
"kenapa sih kamu cemberut begitu?bukannya kalau udah nikah enak ya?apa-apa ada yang nanggung." Celetukan sena, sahabatnya membuat alika tercengang.
Mungkin dalam bayangan sena menikah adalah suatu hal yang sangat indah untuk dilalui. Namun, baginya menikah merupakan amanah terberat dan tersulit. Terutama ia menikah diusia yang terbilang masih sangat muda.
Dimana mimpi dan harapannya harus dikubur dalam-dalam demi mewujudkan keinginan neneknya.
"Aku cuman lagi bete aja sama kak adnan. Soalnya dia dingin banget. Sebenarnya aku gak terlalu suka sama cowok yang cuek dan dingin. Kadang ngebuat aku jadi salah paham terus." Gerutu alika.
"Hmm... Gitu, ya? Yaudahlah terima saja sikapnya itu. Dia emang begitu. Sama siapa aja dingin. Kak arin aja sering mengeluhkan sikapnya padaku." Timpal sena seraya menyeruput segelas minuman berwarna warni, yang dibelinya sebelum bertemu alika.
"Aku cuman ingin dia lebih merhatiin aku. Gak lebih." Alika menundukkan kepalanya seolah sedang dilanda kegelisahan.
Sena terdiam sejenak. Dia pikir tidak perlu merespon ucapannya. Masalah sepele seperti ini tak seharusnya ia tanggapi dengan serius.
Sena pikir ketika sudah berumah tangga, persoalan kecil gak mesti diributkan. Sebab, ia sudah sangat paham dengan tabiat asli adnan.
__ADS_1
"Oiya, kemarin malam kak adnan asyik sendiri sama ponselnya. Aku pikir dia sedang bertukar pesan dengan seseorang. Soalnya dia kepergok lagi senyum-senyum sendiri." Tiba-tiba saja ucapan tersebut membuat sena mematung.
Ia bingung harus menanggapinya dengan cara apa? Sementara sena sama sekali ingin berhenti membahas saudaranya itu.
"fiuh.. Aku lelah terus menerka-nerka dirinya." Alika menghembuskan nafasnya dengan kasar.
'lagipula siapa yang menyuruhmu menebak-nebak isi hati dan pikiran kak adnan. Sudah tau dia sulit ditebak. Kamu masih aja nekad mengetahui apa yang ada didalam dirinya.' ucap sena dalam hati.
"Apa mungkin dia terpaksa menikahi aku?"
Bagai disambar petir disiang bolong, itulah yang dirasakan oleh sena saat ini. Pertanyaan sahabatnya tersebut telah membuatnya terluka.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh." Tegur sena.
"Hm.. bagaimana bisa aku berpikir jernih disaat kak adnan selalu menunjukkan sikap yang membuatku khawatir." Celoteh alika. Tanpa ia sadari ia meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Kenapa harus menangis segala. Kamu kan udah jadi ibu-ibu. Ayolah kamu harus bisa tenang dan berpikir positif disegala situasi." Sena berusaha menenangkannya.
Alika terus menangis meski sahabatnya berusaha keras untuk menghibur dan menenangkannya. Diwaktu yang bersamaan ia juga melihat sang suami sedang melintas dihadapannya mereka berdua.
"Eh, itu kak adnan lagi bonceng siapa ya?" Teriak sena.
Hal itu justru malah membuat alika marah. Ia tidak menyangka suaminya berani jalan dengan orang lain. Sementara itu ia dibuat kewalahan mengurus anak sendirian dirumahnya.
"Kali ini tidak bisa dimaafkan." Itulah kata-kata terakhir yang terdengar oleh sena, sebelum alika pergi mencari tau mengenai suaminya.
"Dasar kekanak-kanakkan!" Sewot sena.
Semenjak ia melihat suaminya bertingkah laku mencurigakan dan memergokinya membonceng seorang wanita. Alika jadi berubah posesif. Ia selalu menyuruh sang suami pulang lebih awal dan sering marah-marah tidak jelas.
Bahkan, ia juga sering diam-diam menangis sendirian sambil makan didapur. Pokoknya ia merasa adnan tengah berpaling pada orang lain.
__ADS_1