
"Bu, Seperti nya untuk sementara waktu nenek tidak bisa kerumah ibu." Alika memberitahu kabar mengenai nenek nya sehari setelah kejadian. Sebelum berangkat kesekolah ia mampir sebentar ke rumah bu lyla.
Mendengar hal itu beliau langsung menghujani alika dengan banyak pertanyaan. Karena bu lyla sangat khawatir dengan kondisi nenek nya. Tapi, alika berusaha menenangkan beliau.
Nenek nya hanya butuh istirahat selama seminggu. Meskipun beliau sudah sadar dari pingsan nya. Namun, sang nenek masih belum bisa melakukan aktivitas seperti biasa nya.
"Tidak apa-apa, nak. Ibu bisa mengatur semua nya. Ibu juga mengerti kalau kamu sedang sibuk dengan sekolah mu." Ucap bu lyla.
"Terima kasih banyak bu. Sekarang alika berangkat sekolah dulu." Pamit nya pada beliau.
"Iya nak. Hati-hati ya dijalan."
Gadis manis itu berlalu menuju sekolah nya. Walaupun keadaan nya sedang buruk ia harus tetap menjalankan kewajiban nya sebagai seorang pelajar.
Mungkin untuk mendapat kebahagiaan yang abadi. Ia harus melewati kehidupan seperti ini dulu. Hidup yang tak pernah ia lalui sebelumnya. Meski begitu alika harus tetap bisa bersyukur dan tersenyum.
Saat ditengah perjalanan menuju sekolah ia bertemu dengan sena. Seperti biasa nya sena selalu terlihat bahagia. Terkadang alika iri dengan sahabat nya tersebut. Karena tuhan telah memberikan kehidupan yang sempurna pada sena.
Hal yang dulu sempat ia rasakan. Kini, tinggal memori yang akan terkenang dalam ingatan nya.
"Alikaaaa.." Teriakan cempreng nya mengalahkan tim pemandu sorak. Sena sangat aktif dan energik. Sama seperti diri nya. Oleh karena itu alika nyaman berteman dengan nya.
Mereka berdua jalan beriringan menuju sekolah sambil berbincang-bincang.
Dalam keadaan seperti ini alika harus bisa membiasakan diri untuk menutup rasa sedih dalam hati nya.
Ketika tiba disekolah mereka langsung disambut oleh bel masuk yang berbunyi.
***
Matahari mulai tenggelam. Dan alika masih berada dirumah bu lyla. Tanggung jawab yang tidak boleh ia tinggalkan sepulang sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah nya. Alika harus bekerja.
Masa remaja nya pergi secepat kilatan petir. Belum merasakan jatuh cinta dan menikmati masa muda seperti yang lain nya.
__ADS_1
Ia sudah harus menanggung beban yang berat. Walaupun kesempatan itu ada. Namun, waktu yang dia miliki tidak banyak. Bekerja sekaligus belajar diwaktu yang bersamaan bukanlah hal yang mudah.
Apalagi semenjak nenek nya terbaring lemah. Mau tidak mau alika harus menjalani semua nya sendirian. Kaki terasa berat untuk melanglah. Namun, niat dan tekad nya tidak boleh hilang.
"Bu, adnan pergi dulu ya. Mau ke supermarket yang ada dipertigaan." Suara adnan yang samar-samar terdengar dari ruang tamu membuyarkan lamunan nya.
Saat mendengar suara adnan. Lagi-lagi rasa penasaran itu muncul. Ada dorongan dalam diri nya untuk bisa melihat wajah dari pemilik suara tersebut. Namun, nyali nya tak cukup besar untuk melihat nya.
Selama putra bu lyla ada dirumah. Mereka sama sekali tidak pernah bertemu. Karena alika yang selalu datang kerumah beliau saat sore hari. Dan diwaktu itu adnan tidak pernah kedapur. Kecuali dalam keadaan darurat.
"Bu, alika sudah menyelesaikan semua nya." Alika menghampiri bu lyla yang ada diruang tamu saat adnan sudah pergi.
"Iya nak. Mau pulang sekarang?" Tanya beliau.
"Iya bu, soalnya kasihan nenek dirumah sendirian. Takut nya ada apa-apa." Ucap alika.
"Lebih baik kamu tunggu sebentar. Nanti pulang nya diantar sama adnan." Ujar beliau.
Alika menolak nya dengan halus karena merasa tak nyaman dengan tawaran bu lyla. Meski beliau sedikit memaksa tapi pada akhir nya alika berhasil menolak nya.
Beliau pun mengantarkan alika sampai depan gerbang rumahnya. Tak lupa ia juga memberi banyak makanan dan buah-buahan untuk alika dan nenek nya.
"Alika pulang dulu ya bu."
"Iya hati-hati ya nak."
"Iya bu." Tanpa basa basi lagi alika segera pergi.
Dan disaat yang bersamaan ia berpapasan dengan anak bu lyla yang baru saja pulang dari supermarket. Namun, alika tidak tau jika itu adalah adnan. Karena ia belum mengetahui jelas wajah dari putra bu lyla.
Alika pulang lebih cepat dari dugaan nya. Mungkin karena ia mempercepat langkah nya supaya cepat sampai dirumah nenek nya.
Nafas alika sedikit tersenggal-senggal karena kelelahan. Ia berhenti sejenak didepan pintu untuk mengurangi rasa lelah nya. Tak lama kemudian alika masuk kedalam rumah sambil mengucapkan salam.
__ADS_1
Lalu, ia langsung menghampiri nenek nya. Beliau masih terbaring lemah ditempat tidur. Walaupun begitu nenek nya masih bisa bangun untuk makan dan minum yang sudah disediakan diatas meja kecil samping tempat tidur nya.
"Nek, alika pulang." Seru alika.
Seketika sang nenek membuka mata nya. Rupa nya beliau hanya tidak tidur. Hanya memejamkan mata nya saja.
Melihat itu alika sangat bahagia. Ia segera duduk diujung tempat tidur nya untuk memberikan makanan pada sang nenek.
"Nek, maafin alika. Karena alika harus meninggalkan nenek disini sendirian." Ucap alika yang merasa bersalah.
"Iya nak. Tidak apa-apa." Suara nya terdengar lemah.
"Nek, alika bawa makanan enak lagi pemberian bu lola." Alika menunjukkan kantong plastik hitam pada nenek nya.
"Iya nak."
Wajah keriput dan rambut putih yang nyaris memenuhi seluruh kepala nya. Membuat alika ingin menangis karena itu adalah bukti kasih sayang nenek nya pada anak-anak nya.
Sejak kakek pergi untuk selama nya ia harus berjuang sendirian untuk menghidupi ibu dan adik nya. Beliau tidak ingin kedua anak perempuan nya hidup susah seperti diri nya dulu.
Meskipun nenek alika seorang single parent. Beliau tetap kuat menjalani kehidupan ini. Ia berhasil membuat anak-anak nya hidup bahagia dengan keluarga kecil nya masing-masing.
"Nak, nenek ingin minum." Ucap sang nenek pada alika.
"Baik nek. Alika ambilkan." Alika mengambil segelas air putih lalu memberikan nya pada sang nenek.
"Terima kasih, nak." Ucap nya sambil tersenyum.
Senyuman itu menyiratkan banyak hal. Bisa tanda terima kasih nya pada alika bisa juga perasaan bahagia karena sang cucu mau merawat nya.
Alika menatap nenek nya dengan tatapan sendu. Dalam relung hati nya ia masih merasakan sakit. Karena melihat sang nenek berusaha untuk tersenyum dihadapan nya. Meskipun ia dalam kondisi seperti itu.
'Suatu saat nanti aku akan membahagiakan nya lebih dari ini. Aku tidak akan mengecewakan nya. Aku akan mendapat nilai yang bagus untuk dipersembahkan pada nya.' Ucap alika dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG~~