Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Jatuh pingsan


__ADS_3

Karena alika sudah jadi siswi kelas 3. Ia harus lebih giat lagi belajar. Akhir-akhir ini alika banyak menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mengerjakan tugas tambahan dengan sena. Untung saja sang nenek mengerti kondisi nya.


Alika hanya membantu nenek nya saat sore hari. Jadi, tidak sempat pulang kerumah untuk mengganti seragam nya.


Kadang sang nenek merasa kasihan pada cucu nya tersebut. Tapi, alika sangat keras kepala dan tetap bersikeras untuk membantu meringankan beban nenek nya.


Hal yang paling membahagiakan menurut alika adalah ketika ia bisa menolong semua orang yang sedang berada dalam kesulitan.


Meskipun kehidupan sebelum nya alika tidak pernah merasa kekurangan baik secara materi maupun kasih sayang. Lantas tak membuat nya tumbuh menjadi gadis yang manja.


"Nek, nasi yang ini bekas tadi siang, kan?" Tanya alika pada sang nenek.


"Iya..."


"Harus dikemanakan ya?" Alika melirik kesana kemari untuk mencari tempat penampungan nasi bekas.


"Kumpulkan diplastik hitam saja. Nanti nenek berikan ke ayam-ayam yang nenek pelihara." Perintah nenek nya.


Alika menuruti keinginan beliau. Ia mengambil plastik hitam yang ada didalam lemari. Lalu, memasukkan nasi bekas tadi siang ke plastik itu.


Sebentar lagi tugas alika membantu sang nenek selesai. Ia pun bersiap untuk pulang. Sebelum itu nenek nya memberikan makanan enak pemberian bu lola juga oleh-oleh yang dibawah oleh adnan dari kotak.


"Ya udah nek, alika pulang dulu." Pamit nya pada sang nenek. Alika nampak membawa kantong plastik penuh dengan makanan.


"Iya nak." Nenek nya mengantarkan alika kedepan rumah.


"Nek, gak apa-apa pulang sendirian?" Tanya nya yang mengkhawatirkan sang nenek.


"Gak apa-apa, nak. Soal nya nanti nenek diantar sama den adnan." Beliau berusaha meyakinkan alika supaya tidak terlalu mencemaskan diri nya.


Diam-diam alika penasaran dengan nama yang sering disebutkan oleh nenek nya. Dari pertama kali adnan datang. Ia sama sekali belum pernah melihat nya.

__ADS_1


"Iya udah nek. Alika pulang dulu. Assalamualaikum." Alika menyalami tangan nenek nya. Setelah itu berlalu meninggalkan sang nenek.


***


Sambil menunggu nenek nya pulang. Alika membuka plastik yang berisi makanan tersebut. Karena perut nya sudah sangat keroncongan. Sepulang nya dari sekolah alika belum sempat makan. Ia hanya minum air putih dan sepotong roti untuk mengganjal perut nya.


Namun, saat hendak membuka plastik itu. Ia mendengar suara deru motor tepat didepan rumah sang nenek. Sontak alika menghentikan aktivitas nya.


"Pasti itu nenek." Alika bangun dari tempat duduk nya untuk membuka pintu. Dan kebiasaan alika adalah mengintip dari jendela saat ada orang yang ingin bertamu kerumah nenek nya.


Dan diluar rumah terlihat ada seorang pemuda sedang membantu nenek nya mengangkat beberapa buah plastik. Karena alika sedikit malu. Ia menunggu sampai pemuda itu pergi. Setelah itu ia membukakan pintu untuk sang nenek.


"Kok lama sekali buka pintu nya." Sang nenek nampak kelelahan saat alika membuka pintu. Sebenarnya alika merasa bersalah tapi, ia terpaksa melakukan nya karena rasa ego alika yang lebih besar daripada nyali nya.


"Maaf ya nek, tadi alika abis dari kamar mandi." Alika berusaha mencari alasan. Sang nenek yang ingin cepat masuk kedalam rumah tidak terlalu memperdulikan alasan yang diberikan oleh cucu nya tersebut.


Beliau dipersilahkan masuk sementara alika yang akan membawa semua plastik yang masih tergeletak dilantai.


"Simpan saja itu didapur. Nanti nenek yang beresin semua nya. Sekarang nenek mau bersih-bersih dulu." Ujar nya.


Alika kembali ketempat semula untuk melanjutkan aktivitas nya. Ia membuka satu persatu plastik yang berisi makanan tersebut. Semua makanan yang diberi oleh bu lyla kelihatan mahal dan lezat-lezat.


Ia tidak tau harus mencicipi nya mulai dari mana. Karena semua makanan yang ada alika suka.


Beliau selalu memberi makanan yang disantap juga oleh nya. Bu lyla baik pada siapapun. Tidak pernah pandang bulu saat ingin menolong orang. Maka tidak heran jika diri nya disenangi oleh penduduk desa disana.


Alika adalah satu orang yang sering ditolong bu lyla. Beliau selalu memberi alika uang, barang, dan makanan. Itu bukan lah upah yang seharus nya diterima alika. Upah dan pemberian dari bu lyla dibedakan.


Bukan hanya itu beliau juga sudah menganggap nya seperti anak sendiri.


"Kenapa nenek lama sekali." Gumam nya saat menyadari sang nenek yang begitu lama ada didalam kamar mandi. Alika pun menyempatkan diri untuk menghampiri nya.

__ADS_1


Alika mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil-manggil nama nya. Namun, tidak ada sahutan dari sang nenek.


Saat alika mulai putus asa. Ia berpikir untuk mendobrak pintu kamar mandi yang terkunci.


Alika ambil ancang-ancang sambil mengumpulkan tenaga. Saat diri nya siap ia langsung menyeruduk pintu kamar mandi yang terbuat kayu itu dengan badan mungil nya.


Brugh!! Akhir nya pintu itu terbuka. Nyata nya tidak sulit membuka paksa sebuah pintu yang terbuat dari kayu tipis ini.


Dengan bercucuran keringat. Alika melangkah kan kaki nya masuk kedalam kamar mandi. Begitu ia sudah ada didalam sana. Alika mendapati sang nenek terduduk lemah dengan mata terpejam.


Spontan ia berteriak. Saat itu alika benar-benar syok. Ia tidak tau harus berbuat apa.


"Nek, nenek kenapa?" Alika pun menangis sesegukan sambil berusaha mengangkat tubuh sang nenek dan membawa kekamar nya.


Begitu sampai dikamar yang ditempati alika. Ia langsung membaringkan tubuh nenek nya perlahan. Kemudian membawa segelas teh hangat dan kayu putih yang ia yakini dapat menyadarkan sang nenek dari pingsan nya.


"Nenek.. pasti kelelahan." Ucap alika seraya mengoleskan kayu putih itu ke dekat hidung nya.


Air mata nya masih menetes di kedua pipi nya. Padahal hari ini sang nenek nampak baik-baik saja. Ia juga tidak mengeluhkan apapun pada nya.


Sepanjang hidup nya nenek tidak pernah pingsan karena kelelahan sehabis bekerja. Pertama kali nya beliau tak sadarkan diri. Entah karena apa beliau jadi seperti ini.


Alika menatap nya dengan penuh kecemasan sambil membayangkan jika ia harus hidup tanpa sang nenek. Di dunia ini orang yang bisa jadi sandaran nya hanya beliau.


Kedua orang tua dan kakak perempuan satu-satu nya sudah lebih dulu pergi meninggalkan nya.


Meskipun masih ada saudara yang lain. Tapi, alika tak berani hidup dengan mereka.


Tak ada tempat yang paling nyaman untuk bersandar selain sang nenek yang sangat baik dan menyayangi diri nya.


Malam itu alika hanya bisa menunggu nenek nya siuman sambil berdoa dan berharap pada Tuhan.

__ADS_1


'Semoga nenek baik-baik saja.' Alika membenamkan wajah nya dikedua lengan nya yang terlipat.


BERSAMBUNG ~~


__ADS_2