
Akhirnya dinas pun selesai. Kali ini Ica benar-benar sangat berguna karena dinas mereka berkenaan langsung dengan persawahan yang dimana Ica yang merupakan lulusan pertanian itu sangat tepat bidangnya.
Mereka sampai rumah dengan keadaan lega. Keduanya membaringkan badan di ranjang dan menatap langit-langit kamar.
"Jadi, kita udah baikan, kan, Raisa? Aa..., bukan, maksud saya, Ca. Kita udah baikan, kan, Ca?" tanya Bayu seraya menatap langit-langit kamar. Ia bisa segagok itu perihal panggilan untuk Ica, karena takut salah panggilan.
Ica tersenyum tipis. Setelah apa yang sudah terjadi, kenapa Bayu masih saja bertanya soal itu?
"Ha? Baikan? Emangnya kita berantem?" jawab Ica seolah sarkas.
"Iya, kita memang bertengkar, kan, Ca? Dan saya penyebabnya. Tapi maksud saya tadi, kamu udah nggak marah lagi, kan, sama saya? Karena saya udah bikin kegaduhan dengan kejujuran yang terlambat waktu itu saya ungkapkan. Saya minta maaf soal itu. Atau kamu mau denger penjelasan saya lagi, biar semuanya semakin jelas, Ca? Kamu baru denger ceritanya dari Caca, kan? Dari saya belum." Bayu membawa-bawa Caca. Ica yang tadinya berbaring, kini bangkit dan menyandarkan diri di kepala kasurnya.
"Mas Bayu tahu kalau Ica abis ketemuan sama Mbak Caca?" tanya Ica dengan raut wajah panik. Ia takut hubungannya dan Bayu malah berantakan lagi karena Ica diam-diam sudah bertemu dengan Caca dan meminta Caca menjelaskan soal masa lalu mereka daripada mempersilahkan Bayu untuk bercerita lebih dulu soal itu.
"Itu semua sudah terbaca sejak kamu tiba-tiba takut saat saya pergi, padahal itu hanya ke kantor dan tak lama-lama di sana. Kamu yang histeris juga sudah menjelaskan semuanya. Maaf soal itu, soal kamu yang harus mendengarkannya dari Caca dan kesarkasannya. Tapi saya benar-benar sudah memutuskan hubungan dengan Caca. Kali ini benar-benar udah nggak ada apa-apa lagi. Kalau ketemu pun, saya meminta dia untuk menganggap saya sebagai kenalan biasa, nggak lebih."
"Iya, Ica tahu, kok, Mas. Mbak Caca juga udah cerita soal Mas Bayu yang memutuskan hubungan sepenuhnya. Tapi udah, Ica nggak mau bahas Caca Caca lagi. Ini rumah tangga kita, cuma ada kita, bukan orang lain. Ica udah nggak peduli soal masa lalu Mas Bayu. Walaupun Ica nanti dibilang nggak tahu diri ataupun serakah sekalipun karena merebut Mas Bayu dari dia, Ica udah nggak peduli," tegas Ica.
"Nah, kita sekarang udah baikan, jadi jangan ada lagi Caca diantara kita. Ica juga udah lupa tentang rasa sakit yang pernah Mas kasih, karena semuanya udah terobati dengan ketulusan cinta Mas Bayu saat dinas kita tadi. Ica udah lihat semuanya, tentang gimana cara Mas Bayu nunjukin kasih sayang, itu udah lebih dari cukup, kok. Dan Ica juga mungkin lebih inget tentang gimana cara Mas Bayu tulus ke Ica, ketimbang gimana cara Mas Bayu nyakitin Ica. Tapi Ica juga minta tolong ke Mas Bayu, jangan buat Ica lupa soal ketulusan kamu dan balik nyakitin hati Ica lagi. Jangan coba-coba ingetin Ica tentang goresan luka yang pernah Mas Bayu buat dulu. Karena kalau itu terjadi, mungkin ceritanya bakal berbeda. Ica juga manusia yang egois, kesempatan cuma dua kali, nggak lebih," imbuh Ica.
"Mas..., itu tadi mungkin terdengar seperti sebuah ancaman. Tapi Ica cuma nggak mau kehilangan aja. Ica dibesarkan dengan segala nya serba ada. Apa yang Ica inginkan selalu Ica dapatkan. Ica nggak mau kehilangan Mas Bayu yang sekarang sangat Ica inginkan. Maaf kalau ini kedengaran egois. Ica juga serakah karena udah merebut milik orang lain, tapi Ica nggak merasa menyesal lagi sekarang. Karena ikatan Ica sama Mas Bayu berbeda, nggak ada lagi yang namanya serakah kalau mau merebut cintanya Mas Bayu."
"Sekarang, kasih tahu Ica, Mas."
"Kasih tahu apa? Maaf kalau saya pasif saat kamu bercerita tadi. Tapi saya benar-benar menyimak, kok. Saya cuma nggak bisa asal menanggapi, karena kamu lagi serius."
Ica malah tertawa sambil menyembur dengan tanggapan Bayu yang tiba-tiba kikuk. Bayu yang awalnya berbaring itu dan tiba-tiba bangkit pun juga menjadi penyebab tertawanya Ica.
"Hahahaha, Mas Bayu lawak banget. Iya, Ica memang ngomong serius tadi. Tapi Ica nggak minta tanggapan Mas Bayu, kok. Cukup didengerin aja udah lebih dari cukup. Harusnya Mas Bayu jangan panjang-panjang nanggapin kalau nggak tahu maksud Ica, biar Ica jelasin. Mas Bayu yang kikuk jadinya lucu banget, tahu."
"Yaudah, cukup, deh ketawanya. Sekarang, kasih tahu Ica, Mas. Kasih tahu gimana perasaan Mas Bayu dengan magic word selain yang Ica ajarin waktu itu. Mas Bayu pernah bilang, kan, kalau Mas Bayu punya perasaan ke Ica, tapi Mas Bayu nggak tahu perasaan apa itu. Tapi, Ica duga, sih, Mas Bayu cuma gengsi aja nyebut nama perasaan itu, nggak mau mengakuinya. Sama kayak kisah antara Mas dan dia, Mas Bayu nggak secara terang-terangan ngungkapin perasaan Mas. Jadi, Ica pengen jadi pemenangnya. Ica pengen Ica yang bisa denger another magic word itu dari mulut kamu, dengan tulus."
__ADS_1
"Magic word?" Bayu kini kebingungan.
"Yup, But it's another magic word. Kata magis yang lain."
Bayu menarik nafas panjang dan memikirkan dulu kata-kata apa yang akan ia ucapkan agar tak salah bicara.
"I'm sorry, saya terlalu banyak nyakitin kamu. Dan saya juga akan berusaha buat nggak nyakitin kamu lagi," Bayu melakukan percobaan yang sama. Namun, kelihatannya percobaan itu gagal, karena Ica memberikan Bayu gelengan kepala.
"Maaf di terima, Ica juga udah ikhlas maafin kamu, kok, Mas. Tapi, bukan magic word yang itu."
Lagi, Bayu menarik nafasnya panjang dan memikirkan baik-baik dulu sebelum ia mengeluarkan suaranya. Jika terjadi percobaan selanjutnya, Bayu akan secara rutin melakukan ini, demi tak merusak momen baikan mereka.
"Makasih udah mau maafin saya. Saya sangat senang kamu mau beri kesempatan kedua. Saya juga senang saat kamu mengungkapkan kalau kamu nggak mau saya pergi, nggak mau kehilangan saya. Makasih banyak karena telah mengeluarkan kata-kata itu dengan jujur," percobaan kedua. Tidak ada gelengan kepala, tapi tampaknya Ica kurang puas dengan itu.
"Um..., terima kasih kembali. But..., jawaban yang pengen Ica denger tadi hampir bener. Tapi bukan itu, Mas. Jangan coba lagi dengan kata please, ya, karena itu jelas jauh dari yang Ica pengen denger. Ica pernah dengar 'Are You okay?' dari mulut Mas kemaren. Another magic word yang kayak gitu yang pengen Ica denger. Tapi bukan persis yang begitu. Intinya, yang nunjukin perasaan Mas ke Ica. Dan hubungkan coba, ke yang Ica bilang tadi, soal Ica yang pengen jadi pemenangnya karena Mas Bayu cuma ngucapin another magic word ini ke Ica, bukan ke dia."
"Yang berhubungan dengan perasaan saya ke kamu?"
"Tapi kamu udah tahu soal itu, kan? Apa buktinya belum cukup untuk membuktikan perasaan saya ke kamu? Bukannya di sawah waktu itu saya sudah menunjukkannya?"
"Mas Bayu curang. Kemarin Ica jelas-jelas bilang 'I love you' ke Mas Bayu. Tapi nggak di bales. Ica nggak puas kalau Mas Bayu balesnya dengan cara cuma nunjukin doang. Ica mau denger dengan jelas. Kasih tahu Ica, Mas! Tell me that you love me! That's another magic word that i mean."
Bayu mengamgil jeda, menurunkan ego dan gengsinya.
"Raisa Humaira Arshad, Ana uhibbuki fillah," ucap Bayu lurus menatap Ica.
"Ica, kamu kok merah banget mukanya? Bukannya saya udah kasih tahu kamu? Dan tadi itu saya ucapkan dengan sangat tulus. Apa saya salah lagi?" kesal Bayu karena bersalahan terus di mata Ica.
"Mas Bayu curang, ngomongnya pakai bahasa arab. Ica kirain pakai inggris tadi. Kalau kayak begini, kan, jadi berdamage banget. Jangan marahin Ica kalau pipi Ica kelihatan merah banget. Soalnya ini gara-gara kamu tahu, Mas!" Ica langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Kemudian Bayu mendekat dan dengan lembut membuka tangan Ica agar ia tak menyembunyikan wajahnya lagi. Ia sangat tersentuh dengan reaksi Ica yang salah tingkah ini. Karena hanya dengan menunjukkan ini saja, Bayu tahu seberapa lama Ica menunggu untuk Bayu mencintainya balik. Ica sangat butuh pengakuan cinta dari Bayu, dan setelah mendapatkannya, Ica tak dapat membendung kebahagiaanmu. Pipinya jadi merah merona. Dan entah kenapa, wajah merah Ica itu terlihat sangat memikat di mata Bayu.
__ADS_1
"Ica..., saya mencintai kamu karena Allah," ucap Bayu sekali lagi. Tapi kali ini ia menatap mantap ke mata Ica dan masih mendekat terus mendekat ke arah wajah Ica.
Satu tangan Bayu memegang pipi Ica, kemudian tangannya yang lain perlahan mengikuti. Dan..., bibir-bibir mereka bertemu dalam kelembutan dan kehangatan. Bayu melakukannya lebih dulu dengan kesadaran, betapa ia sangat ingin mencium Ica dalam-dalam. Meski awalnya Ica terkejut dengan gerakan Bayu yang tiba-tiba ini, perlahan Ica pun menikmatinya. Ia sangat yakin ia menjadi pemenang yang seutuhnya. Karena Bayu tak akan pernah melakukan ini pada Caca, pikirnya.
Bayu menyadari betapa jatuhnya ia pada ciuman ini. Hingga akhirnya nafasnya memburu, membuatnya menjeda sebentar dan membiarkan Ica juga mengambil nafas. Keduanya begitu kehabisan nafas, padahal baru bibir-bibir mereka saja yang bertemu.
Bayu masih memegang wajah Ica dengan dua tangannya. Ciuman itu kini ia layangkan ke kening Ica dengan lama dan lembut. Kemudian ia menempelkan dahinya dengan dahi Ica seraya mengatur nafasnya.
"I love you Ica," ucap Bayu di sela-sela ia mengatur nafasnya. Ica pun membalas dengan lembut diakhir dengan kecupan di bibir Bayu.
Bayu dan Ica akhirnya kembali normal nafasnya. Di akhir aktifitas romantis tadi, Bayu mengacak-acak rambut Ica untuk melengkapi.
"Kelanjutannya lebih baik kita selesaikan saat bulan madu. Besok kita akan bekerja, kan? Secepatnya kita akan berbulan madu untuk menebus waktu yang hilang. Kamu atur jadwalnya, ya, Ca," ujar Bayu dengan kalimatnya yang membuat mulut Ica menganga tak percaya.
"Beneran, Mas?"
"Iya, tentu. Itu hal yang sangat spesial. Jadi, harus dilakukan di momen spesial, dan tempat spesial pula. Ngerti, kan?"
"Siap, Bos!"
"Ya udah, saya mau ke ruang kerja dulu untuk buat laporan dinas sekalian persiapan buat besok. Kamu kalau mau istirahat dipersilahkan." Bayu berdiri tegak dan bersiap keluar kamar. Kemudian ia bergegas agar salah tingkahnya itu tak ketahuan oleh Ica.
"Siap, Pak Bos. Semangat kerjanya, Sayang," respons Ica.
Bayu tak menggubris dan tetap berjalan keluar kamar. Namun senyumnya kian mengembang karena respons Ica. "Tolong jangan menggoda saya, Ca."
Benar-benar magic word, kan? Ucapan cinta itu bisa menyihir Bayu untuk melakukan gerakan lebih dulu melakukan hal romantis itu pada Ica.
"Dasar Pak Bos. Urusan begitu ternyata mesti perfek juga. Hihi. Dasar bos perfeksionis!" umpat Ica, dengan cinta mungkin? Karena mengucapkan itu dengan tersenyum bahagia. Bahkan senyumnya bukan malah mereda, ia makin menjadi jadi dan berteriak kegirangan.
...----------------...
__ADS_1