Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Cerita bu lyla


__ADS_3

Rumah bu lyla masih dalam keadaan tertutup. Tirai, jendela dan juga pintu gerbang. Perlahan alika melangkah masuk melalui pintu belakang yang mengakses langsung ke dapur.


Alika menyalakan lampu karena ruangan yang masih gelap. Bu lyla belum juga kelihatan batang hidung nya.


Ruang tengah dan tv tak lupa ia nyalakan. Setelah itu ia kembali kedapur untuk menyiapkan sarapan. Dengan setengah hati alika berusaha mengejarkan tugas nya semaksimal mungkin.


"Alika sudah kesini." Ucap bu lyla yang baru saja muncul.


"Iya bu." Sahut alika yang tengah sibuk mencuci sayuran.


"Alika sudah makan?" Tanya bu lyla sambil meminum segelas air dingin yang ia ambil dari dalam kulkas.


"Sudah bu." Karena tak ingin membuat nya cemas alika terpaksa berbohong.


Sebelum kesini sebenarnya ia lupa mengisi perut nya terlebih dahulu. Karena takut terlambat. Meskipun ia tau bu lyla tidak akan marah jika alika datang kesini saat siang hari.


Tapi, ia tidak boleh bersikap seperti itu supaya image nya tetap terjaga dengan baik.


Bu lyla duduk di tempat khusus yang difungsikan hanya untuk sekedar minum air putih, jus atau makan cemilan. Letak nya tepat disamping lemari dingin.


Beliau mengajak alika berbincang sebelum mandi. Ia banyak menceritakan adnan yang sulit mendapatkan jodoh. Padahal bulan depan usia nya mau menginjak usia 30 tahunan.


"Sangat sulit meyakinkan nya. Anak ibu sangat keras kepala." Ungkap nya. Beliau menunduk kepala nya seolah-olah tengah menceritakan penderitaan sang anak yang tak kunjung menikah diusianya yang benar-benar matang.


Alika hanya menjadi pendengar yang baik. Karena tidak tau harus berkata apa. Belum lagi dalam benak alika berkecamuk mengenai adnan yang masih dicintai oleh seorang wanita yang kemarin berbincang dengan bibi nya sena.


"Sebenar nya arin adalah penyebab utama nya. Semenjak mantan kekasih anak ibu menikah tanpa sepengetahuan nya. Ia lebih memilih untuk menutup pintu hati nya pada wanita manapun yang ibu kenalkan pada nya." Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba bu lyla menceritakan masa lalu anak nya.


Alika mengerutkan dahi nya. Ia berusaha mencerna perkataan bu lyla.


Ternyata wanita yang kemarin sempat berbincang dengan bibi sena adalah mantan kekasih adnan. Dan percakapan mereka yang tak sengaja alika dengar itu sepenuh nya tidak benar.


Alika benar-benar menyesal karena sudah berprasangka buruk pada adnan.

__ADS_1


"Padahal ibu sangat menyukai nak arin dan merestui hubungan mereka. Tapi, karena bakti nya pada kedua orang tua nya. Nak, arin rela mengakhiri hubungan nya dengan anak ibu." Lanjut bu lyla.


"Yang sabar ya bu. Alika cuman bisa do'a kan semoga kak adnan mendapatkan jodoh yang lebih baik." Alika mencoba menghibur beliau.


"Iya,nak." Bu lyla tersenyum dengan tulus pada alika. Dibalik senyuman nya itu Ia menyimpan harap pada gadis yang baru menginjak usia 16 tahun tersebut.


Entah kenapa dari pertama kali bertemu dengan alika. Bu lyla sangat menyukai nya. Bagi nya alika merupakan gadis yang rajin dan penurut.


Jujur saja beliau ingin menjodohkan anak nya dengan alika. Tapi, ia akan merencanakan semua itu diwaktu yang tepat. Apalagi sekarang alika masih sekolah. Ia tidak peduli meskipun usia mereka terpaut sangat jauh. Lagipula anak nya masih terlihat awet muda.


"Kalian memang cocok." Celetuk bu lyla dan itu membuat alika salah tingkah.


"Bu, alika izin ketoilet dulu ya." Ia tidak bisa menahan diri jika bu lyla sudah mengatakan hal-hal diluar dugan nya.


"Iya, nak."


Didalam toilet alika membasuh wajah nya. Berharap dapat menyegarkan pikiran nya yang mulai kalut. Karena harus memikirkan dua hal sekaligus disaat yang bersamaan.


Perasaan ia pun mulai tak karuan. Disisi lain alika sedih tapi disisi lain timbul rasa penasaran pada anak bu lyla. Rasa penasaran yang tidak biasa.


Seperti nya adnan sudah pulang dan menghamliri ibu nya yang tengah ada didapur.


"Aku tidak boleh keluar sampai kak adnan pergi dari dapur." Ucap alika pada diri nya sendiri.


Sementara itu adnan cukup lama berada didapur. Karena ia bu lyla meminta adnan untuk menemani nya minum secangkir kopi panas.


Alika tidak punya nyali untuk keluar dan bertemu dengan nya. Ia pun memutuskan untuk menunggu. Biarpun lama alika tidak akan beranjak dari sana sampai adnan pergi.


Setengah jam lebih mereka suara mereka masih terdengar dan memecah keheningan dipagi buta. Alika mulai kesal. Namun, ia tetap bersikukuh untuk menunggu didalam toilet. Sudah beragam cara ia lakukan untuk membunuh rasa bosan.


Dimulai dari mencuci tangan nya yang masih bersih dengan sabun sampai bercermin berulang kali.


"Bu, adnan mau mandi. Soal nya badan udah mulai gerah." Ucap nya.

__ADS_1


"Tapi, didalam kamar mandi ada alika." Bu lyla mencoba memberitahu nya.


Mendengar hal itu alika panik. Didalam sana seperti kebakaran jenggot karena tidak tau harus berbuat apa. Ingin keluar tapi tidak berani. Terus berada didalam toilet bisa-bisa ia mati kedinginan.


alika mondar mandir memikirkan cara supaya bisa keluar tapi tidak harus bertemu dengan adnan.


"Alika sedang apa, nak?" Tanya bu lyla. Alika semakin panik.


Gengsi nya lebih tinggi daripada rasa peduli nya. Kali ini hati alika terasa berat untuk mengalah.


"Alika.. sedang apa disana?" Tanya bu lyla sekali lagi. Karena ia masih belum mendapat jawaban dari alika.


"Maaf, bu alika sakit perut." Terpaksa ia berbohong untuk menutupi rencana nya.


"Oiya tidak apa-apa,nak." Sahut bu lyla dari luar.


Akhir nya bu lyla mengalah dan menyuruh adnan untuk sementara ini menggunakan toilet yang ada dilantai atas.


Walaupun adnan tidak mau ia tetap menuruti keinginan ibu nya.


"Maaf ya nak. Seperti nya alika sedang susah tidak enak perutnya." Bu lyla merasa menyesal pada adnan.


"Iya bu." Adnan pun pergi kelantai atas.


Sedangkan bu lyla beranjak dari dapur menuju ruang tengah. Alika merasa sekaligus bersalah. Karena menuruti ego nya.


Setelah diluar tak ada siapa-siapa. Alika segera meninggalkan toilet. Namun, disaat bersamaan adnan kembali kelantai bawah. Ia terlihat menuruni tangga yang terletak tak jauh dari dapur.


Melihat itu alika pun masuk kembali kedalam toilet. Suara pintu yang ditimbulkan oleh nya terdengar sampai ketelinga adnan.


Adnan beranggapan jika ibu nya yang kini menggunakan toilet tersebut.


Namun, saat tiba dilantai bawah. Ia malah melihat sang ibu tengah bersantai diruang tengah sambil mendengarkan radio.

__ADS_1


Adnan mengerutkan kening nya. Lalu, mengambil handuk yang tertinggal di tempat jemuran.


BERSAMBUNG~~


__ADS_2