Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Desakan


__ADS_3

"Alika berharap nenek cepat sembuh." Gadis ini memang sangat menyayangi nenek nya. Ia rela melakukan apa saja asal sang nenek selalu bahagia. Alika berjanji pada diri nya sendiri akan terus berusaha untuk melakukan yang terbaik.


Langkah nya masih panjang dan banyak harapan yang ia punya. Kesulitan hidup tak bisa mematahkan semangat nya untuk terus mengejar mimpi nya.


Dulu alika bercita-cita sebagai seorang guru tk. Karena ia sangat menyukai anak kecil. Dan impian nya tetap sama sampai detik ini. Dengan segala upaya disertai do'a alika ingin mewujudkan semua itu agar kelak ia dapat membanggakan sang nenek beserta keluarga nya yang sudah tenang dialam sana.


"Iya, nak." Suara nya sudah terdengar sangat lemah. Alika menatap sang nenek dengan tatapan sendu.


"Nak, jika suatu saat nanti nenek sudah tidak ada didunia ini. Kamu harus segera menikah dengan seorang laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Jangan terlalu keras menjalani kehidupan." Ucap nenek nya.


"Iya nek." Sahut alika.


Ia akan menuruti nasihat sang nenek ketika diri nya sudah berhasil mewujudkan cita-cita nya.


Sudah seharian ia diam dirumah sambil menemani sang nenek. Alika juga memutuskan untuk tidak pergi bekerja dan sekolah. Entah kenapa hari ini ia tidak enak hati jika harus meninggalkan nenek nya sendirian.


Tiba-tiba dada nya terasa sesak. Dan tanpa ia sadari air mata menetes dan membasahi kedua pipi nya. Rasa sakit ini kembali ia rasakan.


Hidup terasa tidak adil dan semua kepahitan ini harus alika rasakan. Namun, ia mencoba untuk tetap berpikir positif pada Tuhan. Ia tidak boleh menyerah sampai semua kebahagiaan itu datang menghampiri nya.


Dan satu-satu nya orang yang membuat diri nya kuat adalah sang nenek. Wanita tangguh yang sangat ia sayangi.


'Aku harap nenek panjang umur. Agar aku bisa membalas semua kebaikan nya.' Batin alika.


***


Sementara itu dirumah bu lyla sedang diadakan acara pengajian rutin yang diselenggarakan seminggu sekali. Sayang nya alika tidak bisa hadir. Namun, bu lyla memaklumi nya karena ia juga tak ingin nek yu ditinggal terus menerus sendirian.


Kali ini ia menyuruh orang lain untuk membantu semua pekerjaan nya.


Bu lyla nampak sibuk menata makanan dan minuman didepan teman-teman beliau yang hadir. Tak lupa sapa dan senyum bu lyla berikan pada mereka.


"Wah, ini anak siapa bu?" Tanya bu lyla saat diri nya menata makanan dihadapan seorang wanita yang umur nya jauh lebih tua dari nya.

__ADS_1


"Ini anak titi bu. Anak saya yang ke dua." Jawab nya sambil mengembangkan senyuman.


"Titi udah punya anak lagi?" Bu lyla ikut senang dengan teman nya yang sudah memiliki cucu lagi. Tapi, jauh dalam lubuk hati nya ia bertanya pada diri nya sendiri. Kapan ia bisa menimang cucu seperti teman nya tersebut?


"Iya, bu." Jawab teman bu lyla.


"Cantik banget." Puji bu lyla seraya mengelus pipi anak itu.


"Oiya, kapan ibu lyla menimang cucu?" Celetuk teman bu lyla yang lain nya. Pertanyaan tersebut memang sedikit menyentil perasaan nya. Tapi, bu lyla tak boleh terlihat tersinggung.


"Do'a kan saja. Mudah-mudahan adnan segera menemukan jodoh nya." Ucap nya sambil terkekeh.


"Aamiin." Teman-teman bu lyla saling bersahutan.


"Ngomong-ngomong ibu nya arin mana ya?" Celetuk bu aini, salah satu teman bu lyla yang terkenal rempong.


"Hm... kata nya sih sebentar lagi bakalan datang sama arin." Jawab yang lain nya.


"Assalamualakum wr.wb. Maaf ya ibu-ibu saya terlambat." Ucap bu ira.


"Iya tidak apa-apa, bu. Silahkan duduk." Jawab bu lyla.


"Eh, neng arin makin cantik saja. Bagaimana kabar nya? Kesini lagi pulang kampung ya? Tidak sama suami nya?" Tanya bu aini tanpa tau apa yang sedang terjadi pada nya.


Bu ira berusaha mengendalikan diri nya. Meskipun saat ini ia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang dilontarkan bu aini.


"Iya bu saya sedang pulang kampung. Kebetulan suami saya sedang sibuk dengan pekerjaan nya. Jadi, dia tidak bisa ikut." Bukan arin nama nya kalau ia tidak bisa menjawab pertanyaan bu aini dengan tenang.


Ibu nya tak menyangka jika arin akan setenang itu. Padahal anak nya tersebut tengah berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Arin memang anak yang baik.


Sedangkan bu lyla yang sudah mengetahui masalah arin hanya bisa mendengar nya dengan perasaan iba.


Bagaimana bisa wanita selemah arin bisa menutupi kesedihan nya.

__ADS_1


Beliau sangat paham sikap mantan kekasih anak nya itu. Dia bukanlah wanita tangguh seperti dugaan orang-orang. Arin hanyalah anak perempuan satu-satu nya bu ira yang terkenal manja dan senang bergantung pada ibu nya.


Meskipun begitu ia adalah anak yang selalu berbakti pada kedua orang tua nya.


Nasib nya dalam pernikahan memang tak seberuntung orang lain.


"Oiya, nak arin sudah isi?" Percakapan berlanjut. Seorang wanita tua bertanya pada nya.


"Belum bu. Doakan saja semoga diberi secepat nya." Sahut arin sambil tersenyum ketir.


Pahit memang tapi arin harus tetap menjawab pertanyaan tersebut. Supaya orang-orang tidak mengetahui masalah yang sebenarnya.


Sedangkan dari jauh bu lyla hanya bisa melihat arin dengan tatapan iba. Karena ia tak ingin ikut campur dengan nya.


Setelah itu acara dimulai dan berakhir sebelum sore hari.


Bu lyla dan anak nya pun membereskan bekas acara tersebut dibantu oleh bu uti. Orang yang menggantikan alika untuk membantu pekerjaan nya hari ini.


"Nak, ibu ingin cepat menimang cucu." Mendadak bu lyla berkata seperti itu.


Adnan tidak begitu peduli dengan ucapan ibu nya. Ia tetap fokus mengangkat sisa makanan dan minuman yang tadi disuguhkan ke para tamu yang datang.


Walaupun bu lyla agak kesal karena diabaikan. Ia terus merajuk pada anak nya.


"Seperti nya suasana rumah ini akan ramai kalau sudah ada cucu. Ibu bisa mengajak nya bermain dan jalan-jalan. Ibu juga akan belikan dia mainan kesukaan nya sebanyak mungkin." Ucap nya nampak menggebu-gebu.


Yang bersangkutan tetap tidak peduli. Bagi nya sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkan sang ibunda tercinta.


Beliau hanya menginginkan adnan menikah dan memiliki seorang anak. Sedangkan diri nya tengah mencoba melewati proses yang sangat sukar untuk dilalui tersebut.


Bukan soal materi tapi ini masalah hati yang sulit melupakan kisah lama nya yang telah usang. Apalagi untuk meminang seorang gadis dan menjadikan nya partner seumur hidup tak semudah membalikan telapak tangan.


BERSAMBUNG~~

__ADS_1


__ADS_2