Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Alika hamil?


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini alika merasakan mual-mual,kepala pusing dan badan lemas. Adnan sempat cemas dan segera menghubungi ibu nya. Bu lyla sangat senang mendengar kabar tersebut. Ia menduga jika alika tengah mengandung.


Hampir setiap hari beliau mengunjungi rumah mereka berdua sambil membawa banyak makanan kesukaan menantu nya itu.


Ia juga selalu memanjakan alika dengan memijat badan nya supaya tidak pegal-pegal. Tak lupa bu lyla memberi segudang nasihat supaya dimasa kehamilan nya alika dapat menjaga kesehatan.


"Jangan makan terlalu banyak. Makan sedikit-dikit tapi sering. Oiya, satu lagi jangan pergi keluar menjelang malam hari. Kalau butuh apa-apa tinggal bilang adnan." Walaupun bu lyla masih marah dengan anak nya. Ia tetap memperlakukan istri adnan itu dengan baik. Terlebih lagi sekarang alika tengah mengalami gejala yang dirasakan oleh orang hamil.


"Iya bu..." Jawab alika dengan wajah kebingungan.


"Mau ibu pijit lagi pundaknya?" Bu lyla menawarkan kembali diri nya untuk memijit pundak alika.


"Tidak bu.. terima kasih."Sebenarnya alika tidak mengerti dengan sikap bu lyla.


"Istirahat yang banyak. Nanti ibu bawakan susu hamil dan vitamin." Ucap nya.


'Susu hamil dan vitamin?' Ucap alika dalam hati. Ia masih belum dapat mencerna semua nya. Sejak alika mengalami gejala ini. Bu lyla berperilaku aneh.


Begitu pun dengan suami nya. Ia jadi jauh lebih peduli dengan kondisi alika. Mereka berdua mengira ia tengah mengandung. Padahal alika sedang menderita penyakit maag akut.


"Bu..?"


"Iya nak?"


Alika memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya pada bu lyla.


"Sebenarnya... hueekkk." Baru sempat mengatakan sepatah kata. Perut alika sudah terasa mual.


Ia segera berlari dan masuk kedalam kamar mandi. Alika pun gagal melancarkan aksi nya. Ia mulai tertekan dengan keadaan. Ingin jujur tapi kondisi tubuh nya tidak bisa diajak kompromi.

__ADS_1


Kini, alika malah mengeluarkan seluruh isi perut nya. Sarapan yang dibuat oleh bu lyla juga ikut terbuang dengan sisa makanan kemarin.


Wajah nya semakin pucat. Alika sudah nampak seperti mayat hidup.


Setelah selesai ia keluar dari kamar mandi sambil jalan sempoyongan. Saat hendak melanjutkan langkah nya alika terkulai lemas dilantai. Sontak saja bu lyla berteriak sambil menolong nya.


Dan teriakan nya sampai terdengar oleh adnan yang tengah memberi makan ikan dikolam halaman belakang.


Ia diam sejenak untuk memastikan diri nya tidak salah dengar. Tak lama kemudian adnan bergegas pergi kearah sumber suara.


"Ada apa dengan alika, bu? Kenapa dia bisa seperti ini?" Tanya adnan pada ibu nya yang tengah mencoba membopong tubuh alika.


"Kebetulan kamu datang. Ayo! bantu ibu angkat alika kekamar. Saat keluar dari kamar mandi alika pingsan." Ucap bu lyla seraya mengaitkan tangan alika kepundak nya.


"Sini! Biar adnan saja yang angkat." Akhir nya adnan mengambil alih badan alika. Ia memangku nya ala bridal dengan tangan kosong.


"Untung saja! kamu mendengar teriakan ibu." Celetuk bu lyla yang sebenar nya masih marah pada sang anak.


"Hamil muda memang rawan pingsan dan mual muntah. Jadi, ibu minta kamu harus bisa setiap saat memantau kondisi nya." Jelas nya.


"Setelah itu apa yang harus aku lakukan?" Tanya adnan yang tidak terlalu paham mengenai masalah kehamilan.


"Kamu harus bisa menjaga mood nya. Orang hamil sangat sensitif. Dia rentan marah jika ada yang mengusik nya." Bu lyla menjelaskan pengalaman nya dulu.


"Oh begitu ya."


"Iya, nak. Dulu saat ibu mengandung mu selama 9 bulan. Ibu sangat cerewet dan manja sama Alm. bapak. Ibu minta semua yang ibu inginkan. Dan Alm. bapak mu selalu menuruti keinginan ibu." Bu lyla kembali mengenang masa-masa ketika ia tengah hamil oleh adnan.


"Terima kasih, bu." Ucap adnan.

__ADS_1


"Iya, nak."


Adnan sangat bangga pada sang ibu yang sudah kuat menjaga nya hingga menjadi manusia yang bermanfaat untuk semua orang.


Dan selama ini ia telah berbakti pada sang ibu. Dan kini tugas nya bertambah yaitu menjaga dan melindungi istri nya. Apalagi tugas adnan sekarang bisa dibilang satu tahap lebih sulit.


Karena alika sedang mengalami gejala yang dialami oleh orang hamil pada umum nya. Adnan jadi harus ekstra hati-hati dalam bersikap.


"Bu, wajah alika pucat sekali."


"Iya, nak. Coba ambilkan kayu putih dan buatkan secangkir teh hangat." Titah bu lyla.


"Iya bu." Adnan pun pergi untuk melaksanakan perintah bu lyla.


Meski ia tidak ingat kapan mereka melakukan nya. Adnan sangat bahagia karena istri nya menunjukkan tanda-tanda kehamilan.


Hal yang ditunggu-tunggu selama ini oleh ibu nya terwujud juga. Walaupun perjanjian mereka yang sebelum nya dilanggar. Tapi, jika Tuhan sudah lebih dulu memberi rejeki tersebut tidak akan adnan tolak.


"Maafkan aku alika jadi menyulitkanmu. Perjanjian kita diawal sudah dilanggar. Aku harap kamu mengerti." Gumam adnan seraya mengaduk teh yang hendak disajikan untuk istri nya.


Beberapa saat kemudian adnan selesai menyiapkan semua nya. Ia segera kekamar untuk memberikan kayu putih dan teh hangat pada alika yang masih belum sadarkan diri.


"Nak, kamu terlihat sangat bahagia." Ucap bu lyla.


"Iya bu. Ini yang kita inginkan selama ini. Maaf baru bisa memberi seorang cucu pada ibu." Adnan mengungkapkan rasa bersalah nya pada sang ibu.


"Iya nak ibu paham. Karena jodoh, rejeki dan maut itu semua Tuhan yang mengatur. Kita sebagai umat manusia tidak punya kendali atas semua itu." Bu lyla memegang pundak anak nya seraya mengusap lembut puncak kepala adnan.


"Dimana ini?" Disaat yang bersamaan alika mendadak siuman.

__ADS_1


Spontan saja adnan dan bu lyla langsung mendekati nya.


BERSAMBUNG~~


__ADS_2