
Bayu sudah berangkat kembali ke kantor. Ia bisa melakukan itu karena Bi Ana mengabarkan akan pulang dari kampung hari ini, tepat setelah satu minggu ia pulang kampung. Ica juga sudah lebih baik, hanya tersisa pening di kepala dan juga rasa pahit di mulutnya saat menyantap makanan. Bayu sudah mengorbankan Hari Senin—semalam, yang harusnya ia hadir untuk menghadiri berbagai rapat penting di kantor. Untung esoknya—hari ini yang bertepatan dengan Hari Selasa, ada kabar baik tentang kesehatan Ica.
Di kantor, orang-orang penasaran tentang Bayu yang hari ini tidak bersama Ica lagi. Mereka bertanya-tanya keberadaan Ica. Bertanya pula, tentang harusnya Bayu tak membiarkan semua bawahannya meskipun itu istrinya sendiri untuk bolos kerja. Mereka mengira Bayu sudah mulai melunak semenjak menikah dengan Ica. Ada dari mereka yang suka dan tidak suka tentang perubahan Bayu. Mereka suka karena Bayu tidak terlalu galak hari ini setelah lama tidak mengawasi divisi humas langsung, dan tidak suka karena mereka iri dengan Ica yang serba enak dari bawahan lain dan merasa Bayu mulai pilih kasih karena menikahi Ica yang sekaligus merupakan putri semata wayang pemilik perusahaan.
"Pak Bayu, maaf sebelumnya kalau saya nggak sopan. Namun, saya sangat penasaran. Apa Ica nggak masuk juga besok? Sepertinya, Ica dan Pak Bayu nggak sama-sama hari ini. Saya cuma mau tahu kabar Ica aja, Pak. Soalnya Ica sama sekali nggak ada balas waktu saya hubungi." Lala, kolega yang paling dekat dengan Ica memberangkatkan diri bertanya. Padahal ia tahu kalau Bayu sedang sibuk sekarang. Ia pikir, mimpi main ke ruangannya Bayu, sekalian saja ia menanyakan soal Ica.
Mendengar ucapan Lala, aktivitas Bayi yang tengah membaca dokumen ia hentikan. Dengan kasar pula ia menutup dokumen itu dan kemudian memutar kursinya beberapa derajat agar sejajar dengan Lala.
Lala merasa dirinya terancam. Bayu yang dengan kasar menutup dokumennya membuat Lala gemetar. Sepertinya, ini kode untuk Lala agar tidak menanyakan apapun meskipun soal istrinya di saat jam sibuk seperti ini.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Saya mengerti saya sudah mengganggu Bapak. Lupakan saja ucapan saya tadi. Saya permisi dulu. Selamat bekerja kembali, Pak Bayu," ciut Lala dan kabur.
Untung Lala bisa tahu kode dari Bayu. Karena memang sebenarnya Bayu sangat sibuk. Sudah satu pekan ia tidak masuk kantor, pekerjaannya banyak yang menumpuk di meja. Ia yang sebelum datang Ica sebagai sekretarisnya dapat mengatasi ini tanpa mengeluh. Kini, dengan adanya Lala yang menyinggung soal Ica, mengingatkan Bayu betapa butuhnya Bayu terhadap kehadiran Ica. Ia memang bisa mengerjakan semuanya sendiri, tapi ada Ica teramat sangat membantunya. Meskipun Ica hanya melakukan pekerjaan ringan, tapi dengan kehadirannya saja telah membuat Bayu merasa tak harus mengeluh mengerjakan pekerjaan segunung ini, karena ia ditemani istrinya yang selalu di sampingnya dan selalu ada jika Bayu membutuhkan bantuan, sebagai sekretaris tentunya. Bayu jadi menyadari, sekarang ia yang dulu telah tiada. Sikap yang selalu mengandalkan diri sendiri itu kini pudar. Jelas saat ini ia sangat membutuhkan Ica. Karena akhir-akhir ini, ia percaya dan bergantung pada Ica soal pekerjaan. Hampir saja Bayu menggertak meja karena Lala mengingatkannya betapa tak berdayanya Bayu tanpa Ica. Betapa tak bisa diandalkannya dirinya karena semenjak Ica menjadi sekretarisnya, ia terlalu bergantung pada Ica.
"Apa salahnya kalau Ica nggak datang ke kantor hari ini? Kalau nggak bisa dihubungi tinggal hubungi aja terus sampai dibalas. Susah amat!" omel Bayu yang sedang frustasi. Harusnya ia mengatakan itu saat ia menyejajarkan pandangannya dengan Lala tadi. Bayu memang sangat sensitif. Padahal ia bisa saja tak ambil pusing dan berpikir banyak hal soal pertanyaan Lala. Tinggal jawab saja pertanyaan yang dilontarkan, kemudian selesai.
...----------------...
"Mas Bayu belum pulang, ya? Kasian banget, pasti kerjaannya numpuk. Kalau dilihat dari sifatnya yang perfeksionis, pasti dia nggak bisa pulang kalau nggak nyelesain pekerjaannya dulu. Padahal adzan isya juga udah lewat," batin Ica khawatir akan kepulangan Bayu.
__ADS_1
"Mas, jangan lupa pulang. Kalau masih banyak pekerjaannya, sisanya bawa pulang aja. Aku nggak bisa di kamar sendiri meskipun Bi Ana udah pulang. Aku maunya kamu," tulis Ica di chat untuk Bayu. Ia tak menyadari, sekarang dirinya sudah dengan bebas bermanja dengan Bayu bahkan melalui chat, serasa seperti bermanja pada ayah dan bundanya. Ia mungkin agak lupa kalau Bayu kurang suka dengan sikap manjanya.
Lima belas menit kemudian, Bayu sama sekali tak membaca pesan chat dari Ica. Ia memutuskan untuk menulis lagi.
"Jangan over work ya, Mas. Nanti kamu sakit. Kalau kamu kelelahan juga, kamu juga bakal sakit karena Ica masih sakit. Ica nggak mau kamu sakit juga, Mas. Demi kesembuhan Ica. Mas udah bilang mau bantu Ica supaya cepat sembuh, kan? Kalau gitu, obat Ica sekarang itu Mas Bayu. Ica mau lihat Mas Bayu di samping Ica. Jangan kebanyakan kerja, Mas. Ica kangen," tulis Ica lagi. Kemudian dengan sengaja ia menelepon Bayu sampai terangkat, kemudian langsung mematikannya begitu diangkat oleh Bayu. Ia harap, dengan begitu pesannya akan terbaca. Ica sudah mengerahkan semua keberaniannya untuk menulis sesuatu yang sangat manja seperti itu pada orang galak seperti Bayu, ia tak ingin usahanya sia-sia.
"Saya masih kerja. Ada Bi Ana, kan? Jangan manja, kamu masih bisa minta temenin Bi Ana dulu. Kemungkinan Saya pulang jam sebelas, jadi jangan tunggu saya," balas Bayu.
Ica membaca balasan itu. Karena itu tertulis, nada bicaranya tak diketahui harus dibaca seperti apa. Tapi, karena itu Ica yang membaca, Ica menyimpulkan bahwa Bayu sangat kesal karena Ica telah mengganggu Bayu di saat sibuk-sibuknya. Bayu juga ingin mengatakan kalau Ica sudah mulai sembuh, kenapa harus mengungkit soal sakit, manja sekali. Dari balasan singkat Bayu, begitu banyak hal tersirat, dan itu membuat Ica tertampar betapa tak tahu diri dirinya ini.
__ADS_1
"Wajar, Ca. Wajar kalau Mas Bayu balas secuek itu! Seminggu ini dia udah maksimalin kerja dari rumah buat urus kamu yang sakit, Ca. Harusnya kamu ngerti, karena meskipun udah kerja dari rumah, kerjaan itu nggak bisa semuanya dikerjain. Dan setelah seminggu masuk kantor lagi, kamu yang paling tahu kalau pasti ada banyak berkas yang tertumpuk di atas meja kantor Mas Bayu. Harusnya kamu yang paling tahu karena kamu sekretarisnya. Sadar diri, Ca! Biarkan Mas Bayu melakukan hal yang ingin ia lakukan. Perhatian yang ia berikan selama seminggu ini udah cukup banget, jangan minta lebih, jangan jadi cewek manja!" Ica merutuki dirinya sendiri agar sadar diri. Sebenarnya ia juga merasa tersakiti mendapat balasan dingin itu dari Bayu, tapi ia hanya tak ingin mengakui bahwa dirinya terluka oleh hal itu yang menurutnya wajar ia dapatkan.
...----------------...