
Pulang telat dan langsung main hp. Setelah itu mandi juga makan. Begitulah setiap hari nya adnan. Istri nya yang kelelahan mengurus rumah dan anak. Terkadang di abaikan.
Hanya kemarin sore saja dia tampak peduli. Ingin membantu nya mencuci baju yang sudah menggunung. Itu pun malah merepotkan nya. Apa mungkin ada yang tidak alika ketahui dari suami nya?
Alika terus merasa gelisah. Sambil menggendong bayi nya, Ia memperhatikan sang suami yang tengah memainkan ponsel nya.
'Aku sudah capek. Tapi, dia gak peka sama sekali.' Dalam ia menggerutu.
"Oeekkkkk.....!!" Tiba-tiba bayi nya menangis sangat kencang. Dan tubuh nya sudah terasa pegal semua. Namun, ia masih harus menenangkan anak nya.
Sementara adnan malah asyik sendiri. Pura-pura tidak mendengar tangisan afnan.
'Sabar alika...' Alika menghela nafas berat.
"Alika... tolong ambilkan aku minum." Suami nya menyuruh tanpa melihat keadaan.
"Iya, kak." Untung saja saat hendak mengambil air putih, Bayi nya langsung berhenti menangis.
"Terima kasih, ya."
Alika sedikit luluh karena suami nya masih tau berterima kasih pada nya. Ia merasa ada yang tidak beres. Akhir-akhir sang suami agak mencurigakan.
Sepulang bekerja ia selalu memainkan hp. Awal nya alika percaya suami nya kerap kali main game. Lama-lama ia mulai resah, Karena alika tidak begitu yakin dengan nya.
"Hari ini masak apa?" Ia menaruh hp nya di meja.
"Gak sempat masak kak. Soal nya keburu afnan bangun." Sahut alika dengan sedikit rasa takut.
"Oiya udah gak apa-apa." Ucap nya dengan dingin.
Adnan pergi ke dapur tanpa membawa hp nya. Ini kesempatan bagus bagi alika. Ia ingin sekali mengecek apa yang ada di ponsel suami nya tersebut, Sehingga menyita waktu nya.
Namun, belum sempat ia meraih hp itu. Adnan sudah lebih dulu muncul. "Semalam aku letakkan cemilan sisa di dalam kulkas. Tapi, sekarang sudah tidak ada. Apa kau melihat nya?"
Ia terkejut karena kemunculan suami nya. Sontak saja alika langsung memundurkan tubuh nya. Ia menelan saliva nya sambil menatap adnan, Masih dengan penuh kecurigaan.
'Kenapa harus tiba-tiba muncul,sih?!' Pekik nya dalam hati.
"Kenapa gak jawab?" Tanya adnan setengah berteriak.
__ADS_1
"Gak tau, kak. Aku gak makan cemilan sisa nya." Jawab alika.
"Padahal lumayan kan kalau makan cemilan sisa itu, Bisa mengganjal perut ku." Oceh suami nya.
Sang suami kembali main game di ponsel nya. Ia nampak lebih bahagia jika sedang tidak bersama nya. Alika mencoba menarik perhatian nya dengan cara menyalakan tv.
Ia berharap adnan protes. Namun, usaha nya sia-sia. Sebab, suami nya tetap fokus dengan ponsel. Akhir nya alika menyerah. Ia pun lebih memilih untuk menidurkan anak nya.
'Apa mungkin kak adnan udah gak peduli lagi sama kita?' Alika menatap afnan yang tengah tertidur pulas. Pikiran nya sangat tidak kacau. Masalah dengan mantan kekasih nya saja sudah cukup membuat alika merasa terpuruk.
Ia cukup tak tenang. Karena terus di hantui oleh perasaan nya sendiri. Dalam benak nya terlintas bagaimana jika sang suami menyukai seseorang, Selain diri nya.
Pikiran buruk itu terus merasuki hati nya. Sampai alika nyaris hilang kendali.Dan tak terasa air mata nya mulai membasahi kedua pipi nya. Ia menangis dalam diam.
***
Keesokan pagi nya mata alika bengkak, Seperti habis di pukul. Sebelum melakukan aktivitas biasa. Ia membasuh wajah nya, Agar tidak kelihatan habis menangis.
'Aku harus bersikap seperti biasa nya. Tidak boleh kelihatan lemah.' Alika menatapi mata nya yang sembab di cermin.
Perempuan jika sudah di hadapi dengan perasaan nya sendiri, Akan mudah rapuh. Apalagi oleh rasa curiga. Ia akan mencari sampai ke akar-akar nya apa yang membuat nya gundah gulana.
"Alika.. kamu udah siapin baju aku?" Tanya adnan yang baru beres mandi.
"Yang mana?"
"Lagi-lagi kamu teledor. Emang nya kamu gak inget kalau hari ini aku harus pake kemeja hitam?" Ketus nya.
"Oiya, aku baru inget kalau kemeja hitam nya belum di cuci." Alika menepuk jidat nya.
Ia pun beranjak dari westafel, Menuju lantai atas. Untuk mencuci pakaian suami nya.
"Gak usah! Aku udah telat banget." Teriak suami nya dari lantai bawah.
Dep! jantung alika seolah di hantam oleh kata-kata suami nya yang lumayan menyakitkan.
"Harus nya bilang dari tadi. Aku kan jadi gak usah cape-cape naik ke lantai atas." Gumam nya. Alika turun lagi. Untuk melihat anak nya di dalam kamar.
"Aku berangkat dulu ya!" Teriak lagi suami nya.
__ADS_1
"Iya.." Sahut alika.
Bertanya mengenai kondisi nya pun tidak. Apalagi membantu membereskan rumah. Pasti hanya alasan yang akan alika terima.
Pikiran nya semakin sulit di kendalikan. Alika terus berprasangka yang tidak-tidak pada sang suami. Ia sedikit emosi.
Layak nya gadis yang sedang puber. Alika di landa keresahan. Ingin sekali menghubungi suami nya, Untuk bertanya. Tapi, ia takut jadi masalah besar.
"Kalau bukan karena afnan. Mungkin aku udah ngejar kak adnan untuk mengurangi rasa curiga ku." Ucap alika.
Tanpa ia sadari sang suami mendengar ucapan nya. Adnan langsung menduga, Ucapan istri nya tersebut di tujukan untuk diri nya.
Ia tersenyum sambil menggeleng-geleng kan kepala nya. Ternyata selama ini ia di curigai oleh sang istri.
"Gak usah cape-cape ngejar aku. Aku ada disini." Sontak alika membalikkan badan nya, Ketika mendengar suara suami nya.
"Eh, kak adnan. Kenapa balik lagi?" Wajah alika seketika merah padam.
"Terus kenapa kamu harus curiga sama aku?" Adnan mengangkat sebelah alis nya.
"Curiga apa kak?" Istri nya pura-pura amnesia.
Adnan tidak merespon ucapan sang istri. Ia tidak cukup punya banyak waktu, Untuk memulai perdebatan dengan nya.
Ia kembali masuk kedalam rumah, Hanya ingin mengambil barang nya yang ketinggalan.
Sejujur nya alika sangat malu pada suami nya. Mau di kata pengecut juga ia rela. Asal adnan tidak marah pada nya.
"Aku mau balik lagi ke kantor ya." Pamit nya.
"Iya, kak."
Adnan begitu dingin. Suami nya memang sedang buru-buru. Tapi, setidak nya ia melihat afnan lebih dulu.
Kecurigaan alika malah semakin menjadi. Apa mungkin orang itu sudah berhasil merebut sepenuh nya perhatian sang suami.
Saat itu ia sulit untuk berpikir jernih pada suami nya. Gerak-gerik adnan selalu terlihat salah di mata nya.
BERSAMBUNG~~
__ADS_1