Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Pilihan


__ADS_3

Alika memandangi brosur yang ada di tangan nya. Pendaftaran untuk masuk kampus impian nya, Sebentar lagi di buka. Dan usia nya kini sudah mau memasuki 17 tahun.


Apa mungkin ia harus melanjutkan cita-cita nya? Atau merasa cukup dengan kehidupan yang sekarang di miliki nya?


Alika mendengus kesal, Karena frustasi. Ia bimbang dengan pilihan yang ada di tangan nya sekarang. Menjadi seorang istri saja cukup sulit bagi nya. Apalagi harus membagi waktu dengan melanjutkan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi.


"Gimana kamu tetep mau kuliah?" Tanya adnan.


"Tapi, aku mau pertimbangin lagi. Karena aku gak mau ngerepotin ibu." Jawab nya.


"Kalau nyewa pengasuh gimana?" Adnan memberi solusi.


"Sayang banget. Mening di tabung uang nya buat keperluan yang lain. Daripada harus nyewa pengasuh." Alika menghela nafas pelan.


"Terus mau nya gimana?"


"Kaya nya aku bakal nunda sampai umurku genap 18 tahun. soal nya kan afnan masih butuh aku." Naluri sang ibu sudah melekat di dalam diri nya.


"Baiklah. Jika, itu yang kau mau."


Tuntutan pekerjaan yang semakin hari semakin berat, Kerap kali membuat kepala nya sakit. Belum lagi ia harus memikirkan istri nya yang ingin sekali kuliah.


Sebagai seorang suami yang bertanggung jawab. Ia harus memutar otak untuk mencari biaya tambahan. Karena upah nya tidak sebanding dengan kerja keras yang dilakukan nya selama ini. Maklum perusahaan nya itu baru saja berjalan sekitar 1 tahun.


Tanpa sepengetahuan istri nya, Sepulang dari kantor ia pergi ke sebuah tempat untuk mencari uang lagi. Maka nya tidak heran kalau alika sering bertanya pada adnan.


"Kalau kamu pulang terlambat terus. Aku kerepotan. Akhir-akhir ini afnan rewel banget, Gak mau aku tinggalin sama sekali. Mau nya di gendong terus. Jadi nya aku gak sempet masak dan beres-beres lagi." Imbuh nya.


"Iya aku bakalan usahain pulang tepat waktu." Ucap adnan. Ia tidak ingin mempermasalahkan nya.


"Sekarang aku mau cuci baju. kak adnan mau sekalian nitip gak?" Tanya sang istri.


"Paling jaket yang di gantung di pintu itu." Adnan menunjuk jaket yang tergantung di pintu.


"Oiya, kak." Istri nya pun mengambil nya saat lewat.


Kebucinan alika nyata nya tidak dapat melupakan keinginan nya untuk meraih cita-cita. Ia tetap saja bersikukuh melanjutkan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi.


Sayang jika hanya tamatan SMA. Menikah bukan berarti semua mimpi nya sirna. Terlebih lagi ia memiliki suami yang men support nya.


Adnan rela bekerja tanpa mengenal rasa lelah demi sang istri tercinta.

__ADS_1


'Terima kasih, kak.' Alika nyaris meneteskan air mata nya ketika mencuci baju.


Ia tak kan pernah melupakan sedikit pun kebaikan suami dan keluarga nya. Di sini dia di perlakukan baik oleh mereka.


"Suatu hari nanti aku bisa membalas semua kebaikan nya." Ia bertekad balas budi pada suami nya.


Ucapan nya terdengar oleh ibu mertua yang baru datang. Beliau malah terkejut dengan tumpukan cucian yang sangat banyak di samping menantu nya.


"Cucian sebegitu banyak nya mau kamu cuci sama tangan kosong?" Ucap bu lyla.


"Ibu?" Sontak saja alika langsung berdiri.


"Kenapa gak pake mesin cuci aja? Biar ngeringanin beban kamu." Ujar nya.


"Kan kita belum beli mesin cuci." Ungkap alika.


"Kirain ibu kalian udah beli mesin cuci nya."


"Gak bu, uang nya belum cukup. Kemarin kan abis di pake buat lahiran." Alika sedikit menundukkan kepala nya ke bawah.


"Uang yang ibu kasih kemarin?"


"Masih ada bu. Cuman itu aku mau__" Ucapan nya terhenti seketika. Ia baru ingat kalau uang yang di beri mertua nya tersebut di tabung untuk biaya kuliah nya nanti.


"Loh.. kenapa gak di lanjutin?"


"Gak bu. Alika mau lanjut nyuci, ya?"


"Iya. Ibu mau masukkin stok bahan makanan ini ke kulkas ya?" Tanya nya.


"Iya bu."


Ia kembali meneruskan cucian baju yang menggunung tersebut. Sebenar nya alika sangat lelah karena semalam begadang, Sudah memberikan ASI pada anak nya.


Namun, ia berusaha untuk menguatkan diri nya agar pekerjaan nya cepat selesai.


"Eh... ibu udah dateng." Adnan baru saja muncul dari dalam kamar nya sambil menggendong afnan.


"Cucu ibu udah bangun..." Beliau menirukan suara seperti anak kecil.


"Kata alika, Afnan rewel terus. Mau nya di gendong terus dari pagi. Maka nya pekerjaan dia belum ada yang selesai." Jelas adnan.

__ADS_1


"Maklum aja dia kan punya bayi." Ucap bu lyla.


Adnan termenung mendengar ucapan ibu nya. Benar juga selama ini alika hanya sibuk sendirian. Dia tidak pernah meluangkan waktu nya untuk membantu sang istri.


Alasan kelelahan bekerjalah menjadi penyebab utama nya. Pulang mencari nafkah ia langsung bermain game di ponsel, Untuk menghilangkan penat.


"Bu, adnan mau bantuin alika." Ucap nya.


"Ya udah kalau gitu. Ibu bakalan bawa main afnan." Bu lyla mengambil afnan dari tangan ayah nya.


"Cucu nenek yang paling ganteng gemuk banget sih. Ibu kamu pandai merawat." Berulang kali ibu adnan mencium pipi cucu nya.


Berhubung beliau sedang tidak ada kegiatan sore ini. Bu lyla menyempatkan diri pergi kerumah anak-anak nya.


Alika sudah dianggap seperti anak sendiri. Kelembutan hati nya yang membuat bu lyla jatuh hati pada perempuan yang kini di persunting oleh anak nya.


Beliau tidak salah memutuskan untuk menjodohkan alika dengan adnan. Walaupun saat itu bu lyla tidak tega melihat nya yang masih remaja.


Di tempat lain adnan ingin membantu istri nya mencuci baju. Ia terus memaksa menerobos masuk ke dalam kamar mandi.


"Tidak!! jangan coba-coba masuk kesini!" Teriak alika.


"Aku cuman ingin bantu kamu cuci baju. Masa gak boleh." Sahut adnan.


"Udah gak ada tempat lagi. Disini sempit." Tegur sang istri.


Akhir nya adnan bisa masuk ke dalam kamar mandi. Tapi, ia hampir terpeleset. Untung saja tangan nya dengan cepat meraih lengan alika.


Jika, alika tidak segera memegang hanger besi khusus untuk menyimpan handuk. Mungkin badan kedua nya sudah ambruk ke lantai, Yang dipenuhi oleh detergen.


"Bisa-bisa nya kak adnan ceroboh." Alika tertawa terbahak-bahak melihat ulah sang suami.


"Jangan ketawa!" Ketus nya.


"Dari tadi aku bilangin gak usah kesini. Jadi nya kan kita hampir jatuh. Hffftt..." Ucap nya sambil menutup mulut nya, Karena menahan tawa.


"Mana tau bakal licin banget lantai nya. Lagian kamu gak ngomong sih!" Gerutu adnan.


"Tapi, kan aku gak nyuruh kak adnan kesini, Sebenarnya kak adnan paham ucapan ku tadi gak sih?" Tegas alika yang masih menahan tawa.


Adnan langsung pergi meninggalkan alika di kamar mandi. Jujur saja ia sangat malu dengan istri nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG~~


__ADS_2