
Lagi - lagi cerita bu lyla melintas diingatan alika. Sekarang ia tau bagaimana anak nya tersebut bisa menjomblo sampai diusia yang cukup matang. Tapi, kenapa tiba-tiba ia tertarik dengan sosok nya? Semakin tidak dipedulikan semakin menempel dipikiran.
Semenarik itukah adnan dimata seorang gadis yang belum sama sekali mengenal cinta?
Malam pun tiba namun, alika masih ada dirumah bu lola dengan pekerjaan nya yang belum juga selesai. Hari ini banyak sekali tugas yang harus dikerjaan. Dan kebetulan bu lola dan adnan pergi ke luar seharian. Jadi, ia mengerjakan semua nya sendirian.
Rasa lelah mulai datang. Alika pun memutuskan untuk istirahata sejenak sambil menyeduh segelas teh hangat dan makan sepotong roti cokelat yang tersisa diatas meja makan.
Untuk mengusir rasa sepi ia menyalakan televisi yang tersedia di dapur. Ia menonton berita pekan ini.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan. Bu lyla dan anak nya belum juga pulang. Meskipun begitu alika tidak bisa pergi begitu saja. Karena tak ada seorang pun dirumah ini.
Sebuah ketukan pintu terdengar saat alika hendak menyeruput segelas teh hangat. Ia segera bergegas untuk membuka pintu.
"Aduh capek sekali.." Ketika pintu dibuka ia mendapati bu lyla dan anak nya nampak kelelahan. Sepertinya mereka baru saja pergi dari supermarket karena bu lyla dan adnan membawa dua kantong kresek besar.
"Sini saya bantu,bu." Alika menawarkan diri.
"Terima kasih, nak." Beliau memberikan dua kantong plastik itu pada nya.
Meskipun ia malu karena adnan disana. Alika berusaha menutupi sikap nya tersebut. Ia mencoba setenang mungkin.
Sedangkan adnan dengan sikap dingin nya tidak terlalu peduli dengan kehadiran alika. Ia masuk begitu saja kedalam rumah mengekor dibelakang sang ibu tanpa melirik sedikitpun pada nya.
Entah kenapa setiap kali adnan menunjukkan sikap seperti itu. Alika merasa sedikit kesal.
"Bu, adnan simpan belanjaan nya di sini." Ia meletakkan barang bawaan nya di samping lemari es.
"Iya, nak. Kamu boleh istirahat sekarang." Ucap bu lyla. Kemudian adnan pergi ke kamar nya.
"Bu, kalau ini diletakkan dimana?" Alika yang baru tiba langsung bertanya.
"Disini saja." Bu lyla menunjuk ke atas meja makan.
"Oiya, bu."
Tidak biasa nya beliau belanja sebanyak ini. Apa mungkin bu lyla ingin menggelar sebuah acara dirumah nya ?
__ADS_1
Alika penasaran namun tidak berani bertanya pada bu lyla karena ia tau itu hanya akan membuat nya malu. Tanpa banyak bicara alika segera menata barang belanjaan tersebut supaya tidak bercecer dimana-mana.
"Hari ini ibu bertemu dengan arin." Bu lyla menghela nafas berat saat menyebut nama itu. Nama yang terdengar cantik secantik orang nya. Tapi, tidak dengan kisah hidup nya.
Jujur saja alika tidak begitu senang saat mendengar nama tersebut. Meskipun kisah mereka sudah terkubur lama. Dan tidak mungkin terulang lagi.
Ia pun tidak mengerti kenapa perasaan nya jadi tak karuan seperti ini.
Rasa penasaran nya malah berubah menjadi ketertarikan pada sosok adnan yang super cuek dan dingin.
"Dia semakin cantik dan baik. Tiap kali bertemu dengan nak arin ibu sakit hati dan kecewa. Tapi disisi lain ibu juga senang." Ungkap bu lyla.
Alika hanya terdiam mendengar nya. Dia benar-benar tidak tau harus berkata apa. Jika dia menyahut akan terlihat tidak sopan.
Jadi ia mencoba untuk menjadi pendengar yang baik untuk bu lyla. Beliau memang tipe orang yang senang bercerita. Bu lyla akan mengungkapkan seluruh isi hati nya jika sedang dalam keadaan buruk.
Tak sadar ia sudah bercerita selama itu sampai membuat alika sedikit mengantuk.
"Nak, kamu sudah mengantuk?" Bu lyla mulai peka dengan nya.
"Hm.. iya bu. maaf." Ucap alika.
Tangan alika meraih gelas yang berisi teh hangat dan potongan roti yang belum sempat dimakan. Lalu, menyimpan nya di westafel. Ia membasuh gelals tersebut dan membungkus roti nya untuk dibawa pulang.
Melihat hal itu bu lyla langsung melarang nya dan memberikan makanan yang baru saja beliau beli. Sebungkus kue dan sekotak teh. Alika menerima nya dengan senang hati.
"Terima kasih, bu lyla." Ucap alika.
"Iya,nak." Sahut bu lyla.
"Sebentar nak. Jangan dulu pulang." Mendadak beliau menahan alika untuk pergi.
"Iya kenapa bu?" Tanya nya dengan kebingungan.
"Ibu panggil adnan dulu, ya." Beliau pun tiba-tiba pergi menuju kamar adnan yang ada dilantai atas.
Tak lama kemudian bu lyla dan adnan turun. Alika paham maksud nya. Pasti beliau ingin anak nya itu mengantar alika pulang.
__ADS_1
"Nak.. pulang nya diantar sama adnan, ya." Ucap bu lyla. Dugaan nya ternyata benar.
"Hmm... tapi_" Alika menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal tersebut.
"Pokoknya adnan antar kamu pulang. Titik." Tawaran bu lyla kali ini tak bisa alika tolak. Karena beliau sedikit memaksa.
"Iya bu." Jawab alika dengan canggung.
"Yaudah bu, adnan antar alika pulang dulu." Ucap adnan to the point.
Mereka berdua langsung berpamitan pada bu lyla. Setelah itu bergegas menuju halaman depan. Dimana ada motor adnan yang sudah terparkir di sana.
Sebelum berangkat adnan memberikan helm pada nya. Dibalik sikap nya yang dingin ternyata masih tersisa rasa peduli terhadap sesama manusia.
Alika memang belum terbiasa dengan laki-laki seperti adnan. Namun, ia yang tidak banyak basa-basi sudah menarik perhatian nya.
"Sudah siap?" Tanya adnan saat ia mulai menyalakan mesin motor nya yang terlihat baru tersebut.
"ehh.. iya." Jawab alika gelagapan. Setelah semua nya selesai alika cepat naik keatas motor adnan saambil menjinjing kantong plastik berisi makanan.
Adnan pun melajukan motornya ditengah dingin nya udara malam itu. Keadaan jalanan lumayan lengang. Hanya satu dua motor yang terlihat berlalu lalang.
Nafas alika sedikit memburu karena laki-laki yang sukses membuat diri nya selalu merasa kikuk dan gugup kini sedang berada didekat nya.
Laki-laki dengan cerita masa lalu nya yang pilu. Ditinggalkan sang mantan kekasih karena tidak mendapat restu dari kedua orang wanita itu. dia sangat hebat dan tegar.
Meskipun hati nya terluka. Tapi, ia masih bisa berdiri tegap dan menjalani kehidupan nya dengan baik.
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan diantara mereka berdua. Sampai akhir nya mereka tiba dirumah nenek alika.
"Terima kasih,kak." Ucap alika seraya memberikan helm pada adnan.
Adnan hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Lalu, berpamitan pada alika.
Alika menunggu nya hingga ia pergi. Kemudian masuk kedalam rumah dengan keadaan lelah.
"Oiya, aku baru ingat. Bukan nya dia laki-laki yang pernah menolong ku saat itu." Ia baru teringat kejadian saat diri nya hampir terjatuh.
__ADS_1
BERSAMBUNG~~