
'Kenapa ya aku gak suka liat kak adnan akrab sama kak arin?' Batin alika.
Di kamar nya alika terus memikirkan sang suami yang sedang mengenang masa lalu nya dengan arin.
Tawa bahagia menyelimuti mereka berdua. Sementara itu ia hanya bisa diam bersama ibu mertua nya yang tengah ketiduran di kamar nya.
Tau diri adalah kunci untuk mengendalikan perasaan nya , Agar tidak sampai cemburu buta. Karena itu hanya akan mempermalukan diri nya sendiri dihadapan suami dan arin.
"Aduh, kaya nya ibu ketiduran disini." Tiba-tiba bu lyla terbangun dari tidur nya.
"Gak apa-apa, bu. Lanjutin aja."
"Gak, nak. Ibu mau keluar aja." Ucap ibu mertua seraya beranjak dari tempat tidur nya.
Alika tidak bisa melarang keinginan sang ibu mertua. Dia membiarkan beliau keluar untuk bergabung dengan mereka.
Bu lyla duduk di samping adnan. Seperti nya rasa kecewa nya pada arin sudah hilang. Beliau tidak lagi mengungkit keputusan mantan kekasih sang anak.
"Boleh kan ibu bergabung ?"
"Oh boleh bu." Jawab arin dengan menunjukkan perasaan yang teramat sangat bahagia.
Entah apa yang ada di pikiran nya. Sehingga arin kembali merasakan kehangatan dari sosok yang begitu ramah ketika pertama kali, Adnan memperkenalkan diri nya pada sang ibu.
Ia sangat menyesal dengan pilihan nya dulu. Seandai nya waktu bisa di putar lagi. Arin akan menolak perjodohan tersebut.
Sayang, karena nasi sudah menjadi bubur. Dan semua tidak bisa di kembalikan seperti semula. Ia harus bisa menerima konsekuensi yang telah di dapat.
"Gimana kabar ibu mu, rin? Apa dia baik-baik aja?" Tanya bu lyla.
"Baik-baik aja bu."
"Syukurlah. Semoga kamu cepet dapet pengganti yang jauh lebih baik. Lupakan yang udah terjadi. Jangan kamu sesali. Sekarang waktu nya kamu melangkah kedepan. Kamu masih muda rin." Ucap bu lyla yang berusaha menenangkan arin.
"Iya bu. Arin gakkan nginget-nginget lagi masa lalu. Yang berlalu biarlah berlalu." Arin berusaha keras untuk tersenyum.
"Rin, maafin aku." Seketika wajah adnan berubah. Ia juga menyesal karena dulu tidak cepat-cepat melamar nya.
"Udah lah gak usah di pikirin. Lagian kamu udah punya alika dan afnan. Fokus aja." Ucapan arin langsung mengenai hati nya. Adnan seolah di tampar oleh kenyataan hidup.
Mereka pun mengakhiri pembicaraan. Arin memilih untuk meminum kopi yang sudah dingin. Dan adnan pergi dari tempat itu.
Sedangkan bu lyla tetap menemani arin di ruang tengah. Tadi nya wanita itu ke sini untuk menengok alika yang habis lahiran.
Adnan baru menyadari. Jika, sang istri pergi diam-diam dan masuk kedalam kamar nya.
Ia tersenyum geli melihat tingkah laku istri nya. Seperti nya ia marah. Karena sedari tadi hanya memperhatikan nya mengobrol dengan arin.
"Gak usah pura-pura tidur." Ucap sang suami yang melihat istri nya dari pantulan cermin.
Alika tidak merespon. Ia hanya diam sambil memandangi bayi nya yang tertidur pulas.
__ADS_1
"Kaya nya bentar lagi arin mau pulang deh." Ucap adnan.
"hm." Sebuah jawaban singkat yang sukses membuat adnan tertawa.
"Kamu gak suka aku ngobrol sama dia?"
"hm."
Adnan membalikkan badan nya mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Jangan salah paham."
Kini, alika tidak bergeming sedikitpun. Adnan mengira jika sang istri sangat marah pada nya, Sampai malas untuk merespon perkataan nya.
"Kamu beneran marah?"
"Serius kamu marah?"
"Alika?"
Adnan nyaris menyerah yang mencoba membujuk sang istri. Karena gemas ia pun memberanikan diri memeluk alika dari belakang.
"Lepasin.. aku kegerahan." Ketus sang istri.
Adnan terkekeh melihat tingkah laku istri nya. Dia sangat kekanak-kanakkan. Namun, manis.
"Tapi aku kedinginan."
"Gak! Apa kak adnan gak malu di luar masih ada TAMU." Ucap alika dengan sedikit penekanan di ujung kalimat.
Istri nya makin kesal. Ia mengambil selimut yang ada di antara kaki, Untuk menutupi seluruh tubuh nya.Dan alika berusaha menyingkirkan tangan sang suami dari pinggang nya.
'Semarah ini kah dia saat cemburu.' Batin adnan.
Akhir nya adnan menyerah dan kembali ke ruang tengah untuk bergabung lagi dengan ibu nya dan arin.
"Menyebalkan!" Gerutu alika seraya memejamkan mata nya.
Di ruang tengah adnan sudah melihat arin yang berpamitan pada sang ibu.
"Mau pulang sekarang?"
"iya."
"Mau aku antar?"
"Boleh.."
"Aduh sakitt!!" Mendadak alika berteriak dari kesakitan. Sontak saja adnan, arin dan bu lyla menghampiri nya.
Alika memang sengaja melakukan itu, Untuk menggagalkan rencana suami nya. Enak saja mau mengantar arin pulang. Pikir alika.
__ADS_1
"Kamu kenapa, nak?" Bu lyla panik.
Dari balik selimut alika tersenyum licik. Karena rencana nya berhasil.
"Mana yang sakit?" Tanya adnan.
Dengan polos nya alika berkata. "Sudah tidak sakit bu."
Mereka bertiga di buat tertawa. Alika kelihatan sangat konyol. Adnan sudah tau isi hati istri nya. Dan ia memilih untuk tidak mengantar arin.
Arin memaklumi nya. Sebab, ia bukan lagi siapa-siapa adnan. Arin harus menjaga jarak dari nya mulai dari sekarang.
"Arin pamit ya semua."
"Maaf ya rin. Aku gak jadi nganterin kamu." Adnan tidak enak pada arin.
"Gak apa-apa. Jagain alika aja."
"Hati-hati ya rin." Ucap bu lyla begitu arin melangkah kaki nya.
"Iya bu."
Alika memang senang arin pergi. Tapi, ia juga merasa bersalah. Karena mengusir nya secara halus. Alika menatap sang suami dengan perasaan bersalah.
"Jadi, mana yang sakit?" Tanya adnan yang masih penasaran.
"Di sini." Alika menunjuk dada nya.
"Kamu sesak nafas?" Kini, bu lyla yang bertanya.
'Bukan bu. Maksud nya hati ini yang sakit melihat kak adnan asyik ngobrol sama mantan nya, hehe." Ucap alika dalam hati sambil menunjukkan ekspresi wajah yang aneh.
Adnan yang tidak peka dengan situasi. Malah mengambil kayu putih untuk di berikan pada istri nya. Ia mengira alika sesak nafas.
Ia mengoleskan kayu putih tersebut pada pelipis kepala sang istri dan pada hidung nya.
Alika hanya pasrah dengan perlakuan suami nya. Ia tidak ingin mengaku, Takut suami dan ibu mertua nya marah. Karena telah di bohongi.
"Maka nya lain kali jangan mandi terlalu pagi. Jangan minum air dingin juga." Adnan menasehati istri nya.
"Iya kak."
"Bukan nya tadi kamu marah ya ?"
"Hm.. gak."
"Terus tadi kamu kenapa? Tiba-tiba dingin gitu. Kalau suami bicara ya jawab." Sekarang giliran adnan yang emosi pada alika.
"Lagi sariawan kak." Ia mencoba mencari alasan.
"Bohong! Kaya nya kamu gak suka ya aku ngobrol sama arin?" Ucap adnan pada inti nya.
__ADS_1
Alika langsung salah tingkah karena ketauan cemburu.
BERSAMBUNG~~