
''Lumayan rame hari ini.'' Mata adnan melirik kesana kemari untuk mencari tempat yang kosong.
''Iya kak.''
Ada pasangan remaja yang baru saja selesai makan. Melihat adnan dan alika kebingungan mencari tempat duduk. Mereka berinisiatif untuk memberitahu nya.
Kedua sejoli itu pun menghampiri adnan dan alika yang masih berdiri di dekat pintu masuk.
''Kak, kita udah selesai. Kalian boleh duduk disana.'' Ucap si gadis yang memakai pakaian warna-warni dengan rambut dikuncir dua dan sedikit pirang. Lebih tepat nya gaya ala cabe-cabean.
''Hmm.. iya terima kasih, dek.'' Sahut alika.
Gadis itu pun tersenyum dan menunjukkan kawat gigi nya yang berkilau. Alika menyeringai aneh. Ia seedikit ngeri karena melihat seorang gadis yang memasang berbagai macam aksesoris di area wajah nya.
Belum lagi make up tebal yang menutupi hampir seluruh wajah nya yang hitam manis tersebut.
''Kenapa kak ada yang salah?'' Merasa alika jijik pada nya. Gadis itu mencoba kembali bertanya.
''Tidak. Ngomong-ngomong kalian itu pasangan kekasih?'' Jiwa kepo alika mulai mencuat kepermukaan.
''Iya, kak. Bentar lagi kita nikah.'' Dengan percaya diri nya gadisi itu menjawab pertanyaan alika.
''Nikah? Kok bisa?Kakak lihat kalian masih kecil.'' Tanya alika.
''Iya kak. Lebih cepat lebih baik.'' Kini laki-laki nya yang menjawab. Gaya nya cukup norak dan terlihat so keren.
Alika hanya bisa menahan tawa melihat tingkah laku dua sejoli yang masih bau kencur itu.
Sedangkan adnan tidak terlalu peduli dengan apa yang ada dihadapan nya. Karena ia tau jika hal semacam ini sudah tidak aneh lagi terjadi di desa nya.
Menikah dini adalah pilihan para orang tua disana untuk melepas beban keluarga.
''Ya sudah kakak mau ke sana dulu. Kalian jaga diri baik-baik ya. Dan terima kasih untuk tempat duduk nya.'' Ucap alika seraya berlalu meninggalkan mereka.
''Iya kak.''
Alika dan adnan mendatangi tempat duduk yang kosong tersebut. Tepat disaat yang bersamaan seorang wanita berperawakan tinggi dan berkulit putih menempati tempat itu.
Wanita itu adalah arin. Mantan kekasih adnan. Arin dengan membawa segelas minuman dan ponsel ditangan nya sudah bersiap untuk duduk. Tapi, tidak jadi karena ada alika dan adnan. Sepasang pengantin baru.
''Adnan?'' Ia mendongakkan kepala nya.
__ADS_1
''Maaf.. kami sudah lebih dulu mendapatkan tempat ini.'' Adnan mencoba untuk menghalau arin.
"Apa kabar mu?" Arin menyapa adnan dengan ramah.
"Aku baik-baik saja.Tapi, kenapa kau ada disini? Lalu, dimana suami dan anakmu?Bagaimana kabar nya?" Walaupun dia sudah pernah mengecewakan nya. Adnan tetap berusaha bersikap baik pada sang mantan kekasih nya tersebut.
"Sebenar nya kami sudah lama berpisah. Dan aku belum sempat memberi nya seorang anak." Ucap arin tanpa rasa ragu.
"Maksudnya?" Adnan masih belum dapat mengerti apa yang dikatakan oleh arin.
"Aku dan mantan suami sudah tidak bersama lagi. Kami memutuskan untuk bercerai. Banyak hal yang membuat ku tidak nyaman. Dia juga selalu menuntut ku untuk segera memberi nya keturunan. Kedua orang tua nya pun tidak begitu menyukai ku." Jelas arin.
Tatapan adnan langsung berubah. Ia benar-benar tidak menyangka jika orang yang dulu pernah dicintai nya akan bernasib buruk seperti ini.
Dulu ia selalu membayangkan kebahagiaan yang akan dirasakan oleh arin karena telah berbakti kepada kedua orang tua nya. Ia pikir itu adalah pilihan paling tepat untuk diri nya.
Tapi ternyata semua dugaan nya salah. Dijodohkan dengan pria mapan dan terpandang malah tak membuat arin bahagia. Bahkan, mereka berani memilih untuk berpisah hanya karena masalah arin yang tak kunjung diberi keturunan.
"Bisakah kau tinggalkan kami sebentar. Aku dan arin akan bicara." Ucap adnan pada alika.
Alika menuruti keinginan nya. Ia menjauh dari mereka untuk sementara.
"Jadi alasan mu ada disini adalah itu?" Adnan melanjutkan percakapan nya dengan arin sesaat setelah alika pergi.
"Lalu, bagaimana dengan kedua orang tuamu? Bukankah semua ini terjadi atas kemauan mereka?" Tanya adnan dengan nada tinggi.
Sebenar nya ia sudah tidak peduli lagi dengan seseorang yang pernah singgah dikehidupan nya. Namun, keadaan memaksa nya untuk empati pada arin.
"Kedua orang tua ku awal nya marah besar. Tapi, seiring berjalan nya waktu mereka berdua mulai memahami ku. Mereka juga sudah mengiklaskan yang semua nya." Ucap arin yang berusaha menahan air mata nya.
Adnan diam sejenak mencoba memahami semua penjelasan arin.
"Maaf."
"Untuk apa?" Tanya adnan.
"Semua." Arin menatap mata adnan dalam-dalam.
Tersirat jelas dimata nya rasa penyesalan dan bersalah.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur dan masa lalu tetaplah masa lalu. Meskipun saat itu arin adalah wanita yang paling adnan sayangi. Sekarang tidak lagi. Terlebih dia sudah memiliki alika.
__ADS_1
Wanita yang akan mendampingi nya seumur hidup. Dan ini bukan saat nya ia untuk bermain-main dengan perasaan nya.
Adnan sudah mantap dengan keputusan nya. Ia akan tetap mempertahankan alika meskipun sekarang hati nya tengah diuji.
"Sudah aku maafkan." Ucap adnan singkat.
Arin nampak seperti mengharapkan sesuatu dari adnan. Ia belum bisa beranjak dari tempat tersebut. Wanita itu menundukkan kepala sambil memainkan jari jemari nya.
Sudah bisa ditebak apa mau nya. Alih-alih simpati adnan memilih mencoba untuk mengusir nya dengan cara halus.
"Maaf.. Tapi istriku sudah menunggu cukup lama. Bisakah kita akhiri obrolan nya. Lain kali aku akan berkunjung kerumah mu dengan alika." Ucap adnan.
Mendengar hal itu sikap arin langsung berubah. Ia menekuk wajah nya seperti tidak suka dengan ucapan adnan.
"Iya.. Selamat ya. Maaf aku telah mengganggu waktu kalian berdua." Tanpa banyak bicara lagi arin segera pergi dari tempat itu.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut ia tersenyum ketir pada adnan. Menandakan diri nya sakit hati dengan sikap adnan yang sudah berubah.
'Maafkan aku. Tapi, kau yang memulai semua nya.' Batin adnan yang masih belum dapat melupakan masa lalu nya.
"Kak..." Alika menghampiri nya saat arin pergi.
"Iya... silahkan duduk!" Ucap adnan dengan raut wajah yang seolah tengah tertekan.
"Terima kasih." Perlahan alika duduk dihadapan adnan. Ia berusaha mengerti dengan kondisi suami nya tersebut.
"Kak..." Seru alika.
Spontan adnan memberi isyarat dengan tangan nya supaya alika jangan dulu mengajak ia berbicara.
Ia ingin menenangkan pikiran nya terlebih dahulu.
"Pelayan.." Teriak adnan pada seorang pelayan yang tengah berdiri tegak di dekat kasir.
Pelayan itu pun mendatangi mereka sambil membawa buku menu.
"Pesan apa saja yang kau inginkan. Aku akan ke toilet sebentar." Ucap adnan.
"Iya kak."
Karena kepala suami nya itu mulai pening. Adnan izin pergi ke toilet untuk menyegarkan otak nya kembali.
__ADS_1
BERSAMBUNG~~