
Tak terasa hari itu tiba. Dimana tanggal pernikahan adnan dan alika telah ditentukan. Sebentar lagi mereka akan sah menjadi sepasang suami istri. Walaupun tanpa melewati proses perkenalan yang terlalu jauh. Kedua nya mantap untuk menikah.
Terlebih dorongan dari kedua belah pihak juga semakin memperkuat keputusan mereka untuk menempuh hidup baru. Cinta belum tumbuh dalam hati adnan. Namun, itu tak menjadi halangan diri nya untuk meminang seorang gadis yang sebentar lagi lulus dari sekolah menengah atas nya tersebut.
Biarlah orang berkata apa yang penting ia dapat membahagiakan ibu dan keluarga nya.
"Anak ibu tampan sekali.." Bu lyla yang sudah berdandan cantik mendatangi sang anak yang tengah melihat diri nya didalam cermin. Ia nampak begitu gagah dan tampan dengan balutan pakaian tradisional ala adat sunda.
Adnan hanya diam sambil memandangi wajah ibu nya yang terlihat sangat bahagia dari pantulan cermin.
"Tapi, ibu sedih."
"Bu... adnan juga sedih karena ingat bapak. Seandainya bapak masih ada. Pasti beliau lebih bahagia melihat adnan akan menikah dengan gadis pilihan nenek." Adnan yang sedikit bicara mendadak mencurahkan isi hati pada sang ibu.
"Nak... " Bu lyla membalikkan tubuh adnan.
Ia tak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh anak nya tersebut. Bu lyla sontak memeluk sang anak dan menangis dipelukan nya.
Beliau jadi ingat dengan suami tercinta yang telah pergi meninggalkan mereka berdua disaat adnan belum menemukan jodoh nya. Dan sekarang suami nya tak dapat menyaksikan sang anak menikah.
"Bapak mu sudah tenang dialam sana. Semoga amal ibadah nya diterima disisi Tuhan." Ucap bu lyla seraya menangis sesegukan.
"Iya bu. Sebelum menikah kita sudah ziarah kemakam bapak untuk meminta restu nya. Pasti bapak sudah lebih tenang disana. Sekarang usap air mata ibu karena sebentar lagi adnan akan mengucapkan janji suci dihadapan semua orang. Jika ibu tidak bisa berhenti menangis semua orang akan berpikir yang tidak-tidak." Adnan berusaha menenangkan nya.
"Iya nak. Maaf karena ibu cengeng. Sekarang ibu akan menghapus air mata ibu." Beliau segera membenahi diri nya. Karena sebentar lagi adnan akan dipanggil untuk duduk disandingkan dengan calon pengantin wanita, yaitu alika.
***
Sementara itu di ruang make up seorang gadis tengah dipoles wajah nya oleh beberapa orang yang ahli dibidang nya.
__ADS_1
Alika yunira gadis manis itu akan mengubah status nya menjadi seorang istri. Walaupun ia masih terlalu dini memutuskan untuk menikah. Namun, ia percaya takdir nya ini akan membawa nya dan sang nenek menuju kehidupan yang jauh lebih baik.
Ia jadi teringat dengan pesan sang nenek saat mereka berada diklinik. Kurang lebih beliau mengatakan. Jika, dalam waktu dekat ada seorang pria baik hendak meminang nya ia tidak boleh menolak nya.
Benar saja tak lama kemudian nenek adnan datang berniat untuk menjodohkan cucu nya denga alika.
"Kamu beruntung sekali ya.." Ucap salah seorang wanita yang sedang sibuk mengukir henna ditangan alika.
"Iya nih... Neng alika bener-bener beruntung. Padahal dapetin adnan itu susah banget." Timpal yang lainnya dengan menggunakan logat yang dibuat oleh diri nya sendiri.
"Sena.. kamu gak iri sama sahabat kamu?" Kini orang yang diduga saudara sena menggoda nya.
"Iri.. Tapi aku masih ingin mengejar cita-cita ku. Sayang soal nya. Meskipun Kak adnan itu tipe cowok ideal sena Tapi sena tidak benci jika alika yang mendapatkannya." Ucap sena dengan enteng.
Mendengar sahabat nya tersebut alika tersenyum. Meski dalam hati nya ia ingin seperti sena. Tanpa ada rasa beban. Tidak harus ada ditempat nya sekarang dengan gaun dan polesan make up yang akan mengantarkan nya ke pintu gerbang pernikahan.
"Nah, udah selesai. Alika bisa berdiri dulu untuk difoto." Selesai sudah alika di dandani.
Tak terkecuali sena. Ia bahkan menempel terus didekat alika. Karena sena ingin berfoto ria dengan sahabat nya tersebut.
"Sena... sudah ya nak. Sekarang giliran kami yang mengabadikan foto alika." Saudara sena berusaha memisahkan nya dari alika.
"Kak opet jahat!!!" Sena memukul lengan saudara nya yang disebut opet itu. Dan pada akhir nya ia mengalah.
Sebelum dibawa keluar alika difoto terlebih dahulu. Ia menuruti arahan kameramen sehingga hasil nya bagus. Setelah beres ia langsung digandeng oleh sena dan kak sina keluar ruangan untuk disandingkan dengan adnan dimeja akad.
"Kak sina tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini. Tapi, kamu jangan merasa aneh. Karena didesa ini gadis yang masih berusia belasan tahun sudah bisa menikah. Mungkin kalau diperkotaan akan dianggap tabu." Ucap kak sina.
"Iya kak. Mudah-mudahan ini pilihan yang terbaik buat alika." Alika sudah berbesar hati menerima nya.
__ADS_1
"Dulu ibu ku saja menikah saat usianya baru menginjak 15 tahun. Dia menunda kehamilan nya karena ibu ku ingin melanjutkan sekolah nya sampai lulus." Jelas sena. Penjelasan sena cukup membuat nya tenang.
"Hushh sena.." Kak sina mencoba menghentikan perkataan sena.
"Tapi memang fakta nya begitu. Alika yang sedang memakai baju pengantin ini. Tidak seperti alika yang kukenal penuh ambisi dan harapan. Ku pikir suatu saat nanti kita akan berjalan beriringan untuk menggapai mimpi-mimpi kita. Kamu memang pandai membohongi diri mu sendiri." Perkataan sena malah memancing emosi kak sina.
"TIDAK SOPAN BERKATA SEPERTI ITU DIHADAPAN ALIKA!" Kak sina tak sadar membentak adik nya itu.
Sena terkejut karena belum pernah melihat kak sina semarah itu. Ia tak menyadari ucapan nya tersebut akan memantik amarah kak sina.
"Sudah.. jangan ribut. Di hari berbahagia ini seharus nya kita dapat menikmati nya." Alika mencoba menjadi penengah antara kak sina dan sena.
"Maafkan kak sina dan sena ya." Ucap kak sina.
Akhir nya mereka dapat kembali akur seperti semula. Kak sina dan sena pun menggandeng tangan alika untuk dibawa ke sebuah ruangan yang cukup luas.
Namun sebelum disandingkan dengan adnan. Alika menyaksikan lebih dulu upacara adat yang sangat meriah untuk menyambut calon pengantin pria.
Pesta pernikahan ini disiapkan sangat baik oleh bu lyla dan keluarga besar nya. Dekorasi yang mewah dan makanan yang tersedia cukup lengkap.
Alika benar- benar bangga pada bu lyla. Beliau menikahkan anak semata wayang nya sampai mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Semua yang ia dapatkan ini diluar ekspetasi nya.
"Nikahan kak adnan lebih mewah dari kak sina, ya. Aku gak nyangka bu lyla sekaya itu." Ocehan sena menyinggung perasaan kakak nya.
Kak sina mencubit pinggang sena dengan kencang . Kali ini ia tidak bisa menahan kekesalan nya pada sang adik.
"Sakittt kak." Untung sena tidak berteriak. Ia hanya meringis kesakitan disamping alika.
Alika dan kak sina mentertawakan sena yang selalu berkata seenak nya.
__ADS_1
"Rasakan! itu akibat dari ucapan mu yang tidak bisa dijaga." Ketus kak sina.
BERSAMBUNG~~