Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Pembelaan


__ADS_3

Pernyataan mantan kekasih nya itu membuat adnan meradang. Rahang nya mengeras dan nafas nya tersenggal-senggal, Karena mendengar diri nya dan sang istri dijelek-jelekan, Jelas saja ia tidak terima.


Rasa sakit yang pernah ia alami, Membuat nya mencari pelampiasan.


Memang bukan hal yang mudah melupakan kenangan dimasa lalu. Apalagi itu menyangkut kegagalan dalam pernikahan. Saat arin berharap dapat kembali mengambil hati adnan, Ia tidak menanggapi nya.


"Wanita itu cantik sekali. Sayang nya dia sudah pernah menikah. Dan pernikahan nya gagal. Tapi, sekarang dia telah mendapatkan pria yang jauh lebih tampan dari mantan suami nya dulu." Seorang wanita paruh baya tiba-tiba muncul dari samping adnan. Ia mengenakan baju petugas kebersihan.


"Kurasa aku telah salah menilai nya. Aku pikir memiliki fisik yang sempurna akan memiliki takdir yang sempurna juga." Celetuk adnan.


Wanita separuh baya tersebut menatap nya dengan tatapan heran. "Siapa yang kau maksud?"


"Wanita muda yang baru saja kau bicarakan." Ucap adnan.


"Ngomong-ngomong apa kau sudah memiliki seorang kekasih?" Dia banyak bertanya, Hingga membuat adnan sakit kepala.

__ADS_1


"Aku sudah menikah."


"Sayang sekali. Padahal aku punya anak gadis cantik sekali. Masih muda dan tentu nya masih perawan." Ucap nya dengan nada menggoda.


"Aku sudah menikah,bu." Adnan membungkukkan badan nya, Setelah itu segera pergi.


"Pasti dia pura-pura belum menikah." Oceh nya tak jelas.


Adnan melarikan diri dari wanita separuh baya itu Bukan nya ia tidak suka. Tapi, adnan harus cepat-cepat masuk keruang wawancara. Sebelum ia terlambat.


"Jika kau diterima.. Apa yang ingin kau berikan pada perusahaan kecil ini?" Arin datang dari arah yang tak diduga-duga.


Lagi, Pria yang kini sudah tak bersama nya lagi dibuat meradang oleh pertanyaan arin.


Sosok wanita lemah lembut itu, Sekarang sudah berubah menjadi sedikit sinis. Semenjak ia kenal dengan pria yang tengah berada dibelakang nya.

__ADS_1


Arin berubah 180 derajat. adnan tidak lagi menemukan sosok wanita yang selalu membuat nya semakin sayang saat dipandang.


"Kau banyak berubah. Kurasa kekasih mu banyak merubah penampilan dan perilaku mu." Ungkap adnan.


"Hmm... aku hanya butuh bahu untuk bersandar. Dan pelukan untuk menghangatkan hati ku yang sempat membeku." Tukas arin. Wajah nya memerah dan sorot mata nya menatap tajam pada adnan.


"Aku ikut senang. Maaf, jika dulu kau tak sebaik ini dalam berpenampilan." Ucap adnan dengan hati-hati, Berusaha menghindari perdebatan.


"Karena dulu aku masih naif. Aku hanya mementingkan kebahagiaan orang lain, Termasuk kedua orang tua ku." Tergambar jelas diwajah arin. Kalau diri nya sangat kecewa dengan semua yang menimpa diri nya.


"Cckk... kau tidak merasakan bagaimana aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk membuat mu bahagia. Bahkan, dihidup ku hanya kau seorang yang aku lihat. Tapi, setelah itu ? Kau membalas nya dengan menikah dengan pria yang jelas-jelas baru kau kenal 1 minggu." Adnan mengatur nafas nya supaya emosi nya tak meluap-luap.


"Aku..." Arin tak mampu lagi berkata-kata,Setelah mendengar ucapan mantan kekasih nya tersebut. Dengan hati dongkol arin berlalu meninggalkan adnan yang hendak mencari tempat duduk.


BERSAMBUNG~~

__ADS_1


__ADS_2