
Ica benar-benar meningkatkan performa kinerjanya di kedua profesinya, istri dan sekretaris. Sampai ia merasa, level tertinggi produktivitasnya tercapai, hanya karena telah mendapat kritikan Bayu.
Ica juga terpengaruh dengan sikap Bayu, sehingga ada niatan balas dendam dengan menunjukkan performa kinerja yang meningkat.
Sebulan kemudian, sudah tiga bulan lebih mereka menikah. Saat Ica ditinggal dinas lagi oleh Bayu, ia lupa makan seharian karena Bayu meminta Ica membantu pekerjaannya dari jarak jauh untuk keperluan dinas. Bayu juga jengkel tak dapat menangani ini sendiri seperti biasanya, karena semua berkas ada di ruangan Bayu, tidak ada satupun di ponselnya, tidak ada berkas yang berbentuk soft file. Semua salah bawahannya Bayu yang ditugaskan mengurus keperluan berkasnya, ia langsung menghapus soft filenya karena berpikir sudah aman dengan kopian hard file bentuk fisik. Pulang dinas nanti, Bayu akan menyiapkan slot untuk mendisiplinkan si pelaku kekacauan ini lebih lama dari karyawan lain. Bayu pastikan itu.
"Kira-kira, Raisa udah makan atau belum, ya? Tiga hari ini dia lebih sibuk dari biasanya karena kesalahan orang lain. Sifatnya yang tak memikirkan masalah makan itu penting, membuat khawatir." Diam-diam Bayu mengkhawatirkan Ica. Ingin memberikan perhatian dengan menanyakan langsung pola makan Ica, ia tak berani. Toh esok ia akan pulang juga dan melihat langsung keadaan Ica, pikirnya.
...----------------...
Tiga hari dinas ke luar kota. Hari ini Bayu sudah selesai dan kembali ke rumah. Ia tak membelikan Ica oleh-oleh karena Ica tak memintanya langsung saat Ica mengantarkan Bayu ke bandara. Ia sebenarnya ingin membelikan, tapi ia tak mau Ica berpikir macam-macam soal perhatian khusus Bayu, atau ketahuan jika diam-diam Bayu ingin membuat Ica senang. Gengsinya sangat tinggi.
Sampai rumah, setelah mengucap salam berkali-kali, hanya Bi Ana yang menjawab salam Bayu. Berkali-kali ia mengucapkan salam dengan menaikkan suara satu oktaf, tapi Ica tak kunjung menyambutnya. Bayu berharap banyak karena sempat di sambut Ica dengan berdandan cantik hanya untuk dirinya. Bagaimana bisa ia berharap seperti itu, sementara jaraknya dan Ica kian melebar.
"Raisa kok nggak keluar, ya? Bi Ana lihat Ica, nggak?" tanya Bayu pada Bi Ana yang sedang membereskan meja makan sebelum tidur.
__ADS_1
"Itu, makanannya kenapa kayak nggak tersentuh, Bi? Bi Ana nggak makan?" tanya Bayu cepat saat melihat Bi Ana yang membereskan meja makan, tepatnya memasuki makanan itu ke kulkas.
"Jatah Bibi ada di dapur, udah makan, kok. Kalau Non Ica, dari tadi pagi di ruangan kerja terus. Bibi juga udah ingatin untuk makan, katanya nanti-nanti terus," jawab Bi Ana.
Bayu langsung sadar makanan yang nampak tak tersentuh itu karena Ica belum ada makan sama sekali. Ia langsung mencari Ica di ruang kerjanya, seperti yang dikatakan oleh Bi Ana.
Bayu begitu terkejut saat melihat Ica ada di sana. Tertidur pulas dengan dress indah dan riasan di wajahnya. Bayu menyimpulkan, Ica pasti ingin menyambut Bayu langsung, tapi karena kelelahan, Ica tertidur di meja kerja Bayu dengan laptop yang masih menyala di depannya.
"Raisa..., bangun. Pindah ke kamar kalau ingin tidur. Nanti kamu sakit kalau tidur di sini, di posisi ini," ucap Bayu lembut. Melihat Ica sangat profesional di kedua profesinya membuat Bayu tersentuh. Ia merasa jarak antara mereka mulai berkurang.
Perasaan Bayu sangat khawatir. Saat ia memegang tubuh Ica, tubuhnya begitu panas. Ia buru-buru menggendong Ica bak princess menuju ke kamar mereka di lantai atas. Ia berteriak memanggil Bi Ana untuk ikut bersamanya, sebab Bayu sama sekali tak tahu harus bertindak seperti apa kepada orang sakit. Ia bisa salah merawatnya Ica saking paniknya, makanya memanggil Bi Ana adalah pilihan yang tepat.
Bi Ana segera mengambil tindakan dengan mengompres Ica secara tradisional. Sementara Bayu, ia mencari kotak obat untuk memberikannya pada Ica, paracetamol pikirnya tepat untuk penyakit Ica.
"Tolong gantikan bajunya, Bi. Hapus juga riasan di wajahnya. Saya akan keluar sebentar untuk membeli makanan kesukaan Ica agar ia bisa makan dan dapat minum obat." Bayu berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Ica.
__ADS_1
Harusnya, di saat seperti ini yang Bayu lakukan adalah memanggil dokter. Tapi ia tak berpikir sampai ke sana. Ia juga pernah demam sebelumnya saat tinggal di kosan sendirian semasa kuliah di luar kota, tanpa obat-obatan pun demamnya akan sembuh, apalagi tanpa dokter. Yang menyembuhkannya waktu itu adalah makanan kesukaannya, sehingga dapat menambah semangat untuk sembuh. Bayu harap itu juga bisa membantu Ica sembuh lebih cepat.
Sate padang. Bayu berpikir itulah makanan kesukaan Ica. Waktu pertama kali bertemu Ica, mereka bertemu di tempat penjual sate padang. Memesannya saat malam-makam sekali waktu itu, dapat Bayu simpulkan karena Ica tiba-tiba ingin sate padang dan membelinya. Kebetulan, kesukaan mereka sama, bedanya karena Bayu punya mag, ia lebih suka sate kacang yang dijual di penjual sate padang juga.
"Sate padang mungkin terlalu pedas, tapi sate kacang mungkin terlalu manis. Bagaimana ini? Belikan dua-duanya kalau gitu." Di saat seperti ini pun, jiwa perfeksionisnya muncul. Ia takut tak memberikan usaha yang tepat untuk Ica.
Setelah kembali ke rumah dengan membawa dua bungkus sate beda varian, Bayu segera mengambil alat makan dan berlari untuk masuk ke kamar. Bi Ana sudah meninggalkan Ica karena tugasnya mengompres selesai, Ica juga dibiarkan istirahat, saat di bawah Bayu diberitahu soal itu dulu. Tapi, Bi Ana tak memberitahu Bayu kalau Ica akan diganti bajunya dengan piyama tidur dan tanpa hijab. Mungkin Bi Ana merasa wajar melakukan itu karena Bayu dan Ica pasutri, terlebih akan risih menggunakan hijab saat sedang sakit. Bayu memaklumi itu. Lagian, itu telah halal dipandang, Bayu menerima dan memandang Ica ragu-ragu saat dalam posisi itu.
"Raisa, kamu makan dulu sebelum minum obat. Mau sate padang atau sate kacang?" ujar Bayu lembut. Suara selembut itu sensitif ternyata untuk Ica yang sakit. Ia langsung bangun dan melihat Bayu sudah ada di sampingnya duduk membungkuk menyejajarkan posisinya dengan Ica.
"Sate padang. Tapi Ica mau disuapin, Bun," jawab Ica. Ia selalu tahu bundanya akan membawakan makanan kesukaannya, makanya ia teringat oleh bunda.
"Maaf, Mas. Ica nggak bisa sambut kamu abis pulang dinas tadi. Maaf juga karena mengira kamu itu bunda," ucap Ica lirih, tapi masih terdengar. Ia langsung sadar kalau di sampingnya adalah Bayu sesaat setelah ucapan salah sangkanya itu. Sebab, yang ia tahu, Bunda selalu mengusap lembut rambut Ica saat sakit seperti ini, yang membuat Ica merasa nyaman dan tenang. Namun, itu tak dilakukan oleh Bayu.
"Iya, nggak papa. Saya juga nggak keberatan menyuapi kamu. Anggap aja kalau saya juga bunda kamu kalau kamu merasa lebih nyaman dengan itu," jawab Bayu. Agak kecewa karena Bayu kalah dengan sosok bundanya Ica di saat seperti ini. Padahal panggilan Raisa hanya Bayu yang menggunakannya, harusnya Ica tahu dan mengenalinya. Namun, segera ia tepis itu karena saat ini ia hanya harus merawat Ica sampai sembuh.
__ADS_1
...----------------...