikit nasi karena tak selera makan.
Semua orang tampak bahagia berbasa-basi sebelum membahas masalah utama. Sedangkan Ica, ia bisu seribu bahasa dan sibuk berkomunikasinya dengan dirinya yang lain di pikirannya tentang bagaimana cara menolak perjodohan ini tanpa menyakitkan hati siapapun.
Bayu terlihat diam-diam memandangi Ica. Ia sangat ingin Ica berubah keyakinannya setelah diskusi waktu itu. Ia berharap, Ica mau menikah dengannya. Bayu juga manusia yang bisa berubah jika ia mau. Jika ia harus menjadi imam yang baik dan memperlakukan istrinya dengan baik, maka akan ia lakukan demi pernikahannya, ibadahnya. Sayang, ia tidak mau mengungkapkan tentang hal itu pada Ica karena terlalu malu mengatakannya.
"Ica, katanya kamu sempat sakit, ya? Maaf banget karena kita nggak bisa jenguk." Winda tiba-tiba saja mengajak ngobrol Ica. Padahal, Ica sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Respons Ica lambat, ia kikuk duluan menanggapi omongan Winda. Kemudian, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Aaa..., iya, Tante. Tapi, Alhamdulillah nggak sampai satu hari, sakitnya langsung sembuh. Itu berkat Bundanya Ica yang ngerawat Ica tulus dan penuh kasih sayang. Kalau nggak ada Bunda, mungkin sakitnya bisa sampai seminggu. Tapi, itu sakit biasa, kok, kalau Ica banyak pikiran," jawab Ica memperlihatkan kesehatannya. Manda tersenyum bahagia saat ia di puji anaknya di depan banyak orang.
"Kamu banyak pikiran kenapa, Ca? Apa Bayu ngasih kerjaan terlalu banyak sama kamu?" Rupanya Winda terganggu dengan bagian akhir jawaban Ica.
"Bukan, kok, Tante. Kalau itu mah udah biasa. Pak Bayu suka ngasih banyak kerjaan, tapi Ica nggak pernah sakit kalau soal itu," jawab Ica malah jujur. Karena tidak enak dengan ucapannya, ia melirik sedikit ke Bayu. Rupanya, Bayu agak tersinggung dengan ucapan Ica. Terlihat Bayu langsung berdehem dan menatap Ica tajam setelahnya.
"Jadi, kenapa? Apa karena kamu terbebani dengan perjodohan ini? Apa kamu sakit karena terlalu banyak memikirkan perjodohan ini?" Tebakan yang tepat sasaran. Ica dibuat tidak bisa menjawab. Ia bingung ingin menjawab bagaimana, takut ucapannya membuat orang-orang kecewa.
Bayu tampak peka terhadap suasana. Karena melihat Ica terdiam, Bayu mengambil alih posisi Ica untuk menjawab.
"Ma..., Wajar kalau Raisa memikirkannya. Soalnya, ini menyangkut masa depannya. Setiap orang ingin mempunyai pernikahan hanya satu kali seumur hidup, begitu pula yang gadis seperti Raisa inginkan. Jadi, ia harus memikirkan banyak hal jika pernikahan ini benar-benar terjadi nantinya. Apalagi, pernikahan ini dilakukan karena perjodohan, nggak ada cinta di dalamnya. Raisa harus berpikir baik-baik untuk menerima perjodohan ini. Harus banyak berpikir, apa yang bisa ia dapatkan di pernikahan ini jika ikatan pernikahan suci ini nantinya dilakukan atas dasar perjodohan dan keterpaksaan, bukan karena cinta," ujar Bayu lembut nan menenangkan. Ica juga tersentuh saat Bayu bersedia menjawab menggantikannya.
"Tapi, Bayu nggak bilang memikirkan banyak hal tadi sampai sakit itu hal yang wajar. Mungkin, Raisa sendiri punya kebiasaan suka sakit kalau lagi banyak pikiran, kita nggak tahu," ucap Bayu mengakhiri seraya menatap bergantian semua orang yang ada di sana.
"Kamu benar, Bayu. Ica memang suka sakit kalau banyak pikiran. Udah dari dulu mah kayak gitu. Jadi, semuanya santai aja. Ica ini anak yang kuat, kok, walupun manja," sang bunda ikut membantu putrinya.
__ADS_1
Semua orang kemudian menyantap kembali makanannya. Sedikit lebih fokus untuk menghabiskannya lebih dulu.
Sementara itu, Ica seperti melihat sosok Bayu yang seperti malaikat. Ia sedikit ragu dengan keyakinan terakhirnya. Untuk itu, ia ingin diskusi sekali lagi dengan Bayu sebelum memberikan jawaban terakhirnya tentang perjodohan ini.
"Pak, ada yang mau saya omongin. Saya tunggu di taman depan rumah, ya," ketik Ica pada BayuBayu via chat.
"Maaf, Om, tante, kayaknya Ica harus ke toilet dulu, deh." Ica berdalih, padahal ingin berdiskusi dengan Bayu di luar.
Dert dert. Getar ponsel Bayu membuat Winda yang duduk disebelahnya menaruh perhatian.
"Bayu, kamu dapat chat dari Ica tuh," ucap Winda. Bayu segera membuka chat tersebut dan membacanya.
"Aa, iya. Maaf, semuanya, saya juga izin ke depan sebentar, ya," ucap Bayu malah keceplosan menyebutkan tujuannya. Ia tidak menyadari bahwa semua orang di meja makan sudah senyum-senyum melihat tingkah Bayu.
"Sudah, biarkan mereka berdiskusi. Toh, yang akan menjalani nantinya juga mereka. Biarlah mereka bicara di luar," ucap Andi menimpali.
"Semoga hasil diskusinya memuaskan," Winda ikut berkomentar.
Saat sampai di taman depan rumah, terlihat Ica sudah menunggu dengan duduk di ayunan. Menatap langit malam yang berawan, seperti hatinya yang juga berkabut.
"Ada apa, Raisa?" tanya Bayu menyapa.
"Terimakasih banyak, Pak. Saya mengakui kebaikan Anda. Saat tadi Anda bicara seperti itu, Anda benar-benar menyelamatkan saya," ujar Ica.
"Iya, bukan masalah."
__ADS_1
"Anda yakin pernikahan ini akan berhasil? Entah kenapa, saya tergoyahkan oleh pendapat Anda tentang perjodohan ini. Saya juga cukup siap dalam segala hal untuk menyegerakan pernikahan. Namun, saya ragu saat menikah dengan Anda tidak menemukan kebahagiaan," ucap Ica penuh kejujuran. Hal yang ia tidak dapat sebutkan saat diskusi terakhir dengan Bayu waktu itu, akhirnya tersebutkan.
"Kamu melihat saya bagaimana? Apa saya bos yang buruk di mata kamu? Apa sifat perfeksionis saya juga buruk? Apa saya yang gila kerja buruk? Apa kamu tahu, saya memang suka marah, tapi sebentar saja. Kebanyakan marah hanya dalam ranah pekerjaan, bukan privasi. Mungkin ada perdebatan kecil di antara kita di luar pekerjaan, saya memarahi kamu karena kamu terlihat sama tidak mau kalahnya seperti saya. Apa karena semua sifat ini yang membuat kamu ragu? Kamu bisa saja merubahnya, tidak, saya juga bisa berubah jika kamu mau," jawab Bayu tanpa ragu.
Ayunan yang Ica goyangkan diberhentikannya setelah mendengar jawaban Bayu. Ia bingung dengan ucapan tulus itu, yang terdengar terlalu manis di telinga Ica. Lalu, ia tidak membawanya serius karena memang pekerjaan Bayu membuatnya pandai merangkai kata-kata manis. Dan Ica menganggap, Bayu hanya memanfaatkan kemampuan bicaranya itu untuk membuat Ica setuju dengan 'kerjasama bisnis' ini.
"Haha, Anda bicara seperti itu seolah ada cinta di hati Anda untuk saya. Jika Anda bicara seperti itu, saya mungkin akan jatuh hati pada Anda. Tapi, saat mengingat kembali seberapa galaknya Anda, dipikir-pikir lagi nggak jadi, deh," ucap Ica yang sudah bangkit dari ayunan tempat ia duduk. Kemudian, ia berjalan untuk masuk kembali.
"Ayo, masuk lagi. Saya udah punya jawaban yang mantap setelah diskusi dengan Anda," seru Ica seraya membelakangi Bayu. Ia bingung kenapa Bayu tidak ikut bergerak untuk masuk kembali bersamanya.
"Masuklah duluan, mereka akan curiga kalau kita masuk bersamaan," balas Bayu. Ternyata itu alasannya, pikir Ica.
"Mereka udah tahu, jadi kenapa harus takut mereka curiga?" tanya Ica yang ternyata tahu soal orang-orang di meja makan yang pastinya sudah mengetahui diskusi yang akan dilakukannya dengan Bayu.
Karena memikirkan ucapan Ica benar, Bayu setuju untuk ikut kembali bersamaan dengan Ica. Namun, Bayu sedikit mendahului di depan.
Keduanya masuk bersamaan. Terlihat semua orang menunggu mereka dengan senyuman yang terlukis ketika melihat mereka sampai di meja makan bersamaan.
"Kayaknya udah saatnya kamu ngasih jawaban, deh, Ca. Semua orang udah nggak sabar menunggu, tahu," ujar Manda setibanya Ica di kursinya kembali.
Ica mengangguk menanggapi sang bunda. Lalu, ia menarik nafasnya cukup panjang dan menghembuskannya. Meminta kepada Allah agar lidahnya dilancarkan dan ucapannya tak membuat kecewa siapapun.
"Bismillahirrahmanirrahim. In syaa Allah Ica juga menerima perjodohan ini tanpa keterpaksaan."
...----------------...
__ADS_1