Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Ada yang sakit tapi tak berdarah


__ADS_3

POV Adnan


Setibanya direstaurant tempat dimana rekan-rekanku berkumpul. Aku beserta istri dan anakku langsung masuk kedalam. Suasana disana kala itu sangat ramai oleh pengunjung.


Kulihat juga mereka tengah berbincang-bincang sembari menunggu pesanan datang. Aku tersenyum sinis. Seolah puas dengan rencana yang akan aku lakukan.


Lagi dan lagi aku kembali tersadar dengan apa yang tengah ku niatkan. Dari kejauhan aku menatap cukup lama arin. Dari tadi dia belum menyadari keberadaan kami.


"Baguslah." Gumamku yang tak sengaja didengar oleh alika.


"Emang bagus." Sahutnya seraya matanya tak berhenti melihat setiap detail isi restaurant.


Aku menatap aneh alika saat mendengar ucapannya. Ia masih belum menyadari apa yang sedang ku rencanakan. Sebenarnya aku sangat kasihan pada istriku. Tapi, aku jiga tidak ingin melewatkan momen ini.


Ketika rekan-rekan kerjaku sudah kedatangan pesanannya. Mereka segera melahap hidangan tersebut. Sedangkan aku sedang menunggu pesanan.


Saat menunggu mendadak perutku sakit dan izin pada alika untuk ke toilet.


"Jangan lama,ya. Gimana kalau pesanannya datang nanti aku kerepotan menerimanya." Pesan alika.


"Iya aku cuman sebentar."


Tidak ada angin tidak hujan tiba-tiba saja dia menatap tajam padaku. Aku pun tak tau alika bersikap seperti itu.


Meski begitu aku tidak memperdulikannya. Karena sudah sulit menahan keinginanku untuk membuang air besar. Tanpa basa basi lagi dengan alika, aku langsung jalan cepat menuju toilet laki-laki.


"Huh... Sakit sekali!" Aku meringis kesakitan didalam toilet. Entah apa yang aku makan sampai sesakit ini perut.


"Arin baik banget, ya. Sampai mau mentraktir karyawannya direstaurant mahal ini." Mendadak ada suara muncul diluar toilet.


Aku langsung berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dan lanjut menguping dua orang pria yang lagi merumpi itu.


"Btw, kenapa adnan gak mau ikut, ya. Sayang banget." Celetuk salah satu dari keduanya.


"Mungkin dia udah ditunggu sama istri dan anak dirumahnya." Sahut yang lainnya.


"Iya mungkin. Eh... Eh... kalau dipikir-pikir dia itu aneh ya. Masa mau menikah sama gadis yang umurnya terpaut cukup jauh." Percakapan mereka mulai menjalar kemana-mana.


Padahal mereka laki-laki tapi suka sekali membicarakan orang lain. Dasar menyebalkan!


Brut!!! dan lebih sialnya lagi aku kentut cukup besar saat buang air besar hingga terdengar oleh mereka.


"Gede banget buang gasnya, wkwkw." mereka pun terdengar mentertawaiku yang sedang buang air besar didalam sambil mengeluarkan hal yang memalukan.


"duh ada-ada aja sih." Aku berbisik.


Sementara itu dimeja pelanggan istriku menunggu dengan sabar. Sesekali ia juga mengajak afnan bermain.

__ADS_1


Namun, saat asyik mengajak sikecil bermain. Arin menghampirinya secara tiba-tiba.


"Hai alika." Sapa arin dengan ramah.


Sontak ia mendongakkan kepalanya. Lalu, membalas sapaan hangat dari arin.


"Kak, arin? Whoa! Aku gak nyangka kakak bakalan nyamperin kita kesini."


"Iya nih. Kebetulan aku diberi tau sama irene. Katanya tadi gak sengaja dia ngelirik kesini." Jelas arin.


"Oh gitu ya. Yaampun aku seneng banget kita bisa ketemu disini." Alika kegirangan.


"Sama aku juga." Arin tersenyum tipis.


Ia nampak biasa saja saat datang kemeja kami. Karena aku masih ditoilet jadi tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan setelah itu.


Namun, beberapa saat kemudian. Aku keluar dari toilet dan tak sengaja berpapasan dengan arin. Dia terkejut bukan main dan langsung menatap tajam diriku.


Jantungku nyaris copot kala itu. Karena tatapannya sangat menyeramkan. Ia seperti akan menèrkamku.


"rin." aku mencoba menyapanya. Akan tetapi, dia malah melewatiku begitu saja. Sama sekali tidak meresponku.


Jujur saja aku sangat kecewa dan sedih. Tapi, aku tidak boleh bersikap seperti ini. Sebab, semuanya berawal dari tingkah bodohku.


Dengan besar hati aku memutuskan untuk kembali ke mejaku. Disana aku melihat alika sedang kerepotan menerima pesanan kami.


"Terima kasih ya mba" Alika mengucapkannya pada waitress yang mengantarkan makanan kami.


"Kenapa lama banget sih?!" Protes istriku.


Aku jadi merasa bersalah karena terlalu lama buang air besar ditoilet.


"Aku minta maaf."


Selang beberapa saat kemudian. Arin keluar dari toilet. Ia masih belum juga peduli dengan keberadaanku. Arin malah sibuk mengobrol dengan rekan-rekan yang lain sambil tertawa- tawa.


Dia nampak bahagia sedangkan aku disini masih bergumul dengan perasaanku sendiri yang aneh ini.


"Dari tadi aku perhatiin kamu lihatin rekan-rekan kerja." Celetuk alika. Ternyata diam-diam istriku memperhatikan gerak-gerik aku.


"Gak." Aku jadi salting.


"Bohong! Pasti kamu merhatiin kak arin, ya? Jujur aja." Alika yang pertama kali kukenal tidak banyak bicara. Sekarang berani mengangkat suaranya. Bahkan, berani menanyakan hal tersebut.


"Udahlah gak usah dibahas. Mening kita makan aja yuk! Keburu makanannya dingin." Aku mencoba mengalihkan perhatiannya.


"Iya."

__ADS_1


Untungnya alika mau menuruti perkataanku. Kami pun akhirnya menyantap hidangan yang telah tersedia.


Sejujurnya perasaan aneh ini terus bergejolak. Apalagi melihat keceriaan arin. Disisi lain aku sangat bahagia melihat istri dan anakku bisa diajak kesini.


Mereka juga nampak sangat menikmati suasana direstaurant ini. Alika pun terus menerus mengatakan kegembiraannya padaku.


"Haruskah aku menghabisi makananmu?" Alika menggodaku.


"Jangan! Nanti pipi kamu tambah chubby."


"Ih.. Nyebelin banget." Sewotnya.


Aku sungguh menikmati momen ini. Kedua wanita yang paling baik tersebut tengah merasakan kebahagiaannya masing-masing.


"Aku kira kamu mau nerusin kerjaan dirumah. Eh taunya ngajak alika kesini juga." Ditengah-tengah suka cita ini, tanpa diduga muncul spesies aneh.


"Kak irene?" Ucap alika.


"Apaan sih ren ganggu aja!"


"Bolehkan aku gabung disini sebentar?" Manusia pecicilan yang satu itu mulai merusak suasana hatiku.


Aku memberi isyarat pada istriku untuk tidak mengizinkannya bergabung bersama kami. Namun, gagal. Alika sama sekali tidak mengerti apa yang kumaksud. Dengan senang hati ia malah mengajak irene untuk bergabung.


"Boleh, sini-sini."


"Ohoyy gamsahamnida."


Seketika moodku rusak total. Kenapa irene harus datang kesini, sih!


Selama disini aku banyak diam dan hanya mendengarkan obrolan mereka. Dan ada satu percakapan mereka yang membuatku malu dengan diriku sendiri.


"Sebenarnya restaurant ini adalah milik calon suami kak arin yang baru. Jadi, dia sengaja mengajak karyawannya kesini." Celetuk irene dengan suara cemprengnya.


"Masaa?" Alika membelalakan kedua matanya.


"Iya bener. Katanya mereka baru menjalin hubungan sekitar 2 bulan. Tapi, pacarnya kak arin mau melamarnya. Dalam waktu dekat." Jelasnya lagi.


"Aku baru bilang ini kekalian. Belum ada yang tau mengenai gosip terbaru ini." Lanjutnya.


Irene emang sulit dipercaya. Mulutnya sangat ember saat kepercayaannya dipegang oleh seseorang.


"Ren jangan disebarin ke yang lain, ya." Aku mencoba mengingatkannya.


"oke."


Hari ini dadaku terasa sesak. Tapi, bukan karena suatu penyakit. Melainkan karena seseorang yang dulu pernah mengisi kekosonganku dimasa lalu.

__ADS_1


__ADS_2