
1 minggu kemudian alika telat datang bulan, Dan ia benar-benar mengalami gejala seperti orang yang tengah mengandung. Adnan pun memberikan istri nya tersebut testpack.
Alika memakai nya untuk memastikan apakah dia positif hamil atau tidak. Lama di kamar mandi, Akhir nya ia keluar dengan memasang wajah bahagia.
Adnan sudah bisa membaca isi hati istri nya. Pasti hasil nya tidak mengecewakan. Alika menunjukkan testpack itu pada adnan.
"Alhamdulillah... terima kasih." Adnan memeluk sang istri seraya mencium puncak kepala nya. Ia sangat bangga pada alika yang mau menepati janji nya setelah lulus sekolah.
"Sama-sama,kak." Kecanggungan yang pernah terjadi antara kedua nya sudah hilang. Mereka berdua bersikap layak nya pasang suami istri.
"Mudah-mudahan kau selalu diberi kesehatan dan kekuatan." Ucap adnan.
"Iya, kak."
"Aku akan memberikan hadiah special karena kau hamil." Sang suami memberikan sebuah kotak. Dan saat dibuka ternyata itu adalah kartu Atm.
"Pakai itu untuk keperluan kuliah mu." Lanjut adnan.
"Maksud nya?"
"Setelah kau melahirkan anak pertama kita. Aku izinkan kau melanjutkan pendidikan mu." Suami nya menegaskan.
"Tapi.."
"Aku mohon terimalah. Aku ingin melihat kau mewujudkan impian mu. Aku akan menyewa jasa pengasuh anak untuk membantu meringankan tugas mu." Ujar adnan.
"Terima kasih banyak." Mata alika berkaca-kaca karena sulit mengungkapkan perasaan bahagia nya.
"Kau sangat pintar. Sangat disayangkan wanita sepintar diri mu harus memutuskan cita-cita hanya karena menikah dini." Ucap adnan dengan penuh perasaan.
Tanpa diduga alika memeluk suami nya. Ia sudah tidak ingin membatasi diri nya. Karena bagi alika, Sang suami adalah orang yang akan terus bersama nya sampai maut memisahkan.
Seluruh hidup nya sudah ia serahkan untuk mengabdi pada adnan.
'Aku belum sepenuh nya dapat mencintai mu. Tapi, kau selalu membuat ku luluh dengan semua prilaku mu.' Batin adnan. Ia mengelus rambut istri nya seraya mengembangkan senyum bahagia.
Pokok nya adnan merasa sangat beruntung dan bersyukur.
***
__ADS_1
Ditengah-tengah kehidupan rumah tangga mereka yang harmonis. Masalah mulai berdatangan satu persatu.
Wanita itu masih mengusik kehidupan sang suami. Ditempat kerja arin selalu mencari-cari kesalahan adnan. Ia kerap kali dipanggil keruangan nya, Hanya karena hal sepele.
Selain itu, ia juga berhati dingin. Dia tidak peduli dengan kesehatan pegawai nya. Arin sering memerintah seluruh pegawai nya kerja sampai larut malam.
"Tidak biasa nya bu arin bersikap seperti itu." Terdengar suara orang dibelakang adnan yang tengah membicarakan arin.
"Iya. Sejak pernikahan nya gagal dan dekat dengan pria itu, Arin banyak berubah. Tidak seperti dengaan mantan kekasih nya dulu." Timpal yang lain.
"Dulu dia dikenal lemah lembut dan baik pada semua orang." Mereka belum menyadari sedang berbincang di belakang adnan.
"Bu arin sangat rapuh. Dia butuh cinta. Tapi, kedua orang tua nya tidak memberikan itu. Kehidupan nya sangat sempurna. Apapun yang dia inginkan bu arin bisa dapatkan dengan mudah. Namun, dia kurang beruntung dalam percintaan." Ucapan orang itu membuat adnan sedikit tersinggung.
Bagaimana bisa mantan kekasih nya, Dibicarakan yang tidak-tidak. Ia hampir tersulut. Tapi, adnan berhasil menahan emosi nya. Jangan sampai meluap-luap di hadapan mereka. Bisa-bisa karir adnan berhenti sampai disini jika itu terjadi.
'Sabar.' Ia mengelus dada nya. Lalu, berbelok ke arah kanan, Menuju ruangan bekerja nya.
"Bukan nya itu adnan, ya?" Orang yang membicarakan arin baru menyadari keberadaan adnan, Setelah ia hendak pergi ke ruangan nya.
"Ouh iya.... itu adnan. Yaampun bagaimana ini?"
"Tidak tau.."
Adnan tiba diruangan nya. Tanpa memikirkan obrolan dua orang tadi. Toh! dia tidak mengenal nya. Jadi, ia biarkan saja.
Ia mengecek pekerjaan nya sebelum waktu bel masuk berbunyi.
Pikiran nya masih tidak karuan, Sejak arin terus menerus menyalahkan nya hanya karena hal sepele.
Ia tidak paham apa yang salah pada pekerjaan nya. Padahal adnan sering mengecek berulang kali dengan teliti, Sebelum diserahkan pada arin.
"Permisi kak adnan! Maaf menganggu, Saya kesini disuruh sama mbak arin. Kata beliau kakak ditunggu di ruangan atas." Seorang pegawai magang suruhan arin, Datang untuk membawa adnan kehadapan nya.
"Iya."
"Mengapa kau masih diam disana?" Tanya adnan yang masih melihat pegawai magang tersebut, Diam diambang pintu.
"Aku tidak boleh pergi, Sampai kak adnan mau memenuhi perintah mbak arin." Ucap nya.
__ADS_1
"Baiklah." Mau tidak mau adnan terpaksa mengikuti nya.
Ia hanya mengikuti kemauan pegawai itu.Karena adnan tidak ingin lagi melihat nya dibentak-bentak, Seperti kemarin lusa. Yang disebabkan oleh diri nya.
Sesampai nya diruangan arin. Wanita itu langsung melampiaskan emosi nya pada adnan.
"Pekerjaan mu itu masih kurang optimal. Kata nya kau ahli dibidang ini. Tapi, laporan ini membuktikan jika kau tidak kompeten." Makin hari prilaku arin makin menjadi. Padahal adnan mengerjakan nya dengan baik.
"Akan kuperbaiki." Ucap adnan. Ia mencoba mengalah demi menghindari perdebatan.
"TIDAK USAH! lanjutkan saja pekerjaan yang lain nya. Bukankah tugas mu masih banyak." Ketus arin.
Adnan berusaha menahan emosi nya, Ia harus banyak bersabar menghadapi arin.
"Punya istri masih muda memang tidak mudah, ya? Kau harus bersabar menghadapi nya karena dia belum mahir dalam segala hal." Adnan masih terima, Jika pekerjaan nya dimaki-maki. Tapi, yang satu ini dia sangat keterlaluan.
"Jangan hina istri ku!" Bela adnan.
"Cckk.. naif sekali."
"Apa yang kau inginkan dari ku?"
"Sangat disayangkan kau menikah dengan bocah ingusan itu. Dia dan keluarga nya hanya ingin memanfaatkan mu saja." Kata-kata arin sangat kurang ajar. Dia sudah melewati batas.
"Cukup! Meninggalkan ku saja kau sudah membuat aku dan ibu kecewa. Sekarang, kau malah menghina istriku. Biarpun alika masih muda dia jauh lebih baik daripada diri mu." Ucap adnan berapi-api.
Wajah arin seketika merah padam. Rahang nya mengeras karena menahan rasa cemburu. Beberapa saat kemudian, Arin berusaha menjaga citra nya kembali.
Ia pura-pura tidak peduli dengan ucapan adnan.
"Cckk... gadis seperti dia hanya ingin mengambil keuntungan dari mu."
"Kau bukan arin yang dulu lagi. Aku sangat kecewa pada mu." Adnan pergi begitu saja. Ia tidak ingin menimbulkan keributan.
Membalas setiap ucapan nya yang menyakitkan, Sudah cukup membuat adnan tersiksa. Apalagi sampai bertengkar hebat dengan nya.
Arin, memang sudah berubah. Jauh lebih buruk dari pada ia meninggalkan nya demi menikah dengan pria lain.
Semua kenangan manis dengan nya. Kini, telah hancur oleh sikap arin yang buruk.
__ADS_1
"Kau keterlaluan,arin." Gumam adnan dengan nada kemarahan.
BERSAMBUNG~~