Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Merenung


__ADS_3

Ujian kelulusan semakin mendekat. Alika mulai sibuk mempersiapkan semua nya. Belum lagi pengobatan sang nenek yang terus berjalan. Biaya, waktu dan tenaga telah banyak alika habiskan. Ujian hidup kali ini benar-benar terasa. Sulit untuk mengungkapkan nya lewat kata-kata.


Ia hanya bisa menangis dalam setiap do'a yang selalu dipanjatkan kepada Tuhan. Menangis untuk meringankan sedikit beban yang sedang ia pikul.


Alika tak kan pernah berhenti berharap dan akan terus berusaha sampai kebahagiaan itu datang. Kehidupan yang lebih baik serta cita-cita yang tercapai.


''Alika, kamu sudah makan?'' Seorang gadis cantik menghampiri alika yang sedang mengerjakan tugas sekolah nya.


''Hmm.. belum.'' Ia menggelengkan kepala nya.


''Ini.'' Dia memberikan sebungkus nasi dan satu cup es teh pada nya.


''Terima kasih, sena.'' Ucap alika.


Tadi nya ia ingin menyelesaikan tugas sekolah nya. Namun, karena ia sudah lebih dulu tergiur oleh makanan pemberian sahabat nya tersebut. Alika jadi mengurungkan niat.


''Keburu dingin.'' Sena membuka yang sudah dibeli nya itu.


Ia selalu terlihat bahagia. Alika iri dengan hidup sena. Keluarga yang lengkap dan hal lain nya. Sena juga memiliki kepribadian yang baik. Yah! meskipun pada awalnya ia mau berteman dengan nya karena hanya ingin memanfaatkan kepintaran alika saja.


Tapi, seiring berjalan nya waktu sena tulus berteman dengan alika.


''Makanan nya enak sekali!'' Seru alika. Ia makan dengan lahap sampai tersedak.


"Uhuk uhuk uhuk..'' Alika mencoba memukul pelan dada nya.


''Maka nya jangan terburu-buru." Sena tertawa melihat tingkah alika.


"Uhuk... uhukk.. air." Ia meminta tolong pada sena untuk dibukakan teh yang masih tertutup.


"Iya.... sebentar ya." Sena membuka teh itu. Lalu, memberikan nya pada alika.


Alika langsung meminum nya tanpa henti. Ia seperti orang yang tak pernah minum selama sebulan penuh.

__ADS_1


"Ah... segar nya." Sekarang tenggorokkan nya terasa ringan.


Alika dan sena lanjut melahap makanan yang ada dihadapan nya sambil bercengkrama membahas mengenai ujian kelulusan yang beberapa bulan lagi di selenggarakan.


Mereka juga berencana pergi liburan bersama keluarga besar sena. Tak lupa mengajak sang nenek. Dan alika berharap beliau sembuh secepat nya.


Sena juga menceritakan diri nya yang ingin melanjutkan studi nya di kota. Ia akan kuliah disalah satu kampus favorit. Mendengar hal itu alika sedih. Karena ia tak seberuntung sahabat nya tersebut.


Sedangkan ia harus mencari pekerjaan yang cocok setelah lulus sekolah. Alika memutuskan untuk berhenti bekerja dirumah bu lyla karena beberapa alasan. Ia tidak mungkin selama nya ada disana. Demi masa depan dan kehidupan nya.


"Takdir manusia tidak ada yang tau. Tapi, kita harus tetap berusaha demi masa depan yang lebih baik. Keputusan ku untuk berhenti bekerja dirumah bu lyla setelah lulus sudah bulat. Aku harus mencari pekerjaan yang sesuai dengan ijazah yang nanti kupunya. Sayang jika hanya bekerja sebagai ART." Ungkap alika dengan penuh keyakinan.


"Aku mengerti." Balas sena singkat.


"Aku yakin aku pasti bisa. Setelah mendapat pekerjaan yang bagus aku akan melanjutkan studi ku dan berusaha sekuat tenaga mewujudkan cita-cita ku sejak kecil." Mata alika nampak berbinar-binar. Semangat yang ada dalam diri nya ikut menggebu-gebu. Ia sudah membayangkan bagaimana rencana itu akan tercapai.


Sena sangat senang melihat sahabat nya tidak pernah putus harapan dan selalu bahagia menjalani kehidupan nya yang terbilang berat itu.


Karena ia sendiripun tak kan sanggup jika ada diposisi alika. Di kurangi uang jajan saja pun sena marah nya bukan main. Ia akan mengurung diri dikamar nya dan mogok makan.


"Sena memang cantik." Alika memuji balik sena.


Setelah selesai mengerjakan tugas sekolah nya. Alika langsung pulang kerumah. Ia juga meminta izin pada sena untuk tidak mampir kerumah nya. Karena hari ini ia harus membawa sang nenek keklinik untuk rawat jalan.


Setiba nya dirumah ia segera nenek nya ke klinik terdekat. Seperti biasa nya beliau diperiksa oleh salah satu dokter yang berjaga saat itu.


Untuk mengurangi kekhawatiran nya alika lebih memilih rawat jalan. Supaya kondisi nenek nya dapat terpantau dengan baik.


Ia hanya tak ingin beliau menahan rasa sakit nya sendirian tanpa ditindak lanjuti. Alika juga tak ingin kehilangan orang yang disayangi untuk yang kesekian kali nya.


'Jangan sampai kebodohan ku terulang lagi.' Batin alika. Tanpa ia sadari air mata nya mulai membendung dan hampir terjatuh. Namun, alika berusaha menahan nya.


"Nak." Lirih sang nenek.

__ADS_1


Seketika alika bangun dari tempat duduk nya. Ia melihat sang nenek sudah menatap diri nya seolah ada sesuatu yang ingin beliau sampaikan.


"Iya nek." Jawab alika seraya menghampiri beliau denga langkah yang sedikit terseok-seok.


"Duduk nak." Titah sang nenek.


Alika pun duduk disamping nenek nya yang sedang terbaring lemah diatas kasur pasien.


"Nak.. jaga dirimu baik-baik ya. Belajar yang giat lalu wujudkan cita-citamu. Nenek akan selalu mendukungmu sepenuh hati. Jika, dalam waktu dekat kamu menemukan pria yang baik dan berniat meminang mu. Jangan kamu tolak. Ingat! pesan nenek ini." Mendengar nya bak disambar petir disiang bolong. Badan alika seketika lemas dan pikiran nya pun langsung berkelana kemana-mana.


Perasaan nya kembali terguncang. Kenapa nenek nya berkata seperti itu? Alika masih percaya jika beliau akan sembuh dan ia tak kan kehilangan sosk nya yang kuat.


"Nek.. jangan berkata seperti itu." Ucap alika sambil memegang tangan nya yang sudah lemah.


Nenek nya hanya memberikan senyuman pada alika. Senyuman yang tak biasa ia lihat. Tak tau pertanda apa itu.


Yang jelas alika belum bisa memahami maksud dari perkataan nenek nya tersebut. Sebisa mungkin ia hanya ingin menyemangati dan menghibur nya.


Siapa lagi jika bukan diri nya? Kini, alika bertanggung jawa atas kehidupan sang nenek.


"Nak..." Sang nenek meraih tangan alika. Lalu, menyatukan jari nya dengan jari alika.


"Iya nek?" Alika mencoba untuk tegar dihadapan nya.


"Adnan..." Beliau menggantung perkataannya.


"Iya nek?" Sahut alika.


"Den adnan belum juga menemukan jodoh nya. Nenek jadi khawatir." Ucap nenek nya. Entah apa yang ada dipikiran beliau hingga mencemaskan adnan.


"Iya nek alika tau."


"Kamu tertarik tidak dengan nya?" Pertanyaan nenek nya membuat jantung alika berdegup dengaan kencang. Lagi-lagi ia merasakan hal yang tidak wajar.

__ADS_1


Wajah alika memerah. Ia nampak tersipu malu. Padahal sang nenek hanya menanyakan sesuatu yang bisa dijawab dengan cepat dan singkat. Tapi, bagi nya pertanyaan itu bukan lah sembarang pertanyaan.


BERSAMBUNG~~


__ADS_2