
Belum genap setahun pernikahan mereka sudah diuji oleh kehadiran arin. Namun, alika tidak begitu terganggu oleh keadaan. Karena ia akan tetap berusaha menjaga hubungan nya dengan adnan. Ia tak ingin sampai mengecewakan nenek nya.
Kebahagian sang nenek sekarang tergantung pada diri nya. Alika menutup mata nya sambil menghirup nafas dalam-dalam. Ia merasakan udara segar masuk kedalam paru-paru nya.
Sekarang alika sedikit lebih lega karena bisa mengeluarkan beban yang ada dipikiran nya. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Ia menatap lekat-lekat jam dinding yang ada diatas televisi.
"Kenapa kak adnan belum juga datang?" Alika mulai mencemaskan suami nya yang dari tadi sore pamit keluar. Tapi, sampai saat ini tak kunjung tiba juga.
Alika mulai tidak bisa berpikir jernih. Rasa khawatir nya semakin besar. Ia pun memutuskan untuk mencari sang suami.
Sebuah mantel yang ada digantungan baju langsung ia kenakan untuk menghindari angin malam yang sangat dingin diluar.
Alika menyusuri setiap tempat untuk dapat menemukan adnan sambil memanggil-manggil nama nya.
Rasa lelah dan kantuk mulai menghinggapi nya. Namun, ia tak ingin menyerah begitu saja. Ia tetap mencari suami nya sampai ia tiba disuatu tempat yang cukup jauh dari tempat nya menginap.
Ternyata disana ada adnan. Ia nampak sedang duduk sendirian. Entah apa yang tengah dilakukan nya.
"Ku pikir kau tidak akan datang." Dari tempat nya berada alika melihat pemandangan yang mengejutkan. Seorang wanita mendatangi adnan.
Wanita itu adalah arin. Dia duduk disamping adnan seraya meletakkan secangkir teh diatas meja. Tidak seperti biasa nya, Adnan nampak tenang saat diri nya bersama arin.
"Ku pikir calon suami pilihan kedua orang tua ku sangat baik. Tapi, dia begitu angkuh dan tak peduli seberapa aku sakit menahan semua nya. Terlalu banyak aturan yang dia buat. Dia sering kali menyakiti ku dengan kata-kata yang terlontar dari mulut nya. Apalagi saat aku tak bisa memberikan nya seorang anak. Dia mencampakkan ku begitu saja." Ungkapan hati arin memang menyayat hati adnan. Bagaimana bisa mantan kekasih nya tersebut di perlakukan tidak baik oleh suami nya.
"Maafkan aku." Adnan mengepal tangan nya erat-erat. Ia jadi merasa bersalah atas kejadian yang menimpa arin.
'Seandai nya saja saat itu aku segera melamar nya. Tidak peduli dengan restu dari kedua orang tua nya. Mungkin, sekarang arin sudah hidup bahagia bersama ku.' Batin adnan.
"Tidak apa-apa. Mungkin sudah jalan nya begini. Lagipula aku sekarang sudah bahagia. Aku punya pekerjaan dan banyak teman. Dan maaf untuk sikap bodoh ku yang kemarin." Rupa nya arin telah mengiklaskan semua yang terjadi pada diri nya.
Ia ikut bahagia dengan pernikahan adnan juga alika. Pertemuan mereka yang tidak sengaja. Ternyata malah membuat alika salah sangka. Ia langsung beranggapan bahwa suami nya diam-diam merindukan arin.
__ADS_1
Alika menghentikan langkah nya. Lalu, kembali keruangan nya. Dan sepanjang perjalanan ia menangis tanpa mengeluarkan suara.
'Meskipun aku belum mencintai nya. Tapi, kenapa hati ini terasa sakit saat melihat dia bersama kak arin.' Sebelum sampai diruangan nya ia menyeka air mata yang menetes dikedua pipi nya.
Ia juga berusaha bersikap biasa saja saat bu lyla melihat nya yang baru saja tiba di penginapan.
"Alika dari mana saja?" Tanya bu lyla.
"Dari luar bu. Cari angin segar." Jawab alika seraya memaksakan diri nya untuk tersenyum.
"Oiya.. ngomong-ngomong adnan mana ya? Dari tadi ibu tidak melihat nya." Bu lyla melirik kesana kemari untuk keberadaan nya.
Alika tidak ingin memberitahu yang sebenar nya Ia pun mengalihkan perhatian mertua nya tersebut dengan cara mengajak beliau untuk menikmati kue yang ada di meja tamu.
"Kelihatan nya kue itu enak. Aku ingin mencoba nya." Ucap alika. Sebelum bu lyla kembali mengingat adnan ia cepat-cepat duduk dikursi.
"Oh itu.. iya ini kue buatan ibu. Cepat cicipi." Beliau nampak antusias karena kue buatan nya dicicipi oleh menantu kesayangan nya.
Bu lyla sangat pandai membuat olahan makanan. Maka nya tidak heran jika ia yang mengatur semua urusan makanan untuk semua orang.
"Dari mana saja, nak?" Ketika tengah asyik mencicipi kue buatan bu lyla. Tiba-tiba adnan datang.
Ia terlihat tidak bersemangat dan wajah nya nampak lesu. Pikiran alika langsung tertuju pada arin. Pasti sang suami sedang ada masalah dengan nya.
Alika bingung harus berbuat apa. Sementara bu lyla sudah bisa menebak isi hati adnan.
"Memikirkan arin lagi?" Tanya bu lyla tanpa rasa ragu.
Sontak saja alika membelalakan kedua mata nya. Ia tidak menyangka jika beliau akan berkata seperti itu.
"Tidak." Jawab adnan singkat.
__ADS_1
"Kamu bisa membohongi alika tapi tidak dengan ibu." Tegas bu lyla. Beliau seolah tau apa yang dirasakan oleh anak nya.
"Jangan menyebut nama nya lagi dihadapanku!" Ketus adnan. Wajah nya seketika memerah menahan emosi yang nyaris meluap.
Ia benar-benar tidak ingin membahas masa lalu nya dengan sang ibu. Namun, bu lyla terus mendesak adnan untuk mengaku kalau ia tengah memikirkan arin, mantan kekasih nya.
"Katakan saja apa yang kamu rasakan." Bukan nya berhenti sang ibu malah memancing emosi adnan.
"Sudah kubilang aku sedang tidak memikirkan nya!" Tukas adnan.
"Jangan temui dia lagi!" Konflik pun dimulai.
Semenjak saat itu bu lyla tidak bicara dengan adnan. Liburan kali ini diakhiri dengan konflik yang tidak masuk akal. Bu lyla sering diam ketika adnan dan alika berkunjung.
Ia hanya menyambut kedatangan mereka. Setelah itu bu lyla lebih banyak menghabiskan waktu nya sendirian. Beliau masih belum percaya dengan adnan.
"Bu.. kami pamit pulang." Ucap adnan yang tidak direspon oleh sang ibu.
Bu lyla menutup rapat-rapat mulut nya. Ia sudah terlanjur kesal pada adnan.
"Bu.. kami pamit pulang." Alika mengulangi kata-kata suami nya.
Pada menantu nya bu lyla tidak marah. Ia merespon ucapan alika meski hanya dengan anggukan kepala.
Adnan dan alika saling menatap satu sama lain. Mereka paham sekali kekecewaan yang sedang dirasakan oleh beliau. Namun, mereka tidak cukup berdaya untuk membujuk nya.
Jika sudah kecewa dan tidak percaya bu lyla tidak akan menanggapi orang yang sudah membuat nya seperti ini.
'Maaf.. nak, ibu sudah mengetahui pertemuan mu dengan arin beberapa waktu yang lalu. Ibu melihat nya dengan mata kepala ibu sendiri.' Ucap beliau dalam hati. Jadi, tuduhan beliau pada anak nya bukan tanpa bukti.
Beliau tak sengaja melihat adnan diam-diam bertemu dengan arin. Dan ternyata pertemuan itu berlanjut sampai diketahui oleh alika.
__ADS_1
BERSAMBUNG~~