
Tidak ada lagi yang perlu adnan dan alika debatkan. Mereka kembali harmonis. Hari demi hari mereka jalani dengan damai. Dan tak terasa kandungan sang istri sudah memasuki usia 9 bulan.
Karena belum merasakan tanda-tanda melahirkan. Alika pun beraktivitas seperti biasa nya. Ia masih kuat untuk menyapu, memasak dan melakukan pekerjaan rumah lain nya.
Namun, disaat diri nya akan mandi. Mendadak ia merasakan perut nya sakit luar biasa. Alika berteriak kesakitan sampai terdengar oleh suami nya.
"Alika.. kau kenapa?" Tanya adnan yang berlari dari dalam kamar.
"Aku sakit perut kak.." Jawab nya sambil menahan rasa sakit.
"Tunggu sebentar! Aku akan kembali." Perintah suami nya.
Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menopang tubuh nya dengan cara menempelkan tangan nya ke tembok, agar ia tidak jatuh kelantai.
Selang beberapa saat kemudian suami nya datang sambil menghubungi salah satu keluarga nya untuk dimintai tolong.
"Sabar ya. Aku sudah menghubungi paman ku. Sebentar lagi beliau akan datang sambil bawa mobil milik keluarga nya." Ucap adnan seraya membopong tubuh sang istri menuju ke sofa.
Tak lupa ia juga mencoba menenangkan istri nya sebisa mungkin. Adnan tak ingin melihat alika terlalu cemas dan kesakitan.
"Kau harus kuat."
"Kak.. ada banyak darah di kaki ku." Rintih alika.
"Aku harus bagaimana?" Suami nya mulai panik.
"Kita tunggu saja paman kak adnan. Aku masih kuat." Ucap alika yang mencoba untuk tidak membuat adnan semakin panik.
"Jika itu yang kau mau. Baiklah."
Tak lama kemudian paman adnan dan keluarga nya yang lain, Termasuk bu lyla. Berbondong-bondong datang dengan heboh nya.
Apalagi bu adnan, Ia adalah orang yang paling panik seantero desa saat mengetahui menantu nya akan melahirkan.
"Dimana alika?!!! Cepat bawa dia ke klinik." Teriakan nya sudah terdengar dari dalam rumah.
"Untung nya mereka datang dengan cepat." Ucap adnan.
"Alika..." Bu lyla beserta keluarga lain nya begitu mencemaskan alika.
"Ayo cepat bawa dia ke klinik terdekat." Mereka semua pun segera membawa alika ke klinik yang paling dekat dengan rumah pasutri itu.
__ADS_1
Sesampai nya diklinik alika langsung ditangani dengan cepat oleh bidan yang sedang bertugas di sana.
Semua kelurga adnan akhir nya bisa bernafas dengan lega, Sekaligus bahagia. Karena sebentar lagi akan ada anggota baru. Bayi mungil yang dapat menghiasi hari-hari bu lyla.
Namun, beliau masih belum bisa tenang. Karena alika dan bayi nya sedang ditangani.
"Do'akan saja yang terbaik untuk mereka berdua, bu." Adnan memegang pundak sang ibu supaya beliau bisa tenang.
"Ibu takut mereka berdua kenapa-kenapa." Ucap bu lyla sambil menatap wajah anak nya.
"Jangan takut,bu."
Lama mereka semua menunggu. Akhir nya, alika berhasil melahirkan putra pertama nya dengan selamat dan sehat.
Bayi itu memiliki berat badan 3,6 kg. Dan memiliki kulit putih persis seperti ibu nya. Bayi tersebut juga sangat tampan sama seperti ayah nya.
"Selamat ya bu. Anak bapak lahir dengan selamat. Sekarang bapak boleh masuk untuk melihat nya." Ucap orang yang bertugas menangani alika.
"Syukurlah." Tak sengaja bu lyla meneteskan air mata nya.
"Apa aku boleh lihat?" Tanya bu lyla lagi.
"Boleh. Tapi, hanya ibu saja yang boleh lihat. Yang lain nya tunggu di luar." Beliau dan orang tersebut pun masuk secara bersamaan.
Karir adnan di kantor nya sedang melejit hanya dalam waktu dekat saja. Maklum, karena dia sudah memiliki pengalaman dibidang pekerjaan nya. Dan kebahagiaan ia bertambah saat hadir buah hati hasil pernikahan nya dengan sang istri.
Namun, di tengah-tengah kebahagiaan yang adnan dan keluarga kecil nya rasakan. Godaan menerpa kehidupan rumah tangga mereka.
Semakin tinggi pohon semakin kencang angin berhembus diatas nya. Begitulah kata pepatah.
Arin kembali berulah. Ia selalu memberikan pesan yang mengancam karir adnan.
Ia seperti sulit menerima kenyataan, Jika mantan kekasih nya tersebut sudah mempunyai kehidupan nya sendiri.
"Kalau begini terus aku bisa resign dari tempat kerja ku sekarang. Gerutu adnan pada difa.
"Jangan gegabah. Fokus saja dengan pekerjaan mu. Arin hanya sedang kesepian. Dia butuh perhatian dari seseorang. Lagipula laki-laki yang sedang dekat dengan nya itu tidak tulus. Dia hanya memanfaatkan posisi arin di sana." Ungkap difa yang baru tau mengenai cerita arin.
"Apa kau yakin dengan ucapan mu itu? dengar dari mana?" Adnan mengerutkan kening nya.
"Dari siapa lagi kau bukan dari sena." Ucap difa dengan santai.
__ADS_1
"Cckk.. dasar gadis cerewet." Celetuk adnan.
"Wkwk.. Sena saja tidak menyukai saudara nya sendiri sejak dia berubah. Apalagi kita." Lanjut difa.
"Hushh... jangan bicara sembarangan!Walau bagaimanapun arin adalah wanita yang sangat baik. Dia seperti itu bukan karena kemauan nya. Tapi, keadaan memaksa nya menjadi seperti itu. Kita do'a kan saja dia supaya lebih baik lagi kedepan nya." Ucap adnan. Masih nampak jelas gurat wajah nya memperlihatkan rasa simpati pada arin.
Meski arin sudah bukan jadi bagian nya lagi. Namun, sebisa mungkin ia tidak akan sampai menaruh dendam terhadap nya.
"Sangat bijaksana tuan muda adnan." Ledek difa.
"Menyebalkan!" Adnan meninju lengan difa yang baru terbentuk otot.
"Sialan!!! Aku baru membentuk otot-otot ini." Ringis difa.
"Cckk... banyak gaya."
Baru memulai babak baru dalam kehidupan rumah tangga saja. Adnan sudah di beri ujian seperti ini. Lumayan menguras energi. Belum lagi setiap malam ia kurang tidur karena bayi nya terus terbangun karena minum susu.
Kebetulan alika belum banyak memproduksi asi. Jadi, bayi nya diberi sufor. Karena sang istri belum sepenuh nya pulih. Yang membuatkan susu formula setiap malam adalah adnan.
Sibuk dengan pekerjaan juga mengurus istri nya yang baru saja melahirkan. Sangat menyenangkan bagi nya.
Terlebih ini adalah anak putra pertama yang diinginkan oleh dan sang ibu.
"Kau harus kuat." Difa mencoba menguatkan sahabat nya tersebut.
"Aku tidak boleh menyerah pada keadaan."
"Keren.. baru kau itu sahabat ku."
"Ngomong-ngomong kapan kau menikah?" Pertanyaan adnan membuat difa merasa tersudutkan. Ia benar-benar malu dengan diri nya sendiri. Sebab, masih bersikap kekanak-kanakkan diusia nya yang sudah memasuki kepala 3.
"Tahun depan." Jawab difa asal.
"Bohong!! Setiap aku tanya kapan menikah. Jawab nya tahun depan. Tapi, sampai sekarang pun masih belum punya pasangan. Cckk... dasar aneh!" Ucapan adnan benar-benar menusuk hati difa.
"Kau pikir mencari jodoh itu semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus kau pertimbangkan. PAHAM?!!!!!!" Oceh difa sambil marah-marah tak jelas.
"Paham sobat."
Difa tidak merespon perkataan adnan. Ia pergi begitu saja dan saat ia akan melangkah. Kaki nya tersandung lalu ia jatuh tengkurap tepat di hadapan seorang gadis cantik yang sedang ingin bertanya alamat rumah seseorang.
__ADS_1
BERSAMBUNG~