
Kesempatan terbuka lebar untuk adnan. Ia tidak harus capek-capek mencari pekerjaan, Karena arin bersedia menerima nya sebagai pegawai. Namun, adnan tetap resah.
Gaji yang ditawarkan lumayan besar, Hampir sama dengan upah yang ia terima di tempat bekerja nya dulu. Cukup untuk menafkahi istri nya. Hanya saja ia harus siap bekerja dan bertemu setiap hari dengan arin.
Atas izin sang istri. Adnan diperbolehkan untuk mencoba menjadi pegawai ditempat arin. Dengan tergesa-gesa ia pergi menuju ke sebuah tempat yang letak nya tak jauh dari gedung serbaguna.
"Aku berangkat dulu." Adnan tak sempat menoleh ke istri nya. Sebab, ia sudah terlambat.
"Hati-hati." Teriak alika.
"Mau kemana adnan?" Tanya bu lyla yang muncul dari tepat setelah adnan berangkat untuk interview.
"Kak adnan dapat panggilan pekerjaan." Jawab alika seraya menggiring ibu mertua nya masuk.
"Alhamdulillah.. adnan sudah dapat pekerjaan."
"Mau dimasakan apa bu?" Alika menawari bu lyla.
"Tidak usah masak. Kebetulan ibu bawa makanan." Beliau mengangkat satu tangan nya yang menenteng 2 kantong plastik berukuran sedang.
__ADS_1
"Pasti makanan kesukaan kak adnan!" Seru alika.
"Bukan hanya kesukaan adnan. Tapi, kesukaan alika juga." Sahut bu lyla sambil tersenyum bahagia.
Sementara itu ditempat lain adnan sedang berkutat dengan berkas-berkas yang dibawa nya, Sebagai persyaratan untuk masuk kerja.
Di dalam antrian yang cukup panjang, Ia berusaha menghilangkan perasaan gugup nya. Dengan menghirup nafas dan mengeluarkan nya secara perlahan serta berulang kali.
Sesekali adnan menyampingkan badan nya untuk melihat siapa orang yang bertugas mengatur jalan nya wawancara.
Ternyata seorang wanita cantik berpostur tubuh bagus tengah memanggil satu persatu calon pegawai.
'Seperti nya dia arin.' Pikir adnan.
Dengan ragu ia maju satu langkah. Dugaan nya ternyata benar. Dia arin.
"Apa kabarmu ?" Segurat senyuman itu mengingatkan nya pada pertemuan nya pertama kali.
"Aku sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja." Jawaban singkat dari adnan yang hanya menyisakan kecanggungan antara mereka berdua.
__ADS_1
"Seharus nya kau banyak makan makanan berserat. agar pencernaan mu lancar." Sekedar pengingat dari arin untuk adnan.
Kedua nya jadi nampak asing. Tak saling menyapa dengan hangat. Meski begitu adnan harus bersikap biasa saja, Untuk meminimalisir rasa gugup yang terus mendera diri nya.
"Apa kau tak bisa menyembunyikan nya dari ku?" Ucap arin saat melihat mimik wajah adnan yang sedikit gugup.
"Kapan giliran ku?" Tanya adnan.
"Setelah ini kau akan dipanggil. Tunggu saja dikursi yang telah disediakan disana." Jawab nya.
"Baiklah."
"Sayang, apa kau lelah?" Seorang pria menghampiri arin, Disaat adnan hendak melangkah kaki nya menuju ruangan interview.
Pria itu terlihat tampan. Ia memijit pundak arin sambil bercanda. Mereka tampak seperti sepasang kekasih. Arin juga membalas perlakukan nya dengan baik.
Dia memberi mantan kekasih adnan tersebut, Sebuah botol yang berisi Syrup rasa semangka. Syrup favorit adnan.
"Aku tidak lelah. Aku hanya sedang tidak kesal pada seseorang. Jika bukan karena sena aku tidak mau menerimanya menjadi pegawai ku. Aku muak dengan sikap nya yang dingin. Begitupun dengan gadis itu." Ucap arin dengan sinis.
__ADS_1
Adnan yang mendengar samar-samar ucapan nya seketika down. Ia tak menyangka arin bisa berkafa seperti itu.
BERSAMBUNG~~