Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Pengantin baru


__ADS_3

Semua telah disiapkan dengan sempurna. baik oleh bu lyla maupun nenek adnan. Dan lancar nya acara juga tak lepas dari dukungan keluarga besar mereka. Bukankah adnan dan alika adalah pasangan yang beruntung?


Tak ada penolakan dari pihak manapun. Bahkan, alika disambut dengan baik oleh kerabat adnan. Sosok nya yang mudah berbaur juga menjadi nilai plus untuk gadis yang baru saja menginjak usia 16 tahun tersebut.


Untuk pernikahan nya ini ia rela menunda impian nya tersebut. Menikah disaat belum lulus SMA memang tidak mudah. Banyak gonjang-ganjing dari mulut orang lain. Ia sempat dituduh hamil sebelum sah. Padahal mereka tau menikah dini ditempat nya bukanlah hal yang aneh lagi.


"Sudah kuduga akan jadi seperti ini." Ketus salah satu kerabat adnan.


"Sudahlah jangan dipikirkan. Lagipula hal ini sudah menjadi budaya didesa kita. Tapi, kenapa mereka hanya menghakimi alika saja. Apa hanya gara-gara alika orang baru disini?" Bela bibi adnan.


"Iya, menikah dini sudah jadi rahasia umum didesa kita. Malah banyak orang-orang sini yang punya anak gadis baru berusia 15 tahun ingin menjodohkan anak nya dengan adnan." Jelas nenek adnan.


Pro dan kontra memang tidak pernah lepas dari kehidupan ini. Tepat sehari setelah pernikahan adnan dan alika. Ada orang yang tega membuat berita buruk tentang alika.


Kabar burung itu berawal dari celotehan seseorang yang memang memiliki pandangan jelek terhadap gadis manis itu. Entah apa yang mendasari ketidaksukaan nya pada alika yang bahkan ia saja tidak terlalu mengenal diri nya.


Namun, bukan alika nama nya kalau ia tidak tegar. Selama diterpa kabar miring ia tak menangis atau terpengaruh. Alika tetap berusaha menjalankan kewajiban nya sebagai seorang istri.


"Nak, sebaik nya kami tinggalkan kalian dulu ya. Karena kalian harus punya waktu berdua." Nenek adnan dan keluarga yang lainnya pamit. Karena mereka tak ingin berlama-lama membahas hal yang tidak penting. Mereka ingin adnan dan alika memiliki waktu untuk berdua lebih banyak lagi.


"Iya, nek." Jawab adnan.


"Nek, terima kasih." Ucap alika.


"Iya nak.. semoga semua kebaikan mu dibalas oleh Tuhan. Jangan pernah menyerah dengan jalan yang akan kamu lalui ini. Akan banyak cobaan dan rintangan yang mengiringi rumah tangga kalian. Apalagi kau masih remaja. Tapi, ingat semua akan indah pada waktu nya. Kau akan menjadi seseorang yang nenek mu harapkan." Nasihat dari nenek adnan membuat alika merasa tenang. Beliau sangat bijaksana dan kata-kata nya selalu menyejukkan hati.


"Nek.. alika sayang nenek." Spontan alika memeluk nenek adnan.


"Ibu juga sayang alika." Bu lyla memeluk alika dan nenek adnan. Ia tak bisa menahan nya lagi.


Setelah keluarga besar adnan pergi. Alika langsung menawarkan secangkir cokelat hangat pada adnan yang telah dibuat oleh nya.


"Ekhem... kak.." Ia mencoba untuk membuka percakapan.


"Iya?" Adnan yang tadi nya fokus dengan ponsel segera merespon alika.

__ADS_1


"Kak... cokelat panas nya diminum. Keburu dingin." Ia membenahi posisi duduk nya agar nyaman.


"Iya."


Pria yang beberapa waktu lalu membuat nya selalu merasa penasaran dan salah tingkah kini telah menjadi suami nya. Semua terjadi begitu saja dan cepat. Ia tidak menyangka kehidupan nya akan berubah haluan semudah itu.


Seumur hidup alika tak pernah berpikir untuk menikah secepat ini. Saat kedua orang tua dan kakak nya masih ada yang ada dipikiran alika hanya mewujudkan cita-cita sewaktu kecil.


"Apa kau tidak merasa terpaksa dengan perjodohan yang dilakukan oleh nenekku?" Pertanyaan yang tanpa diduga membuat alika membeku.


"Aku melakukannya demi keluarga ku. Tidak lebih dari itu. Maaf jika aku masih belum bisa tertarik dengan mu." Ucapan nya kali ini malah kena sampai kehati alika.


"Tidak apa-apa. Apapun itu selama untuk kebaikan kita berdua aku ikhlas." Alika mencoba memberanikan diri untuk menjawab.


"Iya benar. Mulai sekarang aku akan bertanggung jawab atas kehidupan mu. Apapun yang kau inginkan akan aku penuhi. Apalagi kau belum lulus Sekolah. Jadi, aku tidak memaksa untuk kau memiliki anak lebih cepat. Selesaikan dulu semua nya. Aku akan menunggu." Adnan yang sudah ingin berkeluarga tidak juga memaksa istri kecil nya itu untuk mengandung buah hati.


"hm..?" Rupa nya alika agak terkejut dengan pernyataan suami nya tersebut. Adnan memang tipe orang yang tidak suka basa-basi. Ketika ada sesuatu yang ingin disampaikan ia langsung utarakan.


"Setengah tahun ini kau boleh fokus dulu dengan sekolah mu. Apapun yang kau butuhkan katakan saja. Jangan dipendam!" Jelas nya.


'Dasar pria berdarah dingin.' Batin alika.


"Aku juga tidak akan terlalu memaksa kau untuk menjalankan kewajiban inti." Ucap adnan.


Perkataan nya itu terdengar ambigu di telinga alika. Kewajiban inti? Beres-beres, memasak, atau belanja?


Alika mengangguk saja agar tidak terlihat bodoh dihadapan suami nya itu.


"Ya sudah kalau begitu aku akan pergi keluar untuk membeli makanan. Kau istirahat saja disini." Ucap adnan.


Alika menganggukkan kecil kepala nya. Lalu, ia ditinggalkan sendirian oleh adnan.


Adnan melangkah keluar rumah sambil membawa helm dan konci motor.


Namun, saat diambang pintu ia nampak sedang berpikir sejenak. Setelah itu kembali menghampiri alika.

__ADS_1


"Alika, mau ikut?" Demi apapun ini adalah ucapan suami nya yang paling termanis.


"eung?" sontak alika melihat wajah suami nya itu dengan tatapan tidak percaya.


"Seperti nya pergi berdua lebih baik." Ia menunggu jawaban alika.


"Tapi, kak."


"Kenapa?"


"Aku..." Belum sempat meneruskan perkataan nya.


"Mumpung cuaca diluar sedang bagus. Kita pergi berdua sebagai pasangan suami istri." Ucap adnan sedikit memaksa.


"Ya sudah.." Alika pun menguncir rambut nya yang terurai secara mendadak. Karena tak ingin membuat adnan menunggu lama.


Mereka berdua akhirnya pergi bersama menaiki sepeda motor milik adnan yang ia beli setahun lalu.


Kedua nya nampak sangat manis sebagai pasangan suami istri. Meski adnan dan alika belum benar-benar mengenal satu sama lain.


Hanya lewat perjodohan oleh kedua belah pihak mereka bersatu.


"Kak.. jangan terlalu cepat ya." Ucap alika.


"Iya."


Rumah dekat gedung serbaguna didesa nya lah akan menjadi tempat tinggal mereka. Rumah itu milik nenek adnan yang sudah diwariskan ke bu lyla.


Terlihat sederhana dan masih banyak yang harus dibenahi. Namun, adnan sudah sangat bersyukur. Karena ia memiliki ibu yang berhati mulia. Kerabat nya yang lain pun setuju dengan penyerahan rumah milik sang nenek ke adnan dan istri nya.


"Kita sudah sampai." Mereka tiba disebuah tempat makan yang cukup terkenal di daerah tersebut. Perjalanan mereka menuju tempat makan yang memakan waktu cukup lama terbayar sudah oleh pemandangan indah disana.


"Bagus sekali, kak." Decak kagum alika membuat adnan tersenyum senang.


Ia sangat bangga pada diri nya sendiri karena dapat menunjukkan tempat yang indah pada sang istri.

__ADS_1


BERSAMBUNG~~


__ADS_2